Go Big, Go To Public, Menakar Peluang Pasar Modal dari Banjarmasin
Foto Ilustrasi - Kepala Kantor Perwakilan Bursa Efek Indonesia (BEI) Kalsel, Yuniar, dalam Workshop Wartawan Kalsel, Kamis (12/06/2025), di Pasang Dalam Café, Banjarmasin.
Di tengah derasnya arus perubahan ekonomi global, pasar modal Indonesia menunjukkan sinyal positif. Pertumbuhan jumlah investor yang terus melonjak menjadi bukti nyata. Sejak 2018 hingga kini, jumlah investor meningkat lebih dari sepuluh kali lipat, menembus 17 juta orang pada 2025. Kemajuan teknologi digital dan meningkatnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya berinvestasi menjadi faktor pendorong utama tren ini.
Bagi perusahaan, kondisi ini memberi peluang besar. Pasar modal bukan hanya tempat menggalang dana, tetapi juga arena untuk memperluas sayap, memperkuat tata kelola, serta meningkatkan kredibilitas di mata publik. Tak heran, semakin banyak perusahaan yang melirik langkah strategis untuk Go Public. Namun, jalan menuju lantai bursa tidak sesederhana menekan tombol. Ada prosedur, persyaratan, hingga kesiapan manajemen yang harus dipenuhi agar perusahaan benar-benar siap menghadapi dinamika pasar.
Banjarmasin dan Denyut Pasar Modal Daerah
Kalimantan Selatan pun tak ketinggalan dalam geliat ini. Data dari Bursa Efek Indonesia (BEI) Perwakilan Kalimantan Selatan mencatat, per Juli 2025 jumlah investor di daerah ini mencapai 192.423 orang, dengan total nilai transaksi lebih dari Rp1,9 triliun. Angka tersebut bukan sekadar statistik, tetapi cerminan tumbuhnya literasi dan partisipasi masyarakat Banua dalam dunia pasar modal.
Melalui kegiatan edukasi seperti Go Big, Go to Public, BEI menghadirkan sarana berbagi pengetahuan, membuka wawasan, sekaligus menjembatani dunia usaha dengan pasar modal. Perusahaan lokal kini punya ruang untuk bermimpi lebih besar: tidak hanya berjaya di tingkat daerah, tetapi juga bersaing di kancah nasional, bahkan internasional.

Pertanyaan besar kemudian muncul, strategi apa yang harus ditempuh agar perusahaan tidak sekadar “masuk bursa”, melainkan juga tumbuh berkelanjutan di dalamnya?
Pertama, perusahaan perlu memperkuat fundamental bisnis. Investor kini makin cerdas dan selektif. Transparansi, tata kelola yang baik, dan kinerja yang konsisten menjadi kunci kepercayaan.
Kedua, pemanfaatan teknologi digital tidak bisa ditawar. Mulai dari pengelolaan data, komunikasi dengan investor, hingga transformasi layanan, digitalisasi menjadi fondasi untuk bertahan dan tumbuh.
Ketiga, membangun brand yang kuat. Go Public berarti membuka diri pada publik, dan reputasi menjadi modal yang tak kalah penting dari laporan keuangan.
Dari perspektif lokal, Kalimantan Selatan memiliki potensi besar, terutama dari sektor energi, pertambangan, perkebunan, hingga usaha kecil yang mulai bertransformasi. Regionalnya, pasar modal Indonesia sedang dalam momen emas: investor domestik mendominasi transaksi, menunjukkan ketahanan pasar dari guncangan eksternal. Secara global, tren ESG (Environmental, Social, and Governance) membuka pintu bagi perusahaan Indonesia untuk menarik perhatian investor internasional yang semakin peduli terhadap keberlanjutan.
Bursa Efek Indonesia lewat program Go Big, Go to Public bukan hanya mengajarkan teknis pencatatan saham, tetapi juga menginspirasi perusahaan agar berani bermimpi lebih besar. Dari Banjarmasin, denyut semangat itu terdengar: perusahaan lokal bisa melangkah ke bursa, masyarakat bisa lebih bijak berinvestasi, dan Indonesia bisa tampil sebagai pasar modal yang tangguh serta berdaya saing global.
Go Public bukan akhir perjalanan, melainkan awal dari sebuah lompatan besar.

