“Menanti Tuah Hilirisasi” Kalsel Bergerak Cepat, Ekonomi Bertumbuh Pesat

0
MENTAN TBM

Foto Ilustrasi - Salah satu aktivitas perkebunan kelapa sawit PT Tri Buana Mas, di Candi Laras Utara, Kabupaten Tapin, Kalsel. (Foto-Olpah Sari).

Kalimantan Selatan adalah daerah yang dianugerahi kekayaan alam yang melimpah.Sebagai sorga tersembunyi diantara rimbunnya hutan dan pegunungan Meratus, Kalsel menyimpan “harta karun” yang tak pernah habis jika dikelola dengan baik dibawah sentuhan sense of bussines.

Kalsel tak mesti terhanyut dalam buaian begitu harapan sebagian besar orang.Karena kekayaan alam mesti dijaga dan dikelola tanpa harus menghabiskan begitu saja tanpa perencanaan yang terukur.

Kalsel sendiri sebuah panggung bisnis bagi para investor, karena siap disemai benih-benih modal menjadi pohon-pohon industri, dan merajut kisah baru tentang kemakmuran yang merata di jantung Borneo.

Provinsi yang kini dipimpin duet Muhidin-Hasnur punya strategi khusus dalam memenej rencana jangka panjang pembangunan termasuk ambisius untuk hilirisasi yang tertuang dalam berbagai dokumen strategis seperti Rencana Pembangunan Industri Provinsi (RPIP).

Perencanaan ini bertujuan untuk mentransformasi struktur ekonomi daerah yang sangat bergantung pada komoditas mentah menjadi lebih terdiversifikasi, bernilai tinggi, dan berkelanjutan.

Hal ini juga memaknai pesan penting Presiden Prabowo Subianto, yang tak mau main-main dengan program hilirisasi. Dalam 8 misi pembangunan atau yang dikenal dengan nama Asta Cita, pemerintah menetapkan hilirisasi yang berlanjut ke industrialisasi sebagai salah satu program prioritas dan strategi untuk mencapai target pertumbuhan 8%.

 

Penandatanganan kerja sama Letter of Intent (LOI) pada Proyek Budidaya Ikan Bandeng terintegrasi Industri Pengalengan dan Pengolahan Limbah B3 Rumah Sakit di Kalsel. (Foto – Humas Bank Indonesia.)

Seperti dilansir investor.id upaya yang dilakukan Presiden guna mencapai Visi Indonesia Emas 2045 sekaligus memacu Indonesia agar tidak terjebak dalam pendapatan menengah (middle income trap), dan masyarakat bisa memiliki penghasilan hingga US$ 30.000 per tahun.

Presiden Prabowo bahkan memperluas hilirisasi industri terhadap 28 komoditas unggulan, tidak saja komoditas mineral seperti nikel, timah, tembaga, besi baja, emas perak, batu bara, aspal buton, dan minyak bumi, juga hasil bumi seperti kelapa, karet, getah pinus, udang, ikan TCT, rajungan, rumput laut, pasir silika, kobal, logam tanah jarang, kakao, pala, dan tilapia.

Pengamat Ekonomi STIE Pancasetia Banjarmasin, Tina Lestari SE MM, justru menilai langkah-langkah perencanaan yang diambil Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan sangat tepat. Karena menjadi strategi kunci untuk mentransformasi ekonomi daerah yang selaras juga dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.

Menurut pandangannya Kalimantan Selatan (Kalsel) berada di titik kritis untuk bertransformasi dari model ekonomi ekstraktif yang rentan menjadi ekonomi yang lebih stabil dan berkelanjutan. Ketergantungan Kalsel pada ekspor komoditas primer seperti batu bara dan kelapa sawit telah menciptakan volatilitas signifikan, yang membuatnya sangat rentan terhadap fluktuasi harga pasar global.

“Sejatinya hilirisasi mengubah model tersebut dengan fokus pada pengolahan sumber daya alam di dalam negeri khususnya Kalsel, yang membawa dampak signifikan.Kita menantikan tuah hilirisasi ini,” terang perempuan cantik yang juga Ketua Program Studi (Prodi)  Akuntansii STIE Pancasetia.

