Hari Pers Nasional Dalam Menguatkan Pers Dibekapan Digitalisasi

0
IBU NINIK 2

Dr.Ninik Rahayu (Ketua Dewan Pers Periode 2022-2025) dan Pemimpin Umum Media Economic Travelling.Com, Olpah Sari.

                Oleh Olpah Sari

Bersyukurlah insan pers dan masyarakat pers memiliki Hari Pers Nasional. Setiap 9 Pebruari, menjadi wahana pertemuan silaturahmi nasional dengan beragam isu-isu strategis dan bisa dikembangkan menjadi satu pemikiran arah membawa pers yang sehat, bermartabat, dan bermanfaat.

Hari Pers Nasional sendiri adalah satu simbol dari perjuangan dan kontribusi pers terhadap pembangunan bangsa. Sejumlah harapan pun tersemat , dengan Hari Pers Nasional ini, seluruh elemen masyarakat dapat terus mendukung dan melindungi kebebasan pers demi kebaikan bersama, untuk memberikan manfaat kepada masyarakat atau publik.

Merunut sejarah Hari Pers Nasional (HPN) bertepatan dengan Hari Ulang Tahun Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), organisasi tertua dan sarat perjalanan serta pengalaman. Penetapan ini didasarkan pada Keputusan Presiden Nomor 5 Tahun 1985 yang ditandatangani oleh Presiden Soeharto pada 23 Januari 1985.

Disebutkan dalam keputusan itu pers nasional Indonesia memiliki sejarah perjuangan dan peran penting dalam pembangunan nasional sebagai bentuk pengamalan Pancasila.

Dalam tulisan yang dilansir Kantor Berita Antara terkait sejarah Pers (Antara, 3 Pebruari 2025), Hari Pers Nasional itu memiliki makna penting dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Karena sebagai pilar demokrasi, pers memiliki peran krusial dalam menyampaikan informasi dan membentuk opini publik. Kendati diperjalanannya sempat menuai kontroversi, peringatan HPN tetap menjadi ajang refleksi bagi insan pers untuk terus memperjuangkan kebebasan dan profesionalisme dalam menjalankan tugas jurnalistiknya.

 

Salah satu aktivitas Jurnalis atau wartawan saat melakukan wawancara dengan Wali Kota Banjarmasin , H Ibnu Sina.

Banyak perspektif yang menganalogi Hari Pers Nasional dan peran pers sebagai sebuah pendewasaan insan pers yang menjadi bagian penting pada pers itu sendiri. Dari HPN juga muncul gagasan-gagasan yang bisa menguatkan pers lewat terpenuhinya sumber manusia yang berkualitas dan berdaya saing , tentunya dalam situasi disrupsi media dan datangnya kecerdasan buatan.

Suka tidak suka era disrupsi media dan hadirnya Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan, sebuah teknologi yang dirancang untuk membuat sistem komputer mampu meniru kemampuan intelektual manusia, memberikan pengaruh bagi perkembangan industri pers dewasa ini.

Memang ada kekhawatiran kehadiran AI dan majunya teknologi digitalisasi menjadi sebuah ancaman bagi industri pers, jika dianggap biasa-biasa aja. Terbukti era digitalisasi dengan disrupsi media, memang banyak media kolap terutama cetak kolaps.Bahkan banyak media besar yang tutup seiring perkembangan zaman, diantaranya Wiener Zeitung, Surat kabar tertua di dunia yang berbasis di Wina, Austria, berhenti menerbitkan edisi cetak hariannya pada 30 Juni 2023. Selanjutnya ada National Geographic, yang melakukan PHK terhadap 19 penulis terakhirnya pada 28 Juni 2023

Penutupan media cetak terjadi di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor, seperti meningkatnya biaya produksi dan distribusi. Kondisi ini diperparah dengan penurunan pendapatan dari iklan dan penjualan edisi cetak. Yang mengejutkan adalah meningkatnya preferensi masyarakat untuk mengakses berita dan informasi melalui internet.

Untuk bertahan di era digital, media cetak perlu beradaptasi dengan perubahan zaman, memanfaatkan teknologi digital, dan mencari cara baru untuk mempertahankan relevansi mereka.

 

Foto ilustrasi Peliputan banjir.

Jurnalisme yang dihasilkan AI tidak dapat menggantikan bakat, kreativitas, atau keterampilan yang dimiliki oleh jurnalis. Keberadaan teknologi tentunya harus diambil dari sisi positif dan kebermanfaatan, alat yang memudahkan kinerja tanpa menghilangkan esensi manusia dan pikiran jernihnya, dalam menjalankan tugas kejurnalistikan.

Jurnalis dan media harus benar-benar menjemput zaman dan siap menghadapi perubahan-perubahan, tanpa harus menanggalkan kewajiban memberikan sajian karya jurnalistik sesuai Kode Etik Jurnalistik dan Undang-Undang Pers Nomor 40 Tahun 1999.

Kesiapan media di era digital berarti media mampu beradaptasi dengan kemajuan teknologi dan memanfaatkannya untuk meningkatkan kualitas, jangkauan, dan keterlibatan pengguna.

Untuk bisa bersaing di era digital, sejatinya merunut para pakar, maka media perlu inovatif dalam memproduksi konten, berkolaborasi dengan platform digital. Hal terpenting media juga perlu berinvestasi dalam teknologi dan sumber daya manusia, karenanya perlu perencanaan jangka panjang bukan sekedar eforia.

Bersaing dalam circle (lingkaran) era digital, media pun harus memahami kebutuhan dan harapan masyarakat atau audiens digital. Di sisi lain media termasuk insan pers harus mengubah cara cara kerja, produksi konten, model bisnis, dan struktur organisasi, serta membangun iklim media yang disukai pembaca.

Hal terpenting adalah media garis terdepan menyajikan berita sesuai fakta dan data serta perangkat pendukung informasi yang benar dan akurat. Media menjadi garda terdepan memerangi penyebaran berita palsu (hoax). Disamping itu media juga harus siap menghadapi persaingan dengan platform media sosial. Media juga harus menyiapkan Jurnalis-Jurnalis yang kompeten dan profesional. Selamat Hari Pers Nasional.

• Penulis adalah Pemimpin Media Online Economic Travelling.Com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!