Menulis Berita Ekonomi Bisnis, Bagaimana Caranya?

0
RISANTA OLAHRAGA

Oleh : Muhammad Risanta

Akhir pekan paling menyenangkan bagi saya terkadang tidak membutuhkan perjalanan jauh.

Cukup mengenakan pakaian olahraga, menghirup udara pagi, lalu menikmati suasana kota sambil jogging ringan bersama istri, Olpah Sari, jurnalis sekaligus Founder EconomicTravelling.com, mengitari kawasan Siring Sudirman dan Siring Tendean di Banjarmasin.

Kawasan tepian Sungai Martapura itu selalu menawarkan cerita. Air sungai yang bergerak perlahan, aktivitas warga yang mulai ramai, orang-orang yang berolahraga, hingga para pedagang yang menata dagangan sejak pagi menjadi pemandangan yang tidak pernah benar-benar sama. Bagi sebagian orang, tempat ini mungkin sekadar ruang terbuka untuk menikmati akhir pekan.

Bagi saya, seorang jurnalis yang cukup lama berkutat dengan persoalan ekonomi, bisnis, dan perbankan, kawasan ini adalah ruang observasi yang menarik.

Di sepanjang kawasan tersebut, kita bisa melihat denyut ekonomi masyarakat dalam bentuk yang paling sederhana.

Ada pedagang makanan dan minuman, pelaku usaha kecil yang mengandalkan keramaian pengunjung, hingga berbagai aktivitas perdagangan yang tumbuh mengikuti pergerakan orang.

Uang berpindah tangan, barang diperjualbelikan, dan penghasilan keluarga dicari dari kegiatan sehari-hari.

Di tengah semua itu, ekonomi hadir tanpa harus selalu disebut dengan istilah pertumbuhan ekonomi, daya beli, inflasi, atau perputaran uang.

Ini terlihat dari dalam gerobak yang mulai dipenuhi pembeli, dagangan yang diharapkan habis sebelum siang, dan pedagang yang menghitung hasil penjualan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Saya selalu percaya, seorang jurnalis ekonomi harus mampu melihat hal-hal semacam ini. Angka-angka dalam laporan resmi memang penting, tetapi kehidupan ekonomi masyarakat tidak seluruhnya bisa dipahami hanya dengan membaca tabel statistik.

Pagi itu, ketika kami sedang menikmati suasana Siring yang mulai ramai, meskipun udara terasa kurang nyaman karena diselimuti asap, telepon genggam saya berbunyi. Saya melihat panggilan masuk dan menduga ada kawan yang ingin bergabung jogging. Ternyata dugaan saya meleset.

Dua mahasiswa yang juga bekerja sebagai jurnalis sebuah media menghubungi saya. Mereka hendak berkonsultasi tentang penulisan berita ekonomi dan bisnis.

Saya sempat tersenyum. Rupanya, agenda akhir pekan yang semula hanya ingin menikmati suasana kota kembali bersentuhan dengan pekerjaan yang sudah menjadi bagian dari kehidupan saya selama puluhan tahun.

Tak apalah. Selama yang ditanyakan adalah sesuatu yang bisa saya bagikan, mengapa tidak?

Saya tentu tidak pernah merasa menjadi orang yang paling menguasai jurnalistik ekonomi. Dunia ini terus berubah, data terus berkembang, dan persoalan bisnis selalu menghadirkan tantangan baru. Saya pun masih belajar.

Namun, pengalaman selama bekerja di sejumlah media, bertemu narasumber, membaca laporan keuangan, mengikuti perkembangan kebijakan ekonomi, dan menulis berbagai peristiwa memberi saya bekal untuk berbagi apa yang saya pahami.

Kedua mahasiswa itu termasuk anak muda yang punya kemauan kuat untuk maju. Mereka tidak segan bertanya, mencari penjelasan, dan membuka diri terhadap pengalaman orang lain.

Bagi saya, sikap seperti inilah yang penting dalam profesi jurnalistik. Kemampuan menulis bisa diasah, tetapi kemauan untuk terus belajar harus dipelihara.

Saya teringat masa-masa awal menekuni dunia jurnalistik. Saya juga sering bertanya kepada wartawan senior, berdiskusi dengan editor, dan mencoba memahami bagaimana sebuah peristiwa bisa diolah menjadi berita yang bernilai bagi masyarakat.

Saya beruntung pernah memperoleh banyak pelajaran dari para senior, di antaranya Suryopratomo atau Tommy, Almin Hatta yang dikenal melalui pengalamannya di Tempo dan kepemimpinannya di Radar Banjarmasin, serta Zulfiani Lubis, pendiri IDN Times yang pernah menjadi atasan saya ketika bekerja di TV7.

