Dunia Bergejolak Menjaga Ekonomi Indonesia Butuh Sinergi

0
OLPAH SARI MEJA PERRY WARJIYO

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo.

“Challenges are what make life interesting and overcoming them is what makes life meaningful.” Begitu ungkap seorang Joshua J. Marine. Kata-kata sederhana pria yang dikenal sebagai penulis dan Dosen ini seakan memberikan makna dalam bahwa sejatinya tantangan itu membuat hidup menarik sedangkan mengatasinya membuat hidup menjadi bermakna.

Ada benarnya juga, gumam saya sembari menyimak pidato Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, dalam Temu Tahunan  Bank Indonesia, di Jakarta, Jumat malam (29/11/2024).

Saya pun mesti memahami kembali narasi panjang yang dikemukakan Gubernur Bank Indonesia, yang disaksikan secara live hingga ke Banjarmasin. Jumat malam saya berkesempatan hadir di Fugo Hotel, menyaksikan seremoni tahunan yang bagi sebagian kalangan adalah sentra informasi terbarukan perekonomian Indonesia.

Saya bukan ahli ekonomi dan hanya penulis yang berusaha menginterprestasikan apa yang dikemukakan step bye step oleh seorang Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo. Beruntung saya satu meja dengan Dr Iqbal (Dosen Senior STIE Indonesia, pemerhati ekonomi), Prof Yunani (Dekan Fakultas Ekonomi ULM Banjarmasin), Dr Ernawati ( Wakil Ketua STIE Pancasetia Banjarmasin) serta tokoh ekonomi Banua lainnya. Sehingga arah pembicaraan Perry Warjiyo jadi pembicaraan dan diskusi ringan kami di table 22 dan 23.

Dalam sambutannya yang diapresiasi baik ini, Perry Warjiyo pun memaknai kemenangan Donald Trump dalam pemilihan Presiden Amerika Serikat (AS), memberikan gejolak bagi dunia. Karena menurutnya terpilihnya kembali Trump diprediksikan dapat mengubah ara kebijakan AS hingga membawa perubahan besar pada lanskap geopolitik dan perekonomian dunia.

 

Sejumlah Tokoh Ekonomi Banua menghadiri Temu Tahunan Bank Indonesia. Di Kalsel diselenggarakan di Fugo Hotel Banjarmasin.

Tahukah kita ternyata menurut pria yang juga seorang ekonom ini, ketidakpastian tersebut indikatornya adalah disebabkan Slower dan divergent growth yang diartikan perlambatan dan ketimpangan pertumbuhan. Dia menganalisakan bahwa ekonomi negeri Paman Sam akan membaik, namun tidak hal dengan China dan Eropa yang bakal melambat.

“Meski begitu Indonesia dan India cukup baik,” kata pria yang diketahui lulusan Lowa State University (1989-1991).

Selain itu Gubernur Bank Indonesia kelahiran Sukoharjo, Jawa Tengah, juga membeberkan pada tahun 2025, penurunan inflasi akan melambat bahkan berisiko naik pada 2025. Hal ini disebabkan adanya gangguan rantai pasok dan rantai pajak.

Disamping itu ada masalah lain yakni surat utang AS akan meningkat. Dia menyakini terjadi peningkatan yang diperkirakan mencapai 4,75 persen-5 persen di tahun 2026. Mengapa demikian ? ternyata disebabkan oleh membengkaknya defisit pemerintah.

Perry juga menyuruti fenomena Kekuatan “Strong Dolar” yang berlanjut. Indeks dolar AS kuat dari 101 naik ke 107, mengakibatkan depresiasi nilai tukar dunia termasuk Rupiah. Seperti harapan semua negara, Indonesia juga tetap berharap tidak terjadi kenaikan dolar AS.Disamping itu Perry melihat preferensi investor global yang akan mulai menanamkan modalnya di AS, yang memberikan pengaruh bagi peningkatan suku bunga dan kuatnya dolar AS.

 

Penyanyi Sammy Simorangkir turut memeriahkan Malam Pertemuan Tahunan Bank Indinesia di Banjarmasin.

“Seperti Gubernur Bank Indonesia paparkan itu, Bank Indonesia itu optimistis pertumbuhan ekonomi 2025 hingga 2026 akan membaik. Saya kira hal positif dan ekonomi Indonesia bakal mencapai 4,8 persen hingga 5,6 persen di tahun 2025.Sedangkan tahun 2026 akab mencapai 4,9 persen sampai dengan 5,7 persen yang mereka proyeksikan. Kita optimis bersama-sama,” terang Dr Iqbal, Pemerhati Ekonomi STIE Indonesia, dalam diskusi ringan di Table 22.

Iqbal pun mengapresiasi Gubernur Bank Indonesia yang mengajak semua pemangku kepentingan untuk menguatkan sinergi menghadapi gejolak global. Karena sejatinya pula itu sama halnya menjaga dan melindungi Indonesia (bangsa dan negara serta rakyat)dari gejolak global. Hal ini selaras dengan tema Sinergi Memperkuat Stabilitas dan Transformasi Ekonomi Nasional.

“Kami sependapat dengan apa yang disampaikan Gubernur Bank Indonesia di bidang ekonomi ada sinergi bauran kebijakan transformasi ekonomi nasional perlu diperkuat, seperi stabilitas makro ekonomi dan sisi keuangan,” ujar Iqbal.

