Refleksi Ibnu Sina Dalam Perjalanan Banjarmasin
Penulis Bersama H Ibnu Sina, Wali Kota Banjarmasin saat kunjungan delegasi DMDI ke Malaysia.
“Be patient, because good things take more time.” “Be patient. Patience is the mother of all virtues.” Meskipun sederhana kalimat diucapkan Hrithik Roshan , seorang aktor India yang bermain di industri film Bollywood,menghentak inspirasi untuk memulai menulis sosok muda bernama Ibnu Sina.
Sabtu, 4 Januari 2025, sahabat saya Ibnu Sina merayakan Milad ke-50. Bagi sebagian besar warga Banjarmasin sosok yang satu ini fenomena. Karena sampai saat ini dia adalah Wali Kota Banjarmasin yang berhasil memegang rekor sebagai Wali Kota dua periode.
Namun tulisan bukan untuk memuji dirinya atau bagian lain sebuah pencitraan. Karena apa yang ditulis adalah rentetan buah pikiran yang memang mengalir apa adanya. Maklum saja, sebelum menjadi orang penting, antara saya dan pria kelahiran Puruk Cahu, Kalteng, dulu terkadang sama-sama menjalani kehidupan sebagai aktivis jalanan dan dakwah.
Bedanya Ibnu Sina sejak remaja menyukai dakwah, bersepeda, berorganisasi memilih berkarir di politik. Tidak dengan saya yang berawal dari seorang sekuriti, penyiar radio dan terakhir wartawan media nasional, CNN Indonesia dan Trans7 (Transmedia Grup).Tak heran jika Ibnu Sina termasuk talenta muda Banua yang komplet pengalaman hidupnya dan bagus karirnya.
Saya beruntung bisa menjadi orang yang bisa menyaksikan sejarah anak muda berkarakter kuat memimpin kota tua dan pusaka, Banjarmasin. Ibnu Sina sendiri memang ditakdirkan menjadi seorang leader dan cakap untuk memimpin Banjarmasin yang tak pernah sepi dari kompleksitas permasalahan.

Saya tak mengungkapkan seberapa besar dan jumlah penghargaan yang dia peroleh sepanjang waktunya memenej pemerintahan bersama duetnya Hermansyah dan Arifin Noor.Karena penghargaan yang diperoleh sudah pasti hasil kerja keras bersama jajaran, yang menjadi sebuah kekuatan majamenen pemerintahan yang diidamkan warga Banjarmasin.
Namun setiap langkah dan perjalanan Ibnu Sina tidak terlepas juga dari kemampuannya memantaskan diri untuk bersyukur kepada Allah SWT. Pandai bersyukur adalah sikap untuk mengakui semua nikmat dan karunia yang diberikan Allah dengan membuka mata hati.
Dari beragam literatur menyebutkan beberapa tanda orang yang pandai bersyukur adalah: Selalu berterima kasih dalam setiap situasi, Melihat setiap pengalaman sebagai pelajaran yang berharga, Tidak pernah ribet dalam menjalani hidup, Punya hubungan erat dengan orang lain, Terampil dalam mengelola stres
Hal menarik adalah bagaimana seorang suami dari Doktor Hj Siti Wasilah, mampu mengelola kesabaran “emosi” dalam menjalani proses hidup hingga sukses menjadi Wali Kota Banjarmasin.

Melatih kesabaran sendiri memang tidak gampang.Terlebih cibiran dan hujatan mewarnai seseorang menjadi kepala daerah. Sejatinya pemimpin itu memang berada di dua mata sisi, disukai dan dibenci. Memang ada kalanya kita diminta bersabar karena sabar merupakan perilaku mulia yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Beberapa kali kesempatan Ibnu Sina pun merefleksikan perjalanan kepemimpinannya. Ia mengaku belajar banyak tentang syukur, sabar, dan do’a dalam usianya yang semakin matang.
Menurut pria yang hobbi gowes dan membaca itu, usia juga mematangkan seseorang untuk mampu mengendalikan diri dalam kesabaran.
“Usia 50 tahun adalah usia penuh kedewasaan. Saya belajar untuk lebih banyak bersyukur, bersabar, dan berdoa, seperti yang disampaikan Ustaz Hilman,” ujarnya saat Tasyakuran usianya yang menginjak ke-50, awal Januari 2025
Konsep Sabar menurut Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah (dalam Pracoyo, 2009) bahwa sabar merupakan menahan jiwa dari berputus asa, meredam amarah yang bergejolak, mencegah lisan berkeluh-kesah, menahan anggota badan dari berbuat kemungkaran. Sabar merupakan akhlak mulia dari lubuk jiwa yang dapat mencegah dengannya akan tegak dan baik segala perkara.
Ali bin Abi Thalib RA, menjelaskan bahwa kesabaran dan keimanan sangat berkaitan erat ibarat kepala dan tubuh. Jika kepala manusia sudah tidak ada, maka tubuhnya tidak akan berfungsi. Demikian pula apabila kesabaran hilang maka imanpun akan ikut hilang.
Sebagaimana di jelaskan dalam surat Ali Imron , 200 yang artinya: Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga dan bertaqwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung (QS. Ali Imron:200).

Bagi saya dan warga Banjarmasin, pengalaman hidup dan sikap tawadhu seorang pemimpin daerah merupakan sebuah inspirasi. Memang diakui tidak ada yang sempurna dalam diri seseorang dan kinerjanya. Tapi setidaknya pengalaman dan waktu mengajarkan kita untuk menghargai sesama serta memberikan apresiasi apa yang sudah dia kerjakan sesuai ketentuan dan kebenaran serta dalam kebaikan.
Masih panjang memang perjalanan lain yang mesti dilalui seorang Ibnu Sina, Wali Kota Banjarmasin yang dalam hitungan bulan mengakhiri jabatannya. Namun setidaknya kita semua tetap respek dan menaruh takzim atas usaha, ikhtiar dan program baiknya menjalankan amanah membangun kota Banjarmasin yang “Baiman”, Barasih Wan Nyaman.
Saya pun teringat penggalan larik lagu penuh makna Ebiet G Ade, Kita mesti bersyukur bahwa kita masih diberi waktu. Entah sampai kapan tak ada yang bakal dapat menghitung. Hanya atas kasih-Nya, hanya atas kehendak-Nya Kita masih bertemu matahari.
Dalam rentang waktu, doa yang terbaik bagi kita semua.Selamat milad Pahaji Ibnu Sina, Wali Kota Banjarmasin. (Muhammad Risanta).
*Penulis adalah Jurnalis Senior CNN Indonesia dan Ahli Pers Dewan Pers*