Dari mereka dan banyak jurnalis lain, saya belajar bahwa pengalaman tidak seharusnya berhenti sebagai pengetahuan pribadi. Ia perlu dibagikan agar menjadi bekal bagi orang lain.

Obrolan pagi itu membawa saya pada satu pertanyaan mendasar sebenarnya, bagaimana cara menulis berita ekonomi dan bisnis yang baik?

Jangan Mulai dari Angka, Mulailah dari Persoalan

Kesalahan yang kadang dilakukan penulis berita ekonomi pemula adalah menganggap bahwa berita ekonomi harus selalu dimulai dengan angka, laporan keuangan, atau istilah teknis. Akibatnya, berita terasa kaku, sulit dicerna, dan jauh dari kehidupan pembaca.

Padahal, angka hanyalah salah satu pintu masuk untuk memahami sebuah persoalan.

Misalnya, Badan Pusat Statistik mengumumkan kenaikan inflasi. Jurnalis tentu perlu menyampaikan angka inflasi tersebut secara tepat, termasuk periode pengukuran dan kelompok pengeluaran yang memengaruhinya. Namun, berita tidak semestinya berhenti pada besaran persentase.

Pertanyaan berikutnya jauh lebih penting barang apa yang mengalami kenaikan harga? Bagaimana pengaruhnya terhadap belanja rumah tangga? Apakah pedagang ikut menaikkan harga jual? Bagaimana dampaknya terhadap usaha kecil yang biaya produksinya meningkat?

Dari pertanyaan-pertanyaan itulah berita ekonomi mulai memiliki kedalaman.

Demikian pula ketika sebuah bank melaporkan kenaikan laba. Jurnalis tidak cukup hanya menyalin angka keuntungan dari siaran pers.

Ia perlu memeriksa bagaimana laba itu terbentuk, apakah pertumbuhan kredit sejalan dengan penghimpunan dana masyarakat, bagaimana kualitas kreditnya, serta risiko apa yang perlu diperhatikan.

Untuk berita bisnis, pertanyaan dasarnya sederhana apa yang berubah, mengapa perubahan itu terjadi, siapa yang memperoleh manfaat, siapa yang menanggung risiko, dan apa pengaruhnya bagi masyarakat?

Jurnalis tidak harus menjawab seluruh pertanyaan tersebut dalam satu berita pendek. Namun, pertanyaan-pertanyaan itu membantu menentukan sudut pandang liputan agar tulisan tidak sekadar menjadi pengumuman kegiatan perusahaan.

Mengenali Wilayah Liputan Ekonomi dan Bisnis

Bidang ekonomi dan bisnis memiliki cakupan yang luas. Seorang jurnalis perlu mengenali karakter setiap jenis berita karena sumber data, narasumber, dan sudut pandangnya tidak selalu sama.

Pertama, berita makroekonomi. Liputan ini membahas pertumbuhan ekonomi, inflasi, pengangguran, kemiskinan, suku bunga acuan, nilai tukar, serta indikator ekonomi lainnya. Sumbernya antara lain Badan Pusat Statistik, Bank Indonesia, Kementerian Keuangan, dan lembaga pemerintah terkait.

Kedua, berita perbankan dan pasar keuangan. Topiknya dapat berupa pertumbuhan kredit, dana pihak ketiga, laba bank, kualitas aset, suku bunga, pasar saham, obligasi, dan perkembangan nilai tukar. Jurnalis harus memahami indikator yang digunakan dan tidak mencampuradukkan ukuran yang berbeda.

Ketiga, berita korporasi dan bisnis. Isinya meliputi perkembangan perusahaan, investasi, ekspansi usaha, merger dan akuisisi, perubahan manajemen, kinerja penjualan, serta strategi menghadapi persaingan. Dalam liputan seperti ini, penting untuk membedakan klaim perusahaan dengan fakta yang dapat diverifikasi.

Keempat, berita kebijakan ekonomi. Liputan ini membahas pajak, anggaran negara, subsidi, perdagangan, ekspor-impor, kebijakan moneter, dan berbagai keputusan pemerintah yang memengaruhi dunia usaha maupun masyarakat.

Kelima, berita UMKM dan ekonomi rakyat. Inilah salah satu wilayah liputan yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ceritanya bisa dimulai dari pedagang pasar, pengusaha rumahan, nelayan, petani, pengrajin, hingga pelaku usaha kreatif.

Dari mereka, jurnalis dapat memahami persoalan modal, pemasaran, biaya produksi, akses pembiayaan, dan daya beli konsumen.

Keenam, berita ekonomi mendalam atau investigatif. Liputan ini menelusuri persoalan yang membutuhkan pemeriksaan lebih jauh, seperti dugaan penyimpangan bisnis, praktik persaingan tidak sehat, konflik kepentingan, atau dampak kebijakan yang tidak sesuai dengan tujuan awalnya.