Sekedar diketahui memang Gubernur Bank Indonesia, menekankan pentingnya sinergi termasuk ketika ingin mendorong permintaan domestik (khususnya konsumsi dan investasi), dan juga sinergi digitalisasi sistem pembayaran dan ekonomi keuangan digital nasional.

Bagaimana dengan Kalsel sendiri, kami di table 22 dan 23 pun menyimak kembali presentasi Prospek Ekonomi Kalimantan Selatan pada Tahun 2025 yang disampaikan Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Kalsel, Bimo Epyanto.

“Prospek perekonomian Kalimantan Selatan tetap kuat dan berdaya tahan. Ekonomi tumbuh 4,49-,29 persen (yoy), sedangkan inflasi 2,5+1persen (yoy), dengan semua sektor ekonomi memberikan kontribusi positif,” sebut Bimo.

 

Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Kalsel, Bimo Epyanto.

Apa yang disebut Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Kalsel, Bimo Epyanto, selaras dengan analisa dan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Selatan (Kalsel) mencatatkan pertumbuhan Ekonomi Kalimantan Selatan triwulan III-2024 dibanding triwulan III-2023 (y-on-y) mengalami pertumbuhan sebesar 5,23 persen.

Ternyata dari catatan lembaga ini sumber pertumbuhan ekonomi daerah kita masih berasal dari sektor pertambangan dan galian 1,28 persen. Disusul pertanian, kehutanan dan perikanan di kisaran 0,88 persen , serta 0,46 pada bidang industri pengolahan.

Jika melihat dari perbandingan per triwulan. Ternyata semester III 2024 ini tumbuh sebesar 3,43 persen. Pertumbuhan positif ini membawa angin segar untuk perekonomian Kalsel. Tercatat ada laju pertumbuhan cukup tinggi, di sektor pertanian, kehutanan dan perikanan dengan data 14, 32 persen.

Hal terpenting juga kata Bimo Epiyanto adalah bagaimana kalsel saat ini mendorong sumber-sumber pertumbuhan ekonomi baru seperti sektor pariwisata, yang merupakan hal terpenting dari sinergi dan inovasi. Karena sesungguhnya untuk menciptakan sumber-sumber pertumbuhan ekonomi yang baru dan untuk memitigasi resiko perubahan iklim.

“Ada tiga hal yang dapat kita lakukan menurut hemat kami,pertama UNESCO baru saja memberikan status UNESCO Global Geopark bagi Geopark Meratus kita.Ini menurut hemat kami menjadi pijakan yang kuat untuk memfokuskan strategi pengembangan pariwisata berbasis Geopark Meratus. Dan Kami percaya melalui pendekatan 3A2P , yakni Akses, Atraksi, dan Amenitas serta 2P yang mencakup Promosi dan Pelaku Pariwisata,” ucap Bimo.

 

Wisata Volkswagen di Alas Randu adalah kegiatan wisata keliling desa-desa di sekitar Candi Borobudur dengan mobil VW Safari. Sangat menginspirasi bagi pengembangan pariwisata di Kalsel.

Sekedar diketahui juga, Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) merupakan puncak high level event (HLE) Bank Indonesia yang telah diselenggarakan rutin sejak tahun 1969. Agenda utama PTBI adalah penyampaian asesmen Bank Indonesia mengenai kondisi perekonomian nasional, tantangan yang dihadapi, dan arah kebijakan Bank Indonesia ke depan.

Asesmen dan arah kebijakan tersebut diharapkan menjadi acuan bagi pemangku kepentingan, khususnya pelaku industri, investor, dan kalangan dunia usaha dalam menentukan berbagai kebijakan maupun keputusan bisnis ke depan. Dari sisi masyarakat, acuan strategis ini juga diharapkan dapat semakin membangun keyakinan masyarakat bahwa Bank Indonesia bersama Pemerintah dan Lembaga terkait senantiasa bersama-sama menjaga stabilitas moneter dan sistem keuangan.

Bank Indonesia berkomitmen untuk senantiasa bersinergi dalam memperkuat stabilitas dan transformasi ekonomi nasional. Dalam menghadapi dinamika ekonomi global yang cenderung stagnan dan dibayangi ketidakpastian seiring eskalasi tensi geopolitik, sinergi erat kebijakan Pemerintah, Bank Indonesia, dan otoritas terkait akan mampu memitigasi dampak rambatan ketidakpastian global.

Sinergi kebijakan juga terus diarahkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan inklusif. Bank Indonesia terus mengarahkan respons bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran untuk memperkuat stabilitas dan mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Sebagaimana tahun – tahun sebelumnya, Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) 2024 dirangkaikan dengan penganugerahan BI Award 2024, sebuah penghargaan dan apresiasi Bank Indonesia sebagai otoritas moneter, sistem keuangan, dan sistem pembayaran kepada antara lain lembaga keuangan, Penyedia Jasa Pembayaran (PJP), Penyelenggara Jasa Pengelolaan Uang Rupiah (PJPUR), korporasi dan pelaku usaha termasuk UMKM, serta individu.

Mereka merupakan pihak yang berkontribusi signifikan di empat area, mulai Stabilitas moneter dan sistem keuangan, Sistem pembayaran, Pengembangan UMKM dan ekonomi keuangan syariah serta Pendukung kebijakan. (Olpah Sari)

Olpah Sari – Jurnalis – Pemimpin Umum Economic Travelling.Com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!