Catatan Kecil Agus Pahlevi Awal Mei 2025

0
AGUS UTAMA

Ketua Umum Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia, Agus Pahlevi, berdiskusi ringan dengan Komedian Cak Lontong saat bertemu di Bali beberapa saat lalu.(Foto-Risanta).

Indonesia Tourism Board Pengungkit Pariwisata Berkualitas

“Challenges make life interesting; overcoming them makes life meaningful.” “Do something today that your future self will thank you for.” Dua kata bijak sempat dikatakan aktor sekelas Sean Patrick Flanery (serial The Young Indiana Jones Chronicles) menggugah saya untuk menulis kembali. Meskipun tulisan tak persis sama dengan penulis atau Jurnalis kebanyakan, namun setidaknya inspirasi itu mesti dirangkaikan dalam kata sederhana yang bisa terbaca siapa saja.

Suata kebanggaan saya bisa duduk satu meja dengan teman-teman seperti Azril Azahari (Guru Besar Institut Pariwisata Trisakti), Hariyadi Sukamdani (Ketum GIPI), Erna Sari Dewi (Ketua Kelompok Fraksi Partai Komisi VII DPR RI) hingga Ni Luh Enik Ermawati (Wakil Menteri Pariwisata) serta beberapa kawan-kawan di partai Nasdem.

Yang pasti kelas Focus Group Discussion bertajuk “RUU Kepariwisataan: Penguatan Tata Kelola Pariwisata terhadap Rencana Pembentukan Indonesia Tourism Board (ITB), berbeda dengan diskusi-diskusi yang saya ikuti.Entah mengapa energi besar pemikiran berkembang bagus dalam rangkaian kalimat “Satu Rasa Satu Cinta” untuk pariwisata Indonesia.

 

Foto Ilustrasi -Wisata Volkswagen di Alas Randu adalah kegiatan wisata keliling desa-desa di sekitar Candi Borobudur dengan mobil VW Safari. Sangat menginspirasi bagi pengembangan pariwisata di daerah lainnya. (Foto-Risanta).

Seperti yang sempat dikemukakan Erna Sari Dewi, adanya perubahan perilaku bisnis pariwisata, di dalamnya ada persoalan wisatawan, gejolak pasar akibat pandemi, plus krisis iklim serta geopolitik yang tensinya “tidak baik-baik saja”, membuat kekhawatiran bersama.

Memang kegalauan yang disampaikan Erna Sari Dewi adalah fakta yang suka atau tidak suka mewarnai perjalanan industri pariwisata kita. Ironisnya memang mengakui Indonesia belum mampu menghadapi kondisi tersebut.

Bahkan Erna terang-terangan mengatakan, hingga sekarang Indonesia belum memiliki lembaga yang mewakili pariwisata.

“Kita belum punya wajah tunggal yang mewakili Indonesia di panggung internasional,” begitu katanya dilansir dari Medcom.Id
Perempuan ini pun optimistis bahwa perubahan ketiga atas UU Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan (RUU Kepariwisataan) akan menjadi UU baru yang berdaya guna.

Satu ungkapannya yang menarik adalah Kita jadikan bersama-sama RUU Pariwisata ini bukan hanya indah dalam pasal-pasalnya, tetapi tidak mandul dalam realitasnya. Kita jadikan RUU pariwisata yang akan menjadi undang-undang nanti, ada badan promosi yang tidak hanya hebat di atas kertas, tapi juga hebat di mata dunia. Realistis sekali.

 

Focus Group Discussion bertajuk “RUU Kepariwisataan: Penguatan Tata Kelola Pariwisata terhadap Rencana Pembentukan Indonesia Tourism Board (ITB) Bersama Wakil Menteri Pariwisiata, Ni Luh Puspa serta tokoh penting lainnya. (Foto – Agus Pahlevi).

Tak hanya dengan Erna saya pun sependapat pula ketika Ni Luh Puspa, Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Wamenpar), menekankan pentingnya ekonomi sirkular dalam pengembangan pariwisata yang berkelanjutan dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Bahkan Kementerian Pariwisata juga menekankan fokus pada kualitas turis mancanegara, di samping peningkatan jumlah kunjungan. Wamenpar bukan sekedar berbicara namun juga terlibat dalam promosi pariwisata Indonesia di berbagai pameran pariwisata internasional, seperti ITB Berlin.

Kita bukan sekedar mengejar kunjungan wisatawan atau turis namun ingin meningkatkan kualitas turis yang berkunjung ke Indonesia. Kualitas turis asing, dalam konteks pariwisata, biasanya merujuk pada wisatawan yang memberikan dampak positif bagi daerah tujuan wisata, baik secara ekonomi maupun sosial.

Sejatinya turis berkualitas umumnya memiliki daya beli tinggi, menghabiskan waktu lebih lama di suatu daerah, dan memiliki sikap dan tindakan yang menghargai budaya lokal, kelestarian lingkungan, dan masyarakat setempat.

 

Foto Ilustrasi – Para wisatawan menikmati suasana salah satu kawasan Bintan, Kepri. (Foto – Dok ASPPI ).

Relevansi pemikiran-pemikiran itu memang selaras dengan keinginan adanya pembentukan Indonesia Tourism Board (ITB).Dia akan menjadi rumah atau wadah Industri dan Pelaku Pariwisata. Melalui ITB, dapat mendorong produk pariwisata berkualitas dan sesuai dengan segmentasi pasar sehingga Indonesia memiliki produk pariwisata yang Siap, Layak, dan Pantas Jual, yang berdampak dan bermanfaat bagi seluruh kalangan.

Tentu untuk menuju kesana kita butuh tahapan-tahapan seperti observasi, pendataan, pembangunan sumber daya, bisnis, hingga pengembangan baik pariwisata maupun komponen pendukung lainnya.
Pariwisata sendiri adalah sebuah ekosistem, oleh karenanya di perlukan tata kelola yang baik untuk mewujudkan ekosistem sempurna. Hal ini merupakan peran Indonesia Tourism Board (ITB) melalui penyiapan tata kelola mulai dari Kelembagaan, lokasi dan potensi, promosi dan pemasaran, pengemasan produk, hingga pelayanan.

 

Foto Ilustrasi – Table Top salah satu agenda penting dalam event Travel Mart yang diselenggarakan Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia.

Dalam berbagai diskusi dan pertemuan saya pun terus menggaungkan spirit ini. Karena pariwisata kita memerlukan orang orang kompeten sesuai kebutuhan bidangnya masing-masing. Dalam penerapannya, ITB wajib melengkapi struktur lembaga dari pusat hingga ke daerah untuk mempermudah dalam percepan realisasi program, sehingga bisa bergerak secara cepat, masif dan efisien.

Indonesia Tourism Board sebagai fasilitator dan wadah komunikasi bagi asosiasi dan pengusaha di bidang pariwisata tentunya menyiapkan ruang bagi seluruh asosiasi dan pengusaha. Hal ini merupakan kewajiban bagi asosiasi dan pengusaha untuk berkontribusi baik terkait program, kebijakan hingga peraturan yang menunjang ekosistem pariwisata, sebagai bentuk komitmen terhadap ITB, sehingga harapan sebagai wadah atau rumah bisa terwujud.

“Pariwisata tidak hanya tentang destinasi dan atraksi, akan tetapi bagaimaa wisatawan datang , kunjungan meningkat dan kebermanfaatan”. (Agus Pahlevi).

*Agus Pahlevi, S.St Par, M.M Par adalah Ketua Umum Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia (ASPPI)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!