Banjar Merawat Warisan Tradisi Bubur Asyura  

0
BUBUR ASYURA

Bubur Asyura juga menjadi simbol rasa syukur atas segala berkah yang diberikan oleh Allah SWT. Doa bersama agar senantiasa diberikan perlindungan dan keberkahan.

10 Muharram menjadi hari istimewa dan disambut gembira sebagian besar masyarakat di Indonesia.Karena tanggal tersebut dikenal pula dengan Hari Asyura. Nah salah satu tradisi unik dan bertahan hingga saat ini adalah tradisi bubur Asyura.

Jika merujuk berbagai literatur Bubur Asyura adalah hidangan bubur yang kaya rempah dan biasanya dibuat pada bulan Muharram. Bubur Asyura dikaitkan dengan peristiwa penting dalam agama Islam, yaitu hari Asyura. Pada hari ini, umat Muslim memperingati berbagai peristiwa bersejarah, termasuk peristiwa penting yang terjadi pada Nabi Nuh. 

Meskipun begitu Hari Asyura memberikan makna khusus bagi masyarakat Muslim di Indonesia. Karena di hari tersebut mereka bergotong royong memasak bubur, yang tidak hanya sekadar makanan, tetapi juga memiliki makna kebersamaan, rasa syukur, dan solidaritas dalam tradisi Islam.

“Bubur Asyura juga menjadi simbol rasa syukur atas segala berkah yang diberikan oleh Allah SWT, serta sebagai ungkapan terima kasih atas peristiwa penting yang terjadi pada hari Asyura. Namun dibalik itu semua ada makna khusus merekatkan tali silaturahmi antara masyarakat,khususnya di Banjarmasin,” terang Hj Yuke, salah satu warga Banua.

 

Doa bersama para warga Komplek Suaka Indah, Sungai Lulut, Banjar, di hari Asyura.

Salah satu tokoh masyarakat Komplek Suaka Lestari Indah, Sungai Lulut, Kabupaten Banjar, sangat bersyukur dengan hari Asyura yang identik dengan bubur Asyura. Karena mereka bisa berkumpul dan bersilaturahmi seluruh kampung, selain hari lebaran.

“Alhamdulillah ini lambang kebersamaan dan silaturahmi. Karena bukan sekedar kumpul dan memasak bubur saja, tetapi kami bisa berzikir dan berdoa bersama, agar senantiasa dilindungi Allah SWT, diberikan keberkahan, harapannya rejeki selalu bertambah yang penuh berkah,” tutur Hj Yuke.

Senada dengan Rahmani “Borneo” sangat bersyukur bisa bersilaturahmi kembali dengan warga. Sebab, selain lebaran, hari keagamaan dan tujuhbelasan, mereka sangat jarang bertemu karena kesibukan masing-masing yang cukup tinggi.

 

Asyiknya emak-emak bergotong royong memasak bubur Asyura.

Pria yang kerap memparodikan liputan lewat media sosial “Dusta TV”, menilai tradisi ini memberikan makna luas akan sebuah kebersamaan berbalut silaturahmi. Lebih jauh Rahmani menyebutkan tradisi bubur Asyura menjadi bukti kekayaan budaya Islam yang sangat membumi di Indonesia.

“Alhamdulillah, sebagai warga Banua dan umat Islam, ulun pribadi sangat bangga dengan kegiatan tahun ini. Karena bukan rutinitas tahunan semata, namun kami bisa bersilaturahmi dengan warga lainnya.Bahkan ada yang bulik dari Jakarta, sekedar mengenang kebersamaan bubur Asyura,” kata pria yang disapa akrab Om Borneo.

Om Borneo dan istri pun mengajak tim Economic Travelling.Com melihat dari dekat pembuatan bubur Asyura. Di salah satu sudut teras mushola Komplek Suaka Indah, Sungai Lulut, Banjarmasin. Emak-emak terlihat mengolah bubur Asyura yang terbuat terbuat dari campuran berbagai bahan, seperti beras, daging (ayam atau sapi), sayuran (wortel, kentang, kacang panjang), dan rempah-rempah.

Umi, istri Om Borneo pun memperlihatkan kepiawaiannya memasak bubur yang memadukan bermacam sayuran dan rempah makanan Tak lupa ia memasukkan ceker ayam, daging ayam dan sapi dalam bubur bersama sejumlah bumbu-bumbu halus seperti bawang bawang putih, kemiri, kunyit, jahe, ketumbar bubuk, merica bubuk, bumbu karih banjar instan, garam, gula, kaldu jamur.

“Yang terpenting untuk menambah cita rasa, kita sajikan bubur dengan pelengkap seperti telur rebus, bawang goreng, dan sambal pedas. Mun asyik makan ini Mintuha (mertua) lewat gin kada tatagur,” ucapnya sambil bercanda. (Olpah Sari).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!