Jembatan Pulau Laut Membuka Akses, Memperluas Peluang Ekonomi

0
RISANTA KOTABARU

Oleh : Muhammad Risanta

Bertahun-tahun, perjalanan dari Batulicin menuju Kotabaru atau sebaliknya harus menyesuaikan diri dengan jadwal penyeberangan feri.

Warga datang ke pelabuhan, mengantre, menunggu giliran naik kapal, lalu melanjutkan perjalanan setelah menyeberangi perairan yang memisahkan daratan Kalimantan dengan Pulau Laut.

Bagi sebagian orang, waktu tunggu mungkin sekadar bagian dari perjalanan. Bagi pedagang, pekerja, pengangkut barang, dan masyarakat yang memiliki urusan mendesak, antrean panjang bisa berarti waktu produktif yang terbuang dan biaya perjalanan yang bertambah.

Pengalaman semacam itulah yang membuat pembangunan Jembatan Pulau Laut memiliki arti lebih luas daripada sekadar proyek konstruksi.

Jembatan yang menghubungkan Kabupaten Tanah Bumbu dengan Kabupaten Kotabaru ini membawa harapan agar mobilitas masyarakat menjadi lebih mudah, distribusi barang semakin lancar, dan hubungan ekonomi kedua wilayah tumbuh lebih kuat.

Harapan itu mulai terlihat dari perkembangan pekerjaan di lapangan. Gubernur Kalimantan Selatan H. Muhidin meninjau pembangunan jembatan di sisi Batulicin, Selasa (6/10/2026).

Berdasarkan keterangan pengawas yang diterimanya, pekerjaan pada bagian tersebut telah mencapai sekitar 1.000 meter.

Jembatan Pulau Laut dirancang memiliki panjang sekitar 3,75 kilometer dan lebar 24 meter. Proyek dengan nilai anggaran sekitar Rp5,5 triliun ini ditargetkan rampung pada 2028 dan dapat digunakan pada 2029.

Bagi masyarakat yang selama ini bergantung pada penyeberangan feri, penyelesaian proyek tersebut tentu menjadi sesuatu yang dinantikan.

Namun, pembangunan jembatan ini sebaiknya tidak berhenti pada urusan mempercepat perjalanan. Kalimantan Selatan membutuhkan infrastruktur yang mampu menggerakkan kegiatan ekonomi, memperluas pasar, dan membuka kesempatan usaha bagi masyarakat di kawasan yang terhubung.

 

Foto Ilustrasi – Indahnya dan megahnya Jembatan Tanah Bumbu – Kotabari kelak di tahun 2028. (Foto – M,Irfani – Economic Travelling – Model : Poppy – Made Ludya).

Memangkas Jarak, Mengurangi Biaya

Dalam kegiatan ekonomi, waktu mempunyai nilai.

Truk yang harus menunggu penyeberangan, pedagang yang terlambat mengirim barang, atau pekerja yang perlu menyesuaikan perjalanan dengan jadwal feri menghadapi konsekuensi yang tidak selalu terlihat dalam perhitungan pembangunan infrastruktur.

Ada biaya operasional, waktu kerja, dan kesempatan usaha yang ikut dipengaruhi oleh kelancaran transportasi.

Jembatan Pulau Laut berpotensi mengubah keadaan tersebut. Akses darat yang lebih langsung dapat memberikan kepastian perjalanan, mempermudah mobilitas orang dan barang, serta membuka hubungan yang lebih luas antara pusat produksi, perdagangan, dan permukiman.

Bagi pelaku usaha, efisiensi transportasi dapat membantu menekan biaya distribusi dan memperluas jangkauan pasar. Bagi petani dan nelayan, akses yang lebih baik berpotensi mempermudah pengiriman hasil produksi.

Sementara bagi masyarakat umum, perjalanan untuk bekerja, berdagang, mengakses pendidikan, maupun memperoleh pelayanan kesehatan diharapkan menjadi lebih praktis.

Manfaat itu perlu dihitung secara nyata setelah jembatan beroperasi. Pemerintah daerah perlu membandingkan waktu tempuh dan biaya perjalanan sebelum dan sesudah tersedianya akses baru.

Data tersebut penting untuk mengetahui seberapa besar perubahan yang benar-benar dirasakan masyarakat, bukan sekadar memperkirakan manfaat dari panjangnya konstruksi.

Jembatan Harus Menghidupkan Ekonomi Daerah

Tanah Bumbu dan Kotabaru memiliki potensi ekonomi yang dapat saling melengkapi. Aktivitas perdagangan, perikanan, pertanian, industri, dan jasa membutuhkan jaringan transportasi yang mendukung pergerakan bahan baku, hasil produksi, tenaga kerja, serta konsumen.

Selama akses masih bergantung pada penyeberangan, distribusi dan mobilitas harus menyesuaikan dengan kondisi layanan feri. Setelah jembatan beroperasi, pelaku usaha akan memiliki alternatif konektivitas yang lebih langsung.

Perubahan ini membuka peluang bagi tumbuhnya kegiatan ekonomi baru, meskipun besarnya manfaat tetap bergantung pada kelancaran jaringan jalan dan kesiapan kawasan yang terhubung.

Pemerintah daerah perlu memanfaatkan momentum pembangunan ini dengan menyiapkan kawasan ekonomi di sepanjang koridor transportasi. Sentra perdagangan, pergudangan, pengolahan hasil pertanian dan perikanan, serta usaha kecil dan menengah dapat dikembangkan berdasarkan potensi dan kebutuhan setempat.

