Di Balik Satu Sinyal, Cerita Harapan Mereka di Luar Sana

0
FOTO LOMBA INDOSAT

Foto Ilustrasi - Siswa SMP memanfaatkan perpustakan untuk mencari bahan bacaan selain melalui online. (Foto - M.Risanta).

Banyak cerita yang mestinya kau saksikan, begitu salah satu larik Maestro Balada Pop Indonesia, Ebiet G Ade mengambarkan sisi lain sebuah perjalanan.Tak hanya untuk refleksi satir bencana, Berita Kepada Kawan, seakan memperlihatkan potret lain wajah Indonesia, akan kesunyian.

Kesunyian sebuah diksi sederhana tergambar tentang mereka yang berada di pinggiran dan terluar serta terpencil.Serba keterbatasan komunikasi menjadi sisi lain sejumlah kawasan di Indonesia, yang terbentang dari Sabang hingga Merauke.

Di tempat mereka matahari terbit dan tenggelam dengan ritme yang sama, dan suara alam adalah satu-satunya irama yang mengisi udara.Ternyata susah sinyal masih membekap sebagian wilayah Indonesia termasuk Kalimantan Selatan puluhan tahun lamanya.Kondisi geografis sebagian topografi pegunungan, infrastruktur yang belum memadai serta masalah teknis lainnya adalah sebagian penyebabnya.

Tapi itu dulu !, karena sekarang perlahan namun pasti sebagian besar langit Indonesia dan juga Kalimantan Selatan memiliki “energi” jaringan komunikasi yang mengubah semuanya.Sejumlah menara telekomunikasi seperti Indosat (BTS) kini berdiri kokoh, memancarkan gelombang yang mengubah segalanya. Bukan sekadar sinyal, ini adalah benang penghubung yang merangkai kembali takdir, membawa harapan yang telah lama terkubur.

Dibalik satu sinyal, ada pula kisah-kisah yang menyentuh hati. Sinyal ini telah menjembatani jarak, menghangatkan hubungan, dan menghadirkan kembali rasa kedekatan yang nyaris hilang. Bahkan satu sinyal mampu mentransformasi kesenyapan menjadi sebuah harapan.

 

Dua Tenaga P3K salah satu instansi di Kalsel menikmati kemudahan sinyal di kawasan lereng pegunungan Meratus. (Foto – M.Risanta).

Setidaknya ini membuat Zubaedah seorang perempuan paro baya yang sehari-hari adalah pengrajin anyaman purun dan kue khas Banjar bisa tersenyum bahagia. Warga Rantau Badauh, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan mengaku bersyukur kampungnya sudah ada “energi sinyal”.

“Dulu, saya sama suami harus menempuh perjalanan berjam-jam ke kota terdekat hanya untuk menjual karyanya. Pendapatannya tak seberapa, tak sebanding dengan keringat yang kami curahkan. Kini, dengan koneksi internet, seperti sinyal Indosat, saya dan sebagian warga disini bisa memasarkan anyamannya melalui media sosial. Pesanan pun datang dari berbagai kota,” cerita Zubaedah, kepada Economic Travelling.Com, Kamis (21/08/2025).

Bagi Zubaedah,  di tangannya, sebuah smartphone bukan lagi hanya alat komunikasi, melainkan jendela yang membuka pintu pasar global.Melalui sarana komunikasi ini ia bisa melihat dunia dan belajar banyak bagaimana mendesain produk anyaman yang memadukan gaya kekini-kinian yang disukai penikmat kriya dan kerajinan khas Banjar.

Di sudut lain desa, ada kisah Machfur. Sebagai seorang siswa SMP, ia sering merasa tertinggal dan terbatas mendapatkan pengetahuan terbarukan dari sekolah yang berada di ujung kampung lereng bukit Taman Hutan Raya (Tahura) Sultan Adam, Mandiangin, Kabupaten Banjar.

Buku-buku di perpustakaan sekolah terbatas, dan ia hanya bisa mendengar cerita tentang ilmu pengetahuan dari guru. Bahkan majalah-majalan lama milik sang ayah pun  menjadi sisi lain yang ia bisa baca mengisi kekosongan waktu.

Sejak sinyal hadir, ia tak lagi terhalang. Ia bisa mengakses video pembelajaran, mengikuti kuis daring, dan bahkan berinteraksi dengan siswa lain di kota. Machfur pun serasa mendapat energi spirit merengkuh harapan, seperti harapan kedua orangtuanya bisa kuliah di Banjarmasin atau ke pulau Jawa.

“Sekarang ulun (saya,red) merasa mimpi untuk kuliah tidak terlalu jauh,” ujarnya dengan mata berbinar memainkan gadget di tangan.

 

Penulis bersama sejumlah Dosen mengunjungi kawasan destinasi wisata hutan tropis, Lembah Kahung, Belangian, Aranio, Kabupaten Banjar, yang sempat susah sinyal. (Foto – M.Risanta).

