Wisata Bersih, Warisan untuk Generasi Mendatang
Ketua Umum Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia, Agus Pahlevi, berdiskusi ringan dengan Komedian Cak Lontong saat bertemu di Bali beberapa saat lalu.(Foto-Risanta).
Oleh Agus Pahlevi
Setiap kali kami mengunjungi destinasi wisata, baik itu pantai, gunung, maupun desa wisata, selalu merasa ada tanggung jawab moral yang melekat. Bukan sekadar bagaimana mengemas destinasi agar menarik bagi wisatawan, tetapi bagaimana menjaga agar tempat itu tetap lestari, sehat, dan nyaman untuk generasi mendatang.
Melalui Gerakan Wisata Bersih Nasional, kami di Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia (ASPPI) ingin menghadirkan wajah baru pariwisata Indonesia: pariwisata yang tidak hanya berbicara keindahan alam dan budaya, tetapi juga kepedulian terhadap kebersihan dan kelestarian lingkungan.
Tahun ini, gerakan kami digelar di 23 destinasi wisata Nusantara. Ada pantai yang selama ini dikenal karena keindahannya, tetapi juga menghadapi tantangan serius akibat sampah plastik, seperti Pantai Kuta di Bali, Pantai Losari di Makassar, dan Pantai Ancol di Jakarta. Ada pula kawasan pesisir yang rentan abrasi, sehingga penanaman mangrove menjadi kebutuhan mendesak, seperti di Karimunjawa, Cilacap, dan pesisir Kalimantan Selatan.
Di sisi lain, destinasi berbasis alam seperti Gunung Bromo di Jawa Timur, Kawah Putih di Bandung, dan Danau Toba di Sumatera Utara, juga kerap menghadapi persoalan sampah yang ditinggalkan wisatawan. Bahkan, di banyak desa wisata, seperti di Yogyakarta atau Bali Utara, kesadaran masyarakat untuk mengelola limbah masih perlu diperkuat agar tidak mengganggu kenyamanan dan citra pariwisata berkelanjutan.

Bagi kami, pelaku pariwisata, menjaga kebersihan destinasi bukanlah tugas tambahan, melainkan bagian inti dari profesi. Kami sadar, wisatawan datang bukan hanya untuk berfoto, tetapi juga untuk merasakan suasana, udara, dan energi yang sehat. Jika destinasi kotor, tercemar, atau rusak, maka hilanglah daya tarik itu.
Oleh sebab itu, dalam gerakan ini kami tidak hanya menggelar aksi bersih-bersih, tetapi juga walking tour untuk menumbuhkan kesadaran, serta penanaman mangrove untuk merawat ekosistem. Kami ingin masyarakat memahami bahwa wisata bersih bukan sekadar kegiatan satu hari, melainkan budaya baru yang harus hidup di setiap destinasi.
Kami selalu menekankan, bahwa pariwisata adalah wajah bangsa. Apa yang dilihat wisatawan di destinasi adalah cermin kita. Jika bersih dan tertata, mereka akan membawa cerita indah ke negaranya. Namun jika kotor dan tidak terawat, maka yang dibawa pulang adalah kesan buruk.
ASPPI sendiri mengajak seluruh pihak , apakah itu pemerintah daerah, komunitas, pelaku usaha, hingga wisatawan , untuk bersama-sama mendukung gerakan ini. Hanya dengan kebersamaan, kita bisa memastikan bahwa Indonesia siap menghadapi tantangan pariwisata global. Wisatawan dunia semakin selektif, mereka mencari destinasi yang tidak hanya indah, tetapi juga berkomitmen pada keberlanjutan lingkungan.
Melalui Gerakan Wisata Bersih Nasional, kami berharap lahir budaya baru, bahwa menjaga kebersihan dan kelestarian adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kegiatan berwisata. Dengan semangat kebersamaan ini, Indonesia tidak hanya menjadi tujuan, tetapi juga inspirasi dunia dalam mewujudkan pariwisata berkelanjutan.
Karena pada akhirnya, menjaga wisata bersih berarti menjaga warisan untuk generasi mendatang.
*Penulis adalah Ketua Umum Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia / Akademisi
