Tren Positif Pasar Modal di Kalsel

0
BEI

Foto Ilustrasi - Kepala Perwakilan Bursa Efek Indonesia Kalsel, Yuniar, memberikan edukasi investasi sehat untuk saham kepada masyarakat di Banjarmasin.

Perkembangan Pasar modal Indonesia terus menunjukkan pertumbuhan yang mengesankan di tengah dinamika ekonomi global yang penuh tantangan. Kendati sempat suspend (penghentian sementara) beberapa saat lalu, itu tidak memberikan pengaruh bagi minat masyarakat berinvestasi di perusahaan saham.

Bahkan jumlah investor yang terus meningkat, perusahaan tercatat yang terus bertambah, serta nilai transaksi harian yang kian solid.Disebutkan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) berada di jalur yang tepat menuju pasar modal yang berdaya saing.

Di Kalsel, perkembangan pasar modal menunjukkan tren positif. Hal ini terlihat meningkatnya antusiasme masyarakat untuk berinvestasi, penambahan jumlah investor baru, dan peningkatan nilai transaksi saham.

“Kinerja Pasar Modal di Provinsi Kalimantan Selatan melanjutkan tren positif. Nilai kepemilikan saham menunjukkan peningkatan signifikan, yaitu sebesar 88,91 persen, atau menjadi sebesar Rp146 triliun,” terang Kepala OJK Provinsi Kalsel, Agus Maiyo, dalam Media Update di Banjarmasin, Rabu (24/04/2025).

 

Kepala OJK Provinsi Kalsel, Agus Maiyo memberikan keterangan resmi terkait Sektor Jasa Keuangan.

Dalam paparannya di hadapan awak media, Agus menyebutkan jumlah Single Investor Identification (SID) meningkat 7,55 persen dengan kota terbanyak yaitu Banjarmasin dengan 52.268 investor, diikuti oleh Banjarbaru(19.164investor) dan Banjar (18.779 investor).

Data ini selaras dengan upaya KSEI (Kustodian Sentral Efek Indonesia) mentargetkan peningkatan jumlah investor pasar modal sebesar 2 juta Single Investor Identification (SID) pada tahun 2025. diharapkan total jumlah investor pasar modal akan mencapai 16 juta Single Investor Identification (SID). Saat ini, jumlah investor SID KSEI telah mencapai 14,58 juta.

Sementara itu OJK mencatat industri keuangan nonbank di Provinsi Kalimantan Selatan posisi Januari 2025 terjaga stabil. Piutang Perusahaan Pembiayaan meningkat sebesar 0,93 persen yoy atau menjadi sebesar Rp12 triliun. Non-Performing Financing (NPF) atau jumlah pembiayaan macet terjaga diangka 1,86 persen, lebih kecil dari NPF Nasional 2,96 persen.

Berdasarkan jenis kegiatan, pembiayaan investasi menjadi yang tertinggi di Kalimantan Selatan yaitu sebesar Rp5,8 triliun, diikuti pembiayaan multiguna sebesar Rp4,25 triliun dan modal kerja sebesarRp1,32 triliun.

Sedangkan berdasarkan sektor ekonomi, Pertambangan dan Penggalian masihmenjadi sektor dengan penyaluran tertinggi, yaitu sebesar Rp3,78 triliun. Sementara itu, 3 daerah dengan penyaluran terbesar yaitu Kota Banjarmasin (Rp3,64 triliun), Kabupaten Tanah Bumbu (Rp2,02triliun) dan Kabupaten Tabalong (Rp1,40 triliun).

Di sisi industri dana pensiun, total aset per Januari 2025 menunjukkan peningkatandengantumbuhsebesar 8,49 persen yoy dengan nilai mencapai Rp348 miliar (Desember 2024: 8,38 persen).

Pada industri fintech peer-to-peer lending, outstanding pembiayaan di Januari 2025tumbuh52,79persen yoy (Desember 2024: 55,55 persen yoy), dengan nominal sebesar Rp876 miliar. Tingkat risiko kredit macet secara agregat (TWP90) berada di posisi 1,94 persen (Desember 2024: 2,04persen). (Muhammad Irfani).

Muhammad Irfani – Jurnalis Economic Travelling.Com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!