Jenis liputan ini membutuhkan dokumen, verifikasi berlapis, dan kesempatan yang memadai bagi pihak-pihak terkait untuk memberikan penjelasan.

Bagi jurnalis pemula, saya menyarankan untuk tidak terburu-buru mengejar semua bidang sekaligus. Mulailah dari persoalan yang dekat dengan lingkungan liputan. Pelajari pelaku, kenali datanya, pahami istilahnya, dan bangun jaringan narasumber secara bertahap.

Data Adalah Fondasi, Bukan Hiasan Berita

Dalam jurnalistik ekonomi, data memiliki kedudukan penting. Kesalahan menulis satu angka bisa mengubah makna sebuah berita, apalagi jika angka itu berkaitan dengan laba perusahaan, nilai investasi, pertumbuhan kredit, atau kondisi ekonomi masyarakat.

Karena itu, jurnalis perlu mengetahui dari mana data diperoleh, kapan data diterbitkan, periode apa yang diukur, dan bagaimana cara membacanya.

Data Badan Pusat Statistik, misalnya, dapat digunakan untuk memahami perkembangan inflasi, pertumbuhan ekonomi, ketenagakerjaan, kemiskinan, dan indikator sosial-ekonomi lainnya.

Bank Indonesia menjadi rujukan penting untuk kebijakan moneter, sistem pembayaran, serta perkembangan ekonomi dan keuangan sesuai lingkup publikasinya.

Otoritas Jasa Keuangan menyediakan berbagai informasi mengenai industri jasa keuangan dan pengawasannya.

Sementara itu, laporan keuangan perusahaan membantu jurnalis menelusuri kondisi bisnis berdasarkan dokumen yang diterbitkan perusahaan.

Namun, memperoleh data resmi tidak berarti pekerjaan jurnalistik selesai.

Seorang jurnalis harus membaca konteksnya. Apakah angka yang digunakan merupakan data bulanan, triwulanan, atau tahunan? Apakah perbandingannya menggunakan periode yang sama? Apakah pertumbuhan dihitung secara tahunan atau dibandingkan dengan periode sebelumnya? Apakah angka yang diberitakan masih bersifat sementara atau telah direvisi?

Hal-hal seperti ini tampak teknis, tetapi justru menentukan akurasi.

Saya juga mengingatkan mahasiswa agar tidak sekadar menyalin angka dari siaran pers. Cobalah membandingkan data terbaru dengan periode sebelumnya, membaca dokumen aslinya, dan mengajukan pertanyaan ketika ada perubahan yang tidak biasa.

Jika sebuah bank mengumumkan kenaikan laba, misalnya, periksa laporan laba ruginya. Jika pemerintah menyebut pertumbuhan investasi, cari tahu sektor yang menerima investasi, realisasi dananya, serta kemungkinan dampaknya terhadap penyerapan tenaga kerja.

Jika sebuah perusahaan mengklaim penjualannya meningkat, tanyakan apakah kenaikan itu berasal dari bertambahnya volume penjualan, perubahan harga, atau faktor lain.

Data yang baik bukan sekadar angka yang benar, melainkan angka yang dipahami dalam konteks yang tepat.

Belajar Membaca Laporan Keuangan

Bagi jurnalis yang ingin menekuni liputan perbankan dan korporasi, laporan keuangan adalah dokumen yang perlu akrab dibaca.

Tidak harus langsung memahami seluruh istilah akuntansi, tetapi ada beberapa bagian mendasar yang bisa dipelajari lebih dahulu.

Pertama, laporan laba rugi. Dokumen ini menunjukkan pendapatan, beban, dan hasil usaha selama periode tertentu. Perhatikan perubahan pendapatan dan laba, lalu telusuri faktor yang menjelaskan kenaikan atau penurunannya.

Kedua, neraca atau laporan posisi keuangan. Dokumen ini memperlihatkan aset, liabilitas atau kewajiban, dan ekuitas pada tanggal tertentu.

Melalui neraca, jurnalis dapat menilai perubahan struktur keuangan perusahaan, meskipun kesimpulan tentang kesehatan perusahaan tetap memerlukan indikator dan konteks yang sesuai.

Ketiga, laporan arus kas. Dokumen ini menunjukkan arus uang dari aktivitas operasi, investasi, dan pendanaan.

Perusahaan bisa saja mencatat laba, tetapi tetap menghadapi tekanan likuiditas jika penerimaan kas tidak berjalan baik. Karena itu, laba dan arus kas tidak boleh dianggap sebagai ukuran yang sama.

Untuk sektor perbankan, pembacaannya perlu lebih spesifik. Jurnalis harus memahami indikator seperti kredit, dana pihak ketiga, rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL), kecukupan modal, dan likuiditas. Setiap indikator memiliki fungsi berbeda sehingga tidak tepat menilai kinerja bank hanya dari besarnya laba.