 

Pemerhati Ekonomi STIE Pancasetia Banjarmasin, Tina Lestari SE MM.

Menurut Tina Lestari, data terbaru menjadi bukti kuat urgensi hilirisasi. Pada triwulan I-2024 sesuai Data BPS Kalsel, meskipun pertumbuhan ekonomi Kalsel mencapai 4,96%, struktur Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) masih didominasi oleh sektor pertambangan dan penggalian.

Ketergantungan ini diperkuat oleh data ekspor Januari 2024, yang menempatkan bahan bakar mineral menyumbang 86,66% dari total ekspor provinsi, sementara lemak dan minyak nabati berkontribusi 9,89%. Konsentrasi ekonomi pada dua komoditas ini menggarisbawahi perlunya diversifikasi.

“Hilirisasi hadir sebagai instrumen kebijakan transformatif yang mengubah rantai nilai komoditas. Dengan memproses sumber daya alam di dalam negeri, Kalsel dapat menciptakan nilai tambah (added value) yang jauh lebih tinggi,” tambahnya lagi.

Dia pun membeberkan contoh detailnya seperti mengolah batu bara menjadi metanol atau amonia akan meningkatkan nilai jual produk secara eksponensial. Dari sudut perspektif sosial ekonomi disebutkan dampak ekonomi dari hilirisasi ini bersifat multidimensional.

 

Foto Ilustrasi -Aktivitas salah satu perkebuan kelapa sawit Astro Agro Lestari Grup. (Foto- Humas Astra Agro Lestari).

Setali tiga uang, Bank Indonesia menekankan hilirisasi dan masuknya investasi adalah strategi yang sangat penting bagi Kalimantan Selatan. Pandangan ini didasarkan pada analisis mendalam terhadap struktur ekonomi daerah yang perlu ditransformasi agar lebih kuat, berkelanjutan, dan tidak rentan terhadap gejolak eksternal.

Hilirisasi merupakan kunci untuk menggeser pondasi ekonomi Kalsel dari yang semula hanya berbasis komoditas mentah menjadi industri bernilai tambah. Bank Indonesia juga mendorong program hilirisasi dan menjemput investor dalam dan luar negeri untuk berinvestasi ke sektor non-ekstraktif dan berkelanjutan,seperti yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan.

Karena itu pula Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kalimantan Selatan Fadjar Majardi dalam berbagai pertemuan termasuk dengan kalangan media menegaskan Bank Indonesia BI memandang hilirisasi sebagai peluang untuk mewujudkan investasi hijau.

“Bank Indonesia memfasilitasi masuknya investasi di proyek-proyek berkelanjutan seperti pengolahan limbah B3 dan budidaya perikanan terintegrasi, yang sejalan dengan ekonomi ramah lingkungan,” ujarnya dalam pembukaan South Borneo Invesment Forum (SBIF) 2024, di FUGO Hotel Banjarmasin, 13/04/2024).

South Borneo Invesment Forum (SBIF) sendiri sebut Fajar adalah sarana atau platform strategis membahas lebih lanjut terkait potensi dan dukungan yang tersedia bagi pemerintah daerah di Kalsel. Dalam forum yang dihadiri perwakilan negara-negara sahabat, Kalsel menawarkan sejumlah proyek yang bisa dikerjasamakan lebih lanjut dan mendorong pertumbuhan ekonomi semakin cepat.

 

Diskusi santai Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kalsel, Fadjar Majardi dengan para Dubes Negara Sahabat di sela-sela South Borneo Invesment Forum (SBIF) . (Foto- Economic Travelling.Com)

Hasilnya di bulan Mei 2025, Kalsel investor asal Jepang tertarik berinvestasi mengelola dan mengembangkan bandeng, serta limbah bahan berbahaya dan beracun (B3).Realisasinya dibukukan dalam sebuah penandatangani kerja sama Letter of Intent (LOI) pada Proyek Budidaya Ikan Bandeng terintegrasi Industri Pengalengan dan Pengolahan Limbah B3 Rumah Sakit di Kalsel.

