Kerennya AI Untuk Menulis Berita, Tetapi Bukan Jadi Ketergantungan
Kepala Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia, , Fadjar Majardi.bersama para narasumber Capacity Building Jurnalis 2025.
Teknologi Artificial Intelligence (AI) harus dimanfaatkan sebaik mungkin dalam menunjang pekerjaan, tak terkecuali dengan industri pers. AI sangat menungkinkan para Jurnalis bisa untuk mengolah data dan informasi dalam jumlah besar, membantu mereka menyusun konten yang lebih informatif dan berbasis data.
Meskipun begitu kemudahan AI jangan membuat ketergantungan dan menghilangkan spirit kerja sesuai fungsi pers.AI harus dipelajari dan dipahami sebagai bagian dalam menunjang pekerjaaan. Terlebih AI dapat membantu mengatasi kendala bahasa melalui teknologi terjemahan otomatis.
Ini pula mendasari Bank Indonesia Kalimantan Selatan mendorong penting Jurnalis memahami peran teknologi dalam dunia pers. Bank Indonesia sendiri memberikan kesempatan mendalam lebih jauh tentang AI dalam Capacity Building bagi Jurnalis Ekonomi se- Banua.
Kegiatan sendiri dipusatkan di kota Kandangan, mulai tanggal 24 Juni hingga 26 Juni 2025 dan sebanyak 42 Jurnalis Ekonomi dari berbagai media mengikuti acara yang dibuka langsung Kepala Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia, , Fadjar Majardi.
“Melalui pelatihan ini kami berharap para Jurnalis Ekonomi Banua semakin melek teknologi khususnya AI. Karena menjadi alat bantu dalam peliputan dan penulisan berita, khususnya di bidang ekonomi yang selalu dinamis dan bergerak dalam setiap perubahan,” ujar Kepala Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia, , Fadjar Majardi.

Dia menegaskan agar para Jurnalis menjadikan AI sebagai teknologi yang bisa menjadi mitra penting mulai dari pencarian data, penyusunan naskah, hingga analisis cepat.
“Sekali lagi AI jangan dijadikan satu-satunya sumber informasi.“AI itu ibarat alat bantu. Hasilnya tetap harus disaring, diperiksa, dan disesuaikan oleh jurnalis agar berita yang disampaikan tetap akurat dan bertanggung jawab,” ucapnya mengingatkan.
Dibantu teknologi AI menurut Fadjar, bukan berarti Jurnalis menjadi ketergantungan namun justru membuat mereka menjadi kreatif, tanpa menanggalkan intergritas dan menjalakan fungsinya sesuai UU Pers Nomor 40 Tahun 1999 dan Kode Etik Jurnalistik.
Para Jurnalis pun merasa beruntung karena mendapatkan ilmu lebih dari para pakar.Salah satunya adalah Mahendra Dwifebri Purbalaksono, M.Kom, Pakar Teknologi Ai dari Universitas Telkom, yang menyajikan pengetahuan terbarukan terkait pemanfaatan AI untuk menunjang kerja jurnalistik.
Dia pun banyak bercerita banyak bagaimana fungsi dan peran AI dalam menunjang kerja Jurnalis. Mulai dari pengenalan alat bantu seperti ChatGPT, Grammarly, hingga teknik menulis berita berbasis data ekonomi menggunakan teknologi.
“Sejati memang AI bisa mempercepat proses produksi berita, tetapi jurnalis tetap harus turun tangan memastikan konteks, akurasi, dan nilai berita tetap terjaga,” ungkapnya.

Pelatihan sendiri diapresiasi Ketua Perhimpunan Jurnalis Ekonomi Banua, Muhammad Risanta. Menurutnya pemanfaatan AI sangat penting dan sangat membantu Jurnalis dalam membuat berita. Namun bukan berarti AI adalah alat utama dalam mengolah berita.
“Jurnalis harus bisa menjalankan fungsinya sebagaimana tugas Jurnalis. Tugas Jurnalis itu adalah menulis dan menuangkan gagasan dan ide yang bisa disajikan setelah melakukan peliputan. Dan AI hanya sebagai alat membantu bukan membantu menulis apalagi untuk mencontek alias flagiat,” kata Jurnalis Senior CNN Indonesia.
Sementara tak hanya AI, dalam pelatihan ini Jurnalis pun mendapat pembekalan dan sharing ilmu dari Plt. Kepala Unit Kehumasan BI Kalsel, Tisna Faisal Ayathollah. Dia pun menyajikan gambaran strategi komunikasi Bank Indonesia dalam menyampaikan informasi ekonomi yang tepat sasaran dan mudah dipahami publik.(Olpah Sari).