Bagusnya sinyal hampir disebagian wilayah di Banua (sebutan lain daerah di Kalsel) terutama dari Indosat memberikan secercah harapan untuk pengabdian di dunia pendidikan. Setidaknya ini dirasakan Israul Huda, Dosen Muda di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Pancasetia Banjarmasin.

“Dulu itu mahasiswa kami yang kebanyakan berada di daerah pegunungan seperti Loksado, Awayan dan Balangan harus mencari titik yang ada sinyalnya untuk kuliah secara online, terutama saat pandemi Covid-19 lalu,” tutur Israul Huda.

Israul Huda saat itu harus mengatur waktu dan memberikan kenyamanan bagi mahasiswanya di pedalaman Kalimantan Selatan.Maklum saja mereka harus puluhan kilometer dari rumah mencari sinyal. Tak heran jika sebagian mahasiswa saat menggelar zoom meeting, ada duduk dekat pohon di kebun mendengarkan dirinya presentasi mata kuliah.

“Lucunya mereka bawa anak dan istri seperti piknik. Saking semangatnya mau belajar di daerah yang sudah sinyal. Tapi Alhamdulililah sekarang online lancar. Karena di kampus kami yang dikenal sebagai Kampus Gila Marketing, perkuliahan ada online dan offline,” terang Israul Huda yang juga pelatih Tim Arung Jeram Kalsel.

Kabar baik ini mengungkap ada ribuan cerita tentang harapan yang kembali tumbuh. Di daerah terpencil, sinyal ini bukan hanya teknologi, melainkan simbol bahwa di mana pun mereka berada, tak ada lagi yang harus merasa sendirian. Bahwa setiap orang, di mana pun mereka berada, berhak mendapatkan kesempatan yang sama untuk meraih impian mereka.

 

Anak-anak di salah satu dusun terpencil di lereng Pegunungan Meratus, Kalsel. (Foto – Dok Tim Si Bolang Trans7).

Indonesia boleh saja beruntung dengan hadirnya perusahaan telekomunikasi digital sekelas PT Indosat Tbk. Entitas besar yang dikenal juga sebagai Indosat Ooredoo Hutchison (IOH), adalah perusahaan menyediakan berbagai layanan telekomunikasi seperti layanan seluler (prabayar dan pascabayar), layanan suara, layanan internet, dan lainnya.

Perusahaan yang sekarang dipimpin seorang CEO bernama Vikram Sinha, memiliki peran penting dalam mengatasi masalah “susah sinyal” di Indonesia dengan terus berupaya memperluas dan memperkuat jangkauan jaringannya.

Provider telekomunikasi yang terkenal dengan dengan merek-merek seperti IM3 Ooredoo dan Tri (3) telah  meningkatkan kapasitas jaringan, menambah BTS (Base Transceiver Station), dan memperkuat backbone fiber optic di berbagai wilayah, termasuk di luar Jawa dan Indonesia Timur maupun Kalisumapa (Kalimantan, Sulawesi,Maluku dan Papua). Indosat juga menggunakan teknologi AI untuk mengantisipasi gangguan dan menyediakan layanan pelanggan yang responsif.

Terbaru Indosat Ooredoo Hutchison (IOH), 17 September 2024 lalu telah meluncurkan Layanan Indosat HiFi Air. layanan ini sebelumnya dikenal sebagai MNC Play yang kemudian bertransformasi menjadi Indosat HiFi. Layanan ini merupakan layanan internet rumah berbasis fiber oftic       (FTTH) yang diluncurkan untuk memperluas jangkauan layanan internet IOH.

“Peningkatan infrastruktur fiber optic juga dilakukan untuk memastikan stabilitas jaringan dan kecepatan internet yang lebih baik. Indosat memanfaatkan teknologi AI untuk mengantisipasi gangguan jaringan dan memberikan respons yang lebih cepat terhadap masalah yang mungkin terjadi,” kata EVP Head Of Circle Kalisumapa Indosat Ooredoo Hutchison, Swandi Tjia, kepada awak media dalam berbagai kesempatan.

Indosat juga bekerja sama dengan pemerintah dalam upaya meningkatkan kualitas jaringan dan memastikan pemerataan akses telekomunikasi. Dengan upaya-upaya ini, Indosat berusaha untuk memastikan bahwa masyarakat Indonesia, di berbagai wilayah, dapat menikmati layanan telekomunikasi yang andal dan berkualitas, serta terhubung secara merata.

Ini adalah bukti nyata bahwa pemerataan ekonomi digital bukan sekadar wacana. Melalui satu sinyal, Indosat tidak hanya membangun infrastruktur telekomunikasi, tetapi juga membangun fondasi harapan, memastikan setiap insan di seluruh pelosok Indonesia bisa menjadi bagian dari narasi kemajuan bangsa. Inilah makna dari satu sinyal, sebuah investasi sosial yang fundamental, yang melahirkan sejuta harapan untuk hari esok yang lebih cerah. (Muhammad Risanta).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!