Ternak, Budaya, dan Pangan Kita

0
ANAK SAPI

Foto Ilustrasi - Sapi salah satu ternak yang memberikan manfaat besar bagi kehidupan termasuk untuk menopang ketahanan pangan Indonesia.

Tanggal 2 Oktober bukan hanya dikenal sebagai Hari Batik Nasional, tapi juga diperingati sebagai Hari Ternak Sedunia (World Farm Animals Day). Dua peringatan ini tampak berbeda, namun keduanya sama-sama mengingatkan kita pada hal penting, hubungan erat manusia dengan identitas dan sumber kehidupannya. Kalau batik adalah lambang budaya, maka ternak adalah simbol pangan dan keberlangsungan hidup kita.

Sejak dulu, hewan ternak telah hadir di tengah kehidupan manusia. Di desa-desa, sapi, kambing, ayam, atau bebek bukan sekadar sumber pangan, tapi juga tabungan keluarga. Seekor sapi bisa jadi biaya sekolah anak, kambing bisa jadi modal menikah, sementara ayam bisa jadi penghidupan harian.

Kita mungkin tidak selalu menyadari, tapi setiap hari kita bersentuhan dengan hasil ternak, susu di gelas pagi, telur di meja sarapan, daging untuk lauk makan siang, hingga pupuk kandang yang membuat sawah tetap subur. Kehadiran ternak begitu melekat dalam hidup kita, sering kali tanpa kita sadari.

Di Indonesia, ternak bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga budaya dan spiritualitas. Dalam upacara adat, banyak hewan ternak yang dijadikan bagian dari tradisi, sebagai simbol penghormatan dan kebersamaan. Dalam ajaran agama, hewan ternak juga punya peran penting. Misalnya, pada perayaan Idul Adha, umat Islam mempersembahkan hewan ternak sebagai bentuk ketaatan dan solidaritas sosial.

Hal ini menunjukkan bahwa ternak bukan sekadar “komoditas”, melainkan bagian dari kehidupan sosial, budaya, bahkan iman. Mereka hadir dalam cerita kita sebagai bangsa agraris yang sejak dulu hidup berdampingan dengan alam.

 

Itik Alabio. (Foto-BPTU-HPT Pelaihari).

Tantangan, Etika dan Pangan Berkelanjutan

Namun, seiring berkembangnya zaman, hubungan manusia dengan ternak sering kali berubah. Ternak diperlakukan hanya sebagai “mesin pangan” tanpa memperhatikan kesejahteraannya. Industri besar di dunia kerap dituding mengabaikan etika dalam pemeliharaan.

Indonesia pun punya tantangan yang sama. Masalah kesehatan hewan, kebersihan rumah potong, hingga kesejahteraan ternak perlu terus diperhatikan. Karena kesejahteraan ternak pada akhirnya berhubungan langsung dengan kualitas pangan yang kita konsumsi dan kesehatan masyarakat.

Hari Ternak Sedunia seharusnya menjadi momentum untuk kembali merenungkan hubungan kita dengan hewan ternak. Mereka bukan hanya penghasil daging, susu, atau telur, tetapi juga bagian dari rantai kehidupan yang saling terhubung. Merawat ternak dengan baik berarti menjaga pangan kita tetap sehat, budaya kita tetap lestari, dan lingkungan kita tetap terjaga.

Maka, di tanggal 2 Oktober ini, mari kita ingat bahwa merawat ternak bukan hanya urusan peternak atau pemerintah. Ia adalah tanggung jawab bersama,karena di balik hewan ternak, tersimpan cerita tentang budaya, pangan, dan masa depan kita semua.(Ridzky Husna).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!