Jangan takut pada tabel dan grafik. Bacalah perlahan, pahami definisinya, lalu konsultasikan kepada analis, ekonom, atau praktisi yang kompeten jika ada bagian yang belum jelas.

Tugas jurnalis bukan berpura-pura memahami semuanya, melainkan bekerja keras agar informasi yang disampaikan kepada pembaca dapat dipertanggungjawabkan.

Bahasa Ekonomi Harus Membumi

Persoalan berikutnya adalah bahasa.

Berita ekonomi sering kali dipenuhi istilah seperti inflasi, deflasi, likuiditas, suku bunga acuan, nilai tukar, pertumbuhan tahunan, dan produk domestik bruto.

Istilah-istilah itu memang diperlukan, tetapi penggunaannya harus disesuaikan dengan pengetahuan pembaca.

Inflasi, misalnya, dapat dijelaskan sebagai kenaikan harga barang dan jasa secara umum dalam periode tertentu.

Ketika membahas suku bunga acuan, jurnalis dapat menerangkan bahwa perubahan suku bunga Bank Indonesia berpotensi memengaruhi kondisi pembiayaan, tabungan, dan keputusan ekonomi, meskipun dampaknya terhadap bunga pinjaman maupun simpanan tidak selalu terjadi secara langsung atau dalam besaran yang sama.

Begitu pula dengan pertumbuhan ekonomi. Angka pertumbuhan yang meningkat tidak otomatis berarti seluruh rumah tangga mengalami kenaikan pendapatan.

Jurnalis masih perlu melihat distribusi manfaat pertumbuhan, perkembangan lapangan kerja, daya beli, serta kondisi kelompok masyarakat yang berbeda.

Bahasa yang sederhana bukan berarti analisisnya dangkal. Justru dibutuhkan pemahaman yang baik untuk menerangkan persoalan rumit dengan kalimat yang mudah dipahami.

Saya sering berpendapat bahwa keberhasilan jurnalis ekonomi bukan diukur dari seberapa banyak istilah asing yang digunakan, melainkan dari seberapa jauh pembaca memahami persoalan setelah membaca berita tersebut.

Jika pembaca harus membuka kamus berkali-kali hanya untuk mengerti inti berita, mungkin ada bagian dari tulisan yang perlu diperbaiki.

Saya kembali memperhatikan kawasan Siring Sudirman dan Tendean yang semakin ramai. Orang-orang terus berdatangan. Ada yang berolahraga, ada yang menikmati suasana sungai, dan ada pula yang membuka usaha untuk memperoleh penghasilan.

Pemandangan itu mengingatkan saya bahwa ekonomi bukan semata-mata milik para pengambil kebijakan, bankir, pengusaha besar, atau analis pasar keuangan.

Ekonomi juga hidup dalam keputusan sederhana yang dibuat setiap hari oleh jutaan orang, membeli kebutuhan rumah tangga, menyisihkan uang untuk sekolah anak, mencari modal usaha, atau memutuskan apakah hari itu perlu menambah stok barang dagangan.

Di balik setiap kebijakan ekonomi, selalu ada konsekuensi yang perlu diperiksa. Di balik setiap laporan laba perusahaan, ada proses bisnis dan tenaga kerja yang patut dipahami.

Di balik angka inflasi, ada perubahan harga yang dirasakan konsumen. Demikian pula pertumbuhan ekonomi, ada pertanyaan tentang siapa yang menikmati hasilnya dan siapa yang masih tertinggal.

Itulah sebabnya, jurnalis ekonomi perlu memiliki dua kebiasaan sekaligus yakni tekun membaca data dan bersedia turun ke lapangan.

Data membantu kita memahami skala persoalan, sedangkan lapangan memberi gambaran bagaimana persoalan itu benar-benar dialami masyarakat. Keduanya tidak boleh dipertentangkan.

Bagi saya, menulis berita ekonomi-bisnis pada dasarnya adalah pekerjaan memahami perubahan, memeriksa fakta, membaca angka secara kritis, mendengarkan pelaku ekonomi, dan menjelaskan semuanya dengan bahasa yang bisa dimengerti masyarakat.

Tidak perlu selalu memulai dari gedung tinggi, ruang rapat direksi, atau konferensi pers pejabat. Sesekali, mulailah dari pasar tradisional, warung kecil, kawasan wisata, pelabuhan, atau tepian sungai tempat orang-orang bekerja mencari nafkah.

Amati apa yang terjadi. Cari tahu mengapa itu terjadi. Periksa datanya. Temui orang-orang yang terdampak. Lalu tuliskan dengan jujur dan jernih.

Dan tugas jurnalis ekonomi adalah memastikan kehidupan itu tidak hilang dari pemberitaan.

*Penulis adalah Jurnalis CNN Indonesia & Ahli Pers Dewan Pers.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!