Elang Khatulistiwa Indonesia jadi Juri Lomba Pramuka Bergengsi
Tim Juri Elang Khatulistiwa Indonesia dan Panitia dari Urban Scout Competition.
Masih Ingat Dasa Darma atau Persami (Perkemahan Sabtu Minggu) termasuk Estafet Tunas Kelapa hingga Jambore Nasional ? Tentu itulah bagian dari sebuah aktivitas Pramuka, yang begitu populer, dikenalkan kepada masyarakat luas 14 Agustus 1951.
Semua orang pasti mengenal Pramuka.Gerakan Kepanduan di masa-masa sekolah yang membentuk karakter dan berkepribadian dasa darma, Pramuka yang memiliki dasar pembinaan karakter, kepemimpinan dan dunia kegiatan alam terbuka.
Pramuka sendiri adalah singkatan dari Praja Muda Karana, yang berarti jiwa muda yang suka berkarya. Pramuka adalah sebuah gerakan pendidikan nonformal yang menyelenggarakan pendidikan kepanduan di Indonesia.
Pramuka juga memiliki berbagai tingkatan, mulai siaga, penggalang, penegak, hingga pandega. Sejatinya Pramuka juga memiliki berbagai kegiatan yang menarik, menyenangkan, sehat, dan bermanfaat untuk pembentukan karakter, keterampilan, dan budi pekerti luhur.
Kegiatan Kepanduan atau Pramuka bukan hanya baris berbaris saja. Namun ada pendidikan skil dan kompetensi teknik hidup didalam bebas, tali temali, berkemah, berpetualang dan bertahan hidup didalam bebas. Salah satu teknik dan ilmu yang harus dimiliki seorang anggota Pramuka adalah teknik pionering atau keterampilan membuat miniatur benda atau alat dengan ilmu tali temalinya dgn tujuan harus mampu bertahan hidup didalam dan memiliki jiwa inovasi yang tinggi.
Baru baru ini satuan Gerakan Pramuka yang menamakan dirinya Urban Scout Competition melakukan terobosan baru untuk meningkatkan kompetensi dan skillnya seorang anggota Pramuka melalui Kegiatan Lomba ketangkasan Pramuka, diantaranya loma pengetahuan kepramukaan, Sandi, Morse, semaphore dan pionering.

Lomba yang diikuti berbagai Gugus Depan terbaik sejumlah daerah ini menghadirkan langsung Elang Khatulistiwa Indonesia untuk menjadi juri dalam lomba tersebut. Elang Khatulistiwa Indonesia sendiri adalah sebuah lembaga yang konsen dalam menunjang pelatihan kerja berbasis kompetensi pelaku wisata.
“Ini adalah bagian dari program kami menyiapkan generasi penerus bangsa yang memiliki karakter dan kompetensi serta skill yang harus dibina sejak dini,” terang Penanggung Jawab Kegiatan Urban Scout Competition, Wahyudi Anto, Minggu (15/12/2024).
Agar kompetisi berkualitas dan membentuk karakter kuat peserta, menurut pria yang akrab disapa Chemong dan Pelatih Pramuka Kwarcab Jakarta Barat, pihaknya pun menggandeng Lembaga yang bergerak dalam pelatihan kerja yang menyiapkan SDM berkualitas dan berkarakter.
“Ini ketiga kalinya kami melaksanakan loma ini, lebih dari 500 peserta yang sudah terlibat, unsur Pembina serta hadir juga Kak Muslim selaku Wakil Ketua Bina Muda mewakili Kwarran Kecamatan Cengkareng dan akan terus dilaksanakan dalam upaya mencetak generasi yang memiliki kompetensi,” tambah Chemong.
Founder Elang Khatulistiwa, Abby, sangat mengapresiasi kegiatan yang bagus ini. Pihaknya pun bangga dengan kegiatan yang sarat edukasi dan praktik keterampilan bagi generasi muda.
“Tentunya ini juga sangat membantu pembentukan karakter anak bangsa. Di satu sisi keterampilan dan pengetahuan tersebut akan berguna sekali. Karena juga mengajarkan semangat pantang menyerah dalam menghadapi masalah apa pun termasuk ketika memasuki dunia kerja. Karena kompetisi di dunia kerja itu sangat ketat sehingga harus dibina dan dilatih baik skil maupun karakternya sejak usia dini,” ujar Abby yang dikenal sebagai salah satu Srikandi Traveler Indonesia.

Sementara itu Sekretaris LPK Elang Khatulistiwa Indonesia, Andi Suka, menyambut baik kegiatan ketangkasan Pramuka ini. Dia menilai ini adalah sebuah terobosan baru dan menjadikan kegiatan kepanduan mampu menghadirkan anak muda yang tangguh dan berkarakter kuat serta santun.
“Alhamdulilah ini merupakan sebuah terobosan baru. Karena kegiatan dialam terbuka sudah dimulai sejak usia dini. Ini luar biasa kegiatan kepramukaan yang sudah sangat lama dilakukan jejak jaman kepanduan, dan mereka harus dibekali pengetahuan dan keterampilan yang mumpuni. Mengingat kegiatan dialam terbuka memiliki tingkat risiko yang sangat tinggi, sehingga ini sangat tepat sekali diadakan kompetisi seperti ini,” ucap pria yang juga seorang aktivis pendakian. (Olpah Sari).

