Bandung Kota Kreatif Berskala Internasional
Wamenekraf Irene Umar memberikan masukkan terkait Ekonomi Kreatif dalam diskusi diskusi kreatif Bandung Creative City of Design di Bandung Creative Hub. (Foto-Biro Komunikasi Kemenekraf).
Kota Bandung terus menebarkan inspirasi dan memberikan spirit bagi pelaku ekonomi kreatif. Kota ini pun sudah menjadi kota kreatif. Hal itu terlihat dari beberapa ruang kreatif yang tumbuh dan terus meramu ekosistem kreatif dengan banyak talenta yang mampu bersaing di kancah internasional.
Tengoklah kota Bandung memiliki beberapa sentra ekonomi kreatif, seperti Hallway, Ruang kreatif yang terletak di Pasar Kosambi, lantai 2. Hallway menjual berbagai produk industri kreatif, seperti fesyen, kuliner, musik, kerajinan tangan, dan otomotif.
Tak hanya itu sentra ekonomi kreatif Bandung lainnya adalah Patrakomala, sebagai Portal informasi dan pemetaan ekosistem ekonomi kreatif di Bandung. Patrakomala menyediakan informasi dan data dari pelaku ekonomi kreatif di Bandung
Selain itu Bandung dikenal sebagai kota kreatif yang memiliki perkembangan industri kreatif yang pesat. British Council telah mengukuhkan Bandung sebagai “Kota Kreatif” pada tahun 2007.

Di Kota kembang ini pun terdapat sejumlah subsektor ekonomi kreatif, Aplikasi, Arsitektur, Desain komunikasi visual, Desain produk, Desain interior, Fotografi, Musik, Kriya, Kuliner, Fesyen
Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Wamenekraf/Wakabekraf), Irene Umar meyakini pula bahwa sejatinya Bandung Kota Kreatif.
“Saya melihat sudah ada spirit kolaborasi di Kota Bandung. Dari sini, kita akan lihat seperti apa roadmap untuk bantu pengembangan ekonomi kreatif ke tiap daerah. Kita harus apresiasi juga konsep dari Bandung City of Design yang terus berinovasi mengembangkan ekonomi kreatif dari skala lokal menjadi regional menuju nasional sampai ke tingkat internasional,” ujar Wamenekraf Irene saat menghadiri diskusi kreatif Bandung Creative City of Design di Bandung Creative Hub, Sabtu (11/01/2025).

Irene yang dulunya CEO dan Pendiri W3GG, serta sebagai Managing Partner di Discovery Nusantara Capital, menambahkan dasar dari ekonomi kreatif itu budaya dan Indonesia begitu kaya dengan pengembangan budayanya. Contohnya, Kota Bandung yang sudah punya value, vision, personality, and positioning sebagai kota kreatif sejak tahun 2017 dan diakui UNESCO untuk Design Thinking for Government
Wamenekraf Irene juga mengapresiasi The Hallway Space dan Tab Space yang juga dikunjunginya hari ini. Kedua tempat tersebut telah jadi ruang kreatif multifungsi sehingga produk ekraf lebih mudah dijangkau semua kalangan.
“Di Bandung, kita bisa cari kuliner, produk fesyen lokal, dan hidden gem dalam ruang kreatif yang sudah terkonsep. Beberapa pejuang ekraf dari Bandung sudah go international. Tinggal mindset dan daya juang saja yang harus diasah dan bisa juga kolaborasi bersama konten kreator yang jadi corong agar produk lokal makin banyak dikenal dan dibeli. Hal ini selaras dengan Kemenekraf yang membuat asosiasi bagi konten kreator” kata Irene.
Tak hanya itu, potensi Kota Bandung sebagai Kota Kreatif bisa dilihat dari ekosistem ekonomi kreatif yang menjelma sebagai laboratorium ekspresi. Banyak perguruan tinggi yang juga punya publikasi event reguler dan ruang kreatif yang membuat asosiasi profesi bisa mendata penyebaran sektor ekraf sejauh mana punya kontribusi terhadap ekonomi daerah. Tahun lalu, ada Anugerah Kreator Bandung yang memberi apresiasi bagi para pelaku ekraf di Bandung.
Sebuah fakta menarik untuk ketahui, Bandung merupakan lokasi pembuatan film Indonesia pertama yang berjudul Loetoeng Kasarung. Film tayang perdana pada 31 Desember 1929.
Julukan “Kota Film” untuk Bandung terus melekat, terlebih pada 1987 lahir Festival Film Bandung yang menjadi ajang penghargaan bagi insan perfilman Indonesia yang terus hadir hingga saat ini.(Olpah Sari).