Optimisme akan hilirisasi mengantar Kalsel mantap melangkah menciptakan “Jantung Ekonomi Baru”. Karena sejatinya hilirisasi akan menjadi pusat vitalitas dan pertumbuhan baru bagi perekonomian daerah khususnya Kalsel.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Selatan, program hilirisasi di provinsi ini menunjukkan tren positif dan telah mencetak beberapa keberhasilan nyata dalam periode 2023-2025. Keberhasilan ini tercermin dari peningkatan nilai tambah produk dan kontribusi sektor industri terhadap perekonomian daerah.

Seperti halnya pergeseran struktur ekonomi Kalsel. Meskipun sektor pertambangan dan pertanian masih dominan, kontribusi sektor industri pengolahan secara bertahap meningkat.Tahun 2024, kontribusi sektor industri pengolahan mencapai 22% dari PDRB (Produk Domestik Regional Bruto), meningkat dari 16% pada tahun 2022. Peningkatan ini didorong oleh beroperasinya sejumlah fasilitas hilirisasi.

Demikian pula dengan keberhasilan program hilirisasi, beroperasinya optimal Pabrik pengolahan CPO menjadi biodiesel seperti PT Jhonlin Agro Raya (JAR) di Kabupaten Tanah Bumbu.Data menyebutkan pula produksi biodiesel dari pabrik ini telah berjalan konsisten dan berkontribusi pada program energi nasional. Hal ini menunjukkan keberhasilan dalam mengolah komoditas mentah menjadi produk bernilai tinggi.

 

Gubernur Kalsel H. Muhidin saat memberikan arahan pada High-Level Meeting (HLM) Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dan Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (TP2DD) Tahun 2025.(Foto-Humas Bank Indonesia).

Bagian terpenting dalam program hilirisasi adalah sektor perikanan. Badan Pusat Statistik Indonesia mencatat program hilirisasi ikan gabus (haruan) menjadi produk bernilai tambah tinggi telah menunjukkan hasil yang menjanjikan.

Potensi perikanan Kalsel cukup besar, dengan luas budidaya tambak 474.634 hektar dan kolam 41.796 hektar, serta produksi rata-rata 350 ribu ton per tahun dari tambak. Hilirisasi perikanan sendiri bertujuan untuk meningkatkan nilai tambah hasil perikanan melalui pengolahan menjadi produk turunan.

Pada Mei 2025, Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Kalsel bekerja sama dengan Universitas Muhammadiyah Banjarmasin (UMB) berhasil meluncurkan produk hilirisasi ikan haruan bernama “Sunbumin”. Produk ini berupa suplemen kesehatan dalam bentuk kapsul. Keberhasilan ini menjadi tonggak penting dalam meningkatkan nilai ekonomi ikan gabus dan membuka peluang pasar baru di sektor farmasi.

Gubernur Kalsel H Muhidin mengapresiasi seperti peluncuran produk suplemen albumin dari ikan haruan yang dikembangkan oleh universitas di Banjarmasin. Pemerintah daerah pun mendukung program hilirisasi yang berbasis pada kearifan lokal.

“Kami mengajak seluruh kepala daerah dapat memperhatikan budadiya ikan gabus di daerahnya apakah sudah berjalan dengan baik atau tidak. Bahkan, dirinya ingin seluruh kabupaten dam kota melakukan budidaya ikan gabus atau haruan, sebagai bagian menekan inflasi,” ungkapnya seusai kegiatan High Level Meeting (HLM) Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) serta Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (TP2DD) di halaman eks Kantor Gubernur Kalsel, Kota Banjarmasin pada Senin (10/03/2025).

Berkaca dari itu semua sejatinya Kalsel itu tidak lagi hanya mengandalkan sumber daya alam mentah. Sebaliknya, Kalsel telah bergerak maju dengan langkah konkret untuk mentransformasi ekonominya melalui program hilirisasi yang terbukti berhasil.Harapannya hilirisasi ini benar-benar bertuah. (Muhammad Irfani).

Muhammad Irfani, Jurnalis Economic Travelling.Com

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!