Peluang pariwisata juga layak diperhitungkan. Kotabaru memiliki potensi wisata bahari dan lanskap kepulauan yang dapat menjangkau pasar lebih luas apabila akses perjalanan semakin mudah.

Akan tetapi, wisatawan membutuhkan lebih dari sekadar jalan yang bagus. Mereka juga memerlukan destinasi yang terawat, transportasi lanjutan, akomodasi, kuliner, informasi perjalanan, dan layanan yang memadai.

Kesempatan tersebut seharusnya melibatkan masyarakat lokal. Jangan sampai peningkatan arus perjalanan hanya menguntungkan usaha besar, sementara pedagang kecil, pengusaha kuliner, pengelola homestay, nelayan, dan pelaku ekonomi kreatif di sekitar kawasan tidak memperoleh manfaat yang sepadan.

Investasi Rp5,5 Triliun Perlu Dijaga Manfaatnya

Nilai proyek sekitar Rp5,5 triliun menunjukkan besarnya investasi yang dibutuhkan untuk membangun Jembatan Pulau Laut. Pembiayaan yang melibatkan pemerintah pusat dan pemerintah daerah perlu diikuti pengawasan konstruksi, pengendalian anggaran, serta koordinasi yang konsisten hingga proyek selesai.

Jembatan ini menggunakan struktur utama cable-stayed dengan dua pylon setinggi sekitar 100 meter, disertai struktur pendekat yang menghubungkan bentang utama dengan jaringan jalan.

Kompleksitas konstruksi tersebut menuntut kepatuhan terhadap standar teknis, keselamatan, dan kualitas pekerjaan. Setelah beroperasi, pemeliharaan berkala juga harus menjadi bagian dari perencanaan anggaran.

Pembangunan jalan pendekat tidak kalah penting. Jembatan yang megah akan kehilangan sebagian manfaatnya apabila akses menuju pasar, pelabuhan, kawasan produksi, dan pusat permukiman belum memadai. Karena itu, pembangunan infrastruktur pendukung perlu berjalan seiring dengan penyelesaian jembatan.

Pemerintah juga perlu mengantisipasi perubahan kegiatan ekonomi setelah akses baru dibuka. Usaha yang selama ini menggantungkan pendapatan pada layanan penyeberangan dan aktivitas di sekitar pelabuhan dapat menghadapi perubahan permintaan. Penyesuaian tersebut perlu diperhitungkan agar peningkatan konektivitas tidak mengabaikan masyarakat yang selama ini menjadi bagian dari rantai ekonomi penyeberangan.

 

Gubernur Kalimantan Selatan H. Muhidin meninjau langsung lokasi pembangunan di sisi Batulicin, Kabupaten Tanah Bumbu, Selasa (6/10/2026) sore. (Foto -Biro Adpim Kalsel)

Jangan Berhenti pada Kendaraan yang Melintas

Pengalaman sejumlah kawasan menunjukkan bahwa infrastruktur transportasi membuka peluang, tetapi tidak otomatis menciptakan kesejahteraan.

Jembatan dapat memperlancar perjalanan, tetapi pertumbuhan usaha tetap membutuhkan kepastian berusaha, akses permodalan, tenaga kerja terampil, pasar, dan dukungan kebijakan yang sesuai.

Karena itu, pemerintah Kabupaten Tanah Bumbu, Kabupaten Kotabaru, dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan perlu menyiapkan agenda ekonomi yang terhubung dengan proyek ini.

Pelaku UMKM harus dibantu memperluas pasar, produk lokal perlu diperkuat daya saingnya, dan investasi diarahkan agar menciptakan nilai tambah di daerah, bukan sekadar menjadikan kawasan sebagai jalur lintasan barang.

Ukuran keberhasilan pembangunan Jembatan Pulau Laut nantinya perlu terlihat dalam kehidupan sehari-hari.

Warga dapat bepergian dengan lebih mudah, biaya distribusi menjadi lebih efisien, hasil produksi menjangkau pasar yang lebih luas, dan kesempatan kerja bertambah. Perubahan tersebut harus dapat diukur agar manfaat investasi publik diketahui secara jelas.

Bertahun-tahun menunggu feri dan mengantre di pelabuhan merupakan pengalaman perjalanan yang akrab bagi masyarakat pengguna jalur Batulicin–Kotabaru.

Jembatan Pulau Laut membawa harapan agar waktu yang selama ini tersita dalam perjalanan dapat digunakan untuk bekerja, berdagang, dan menjalankan kegiatan produktif lainnya.

Bagi Kalimantan Selatan, proyek ini merupakan kesempatan untuk memperkuat hubungan ekonomi antardaerah sekaligus membuka ruang pertumbuhan baru bagi masyarakat.

Tantangannya bukan sekadar memastikan jembatan selesai sesuai jadwal, melainkan menyiapkan ekosistem ekonomi agar akses yang semakin mudah benar-benar membawa manfaat.

Jembatan Pulau Laut harus menjadi jalan menuju kesempatan ekonomi yang lebih luas.

Ketika kendaraan kelak melintas tanpa harus menunggu antrean feri, keberhasilan pembangunan ini semestinya terasa dalam biaya perjalanan yang lebih efisien, usaha yang semakin berkembang, dan kehidupan masyarakat yang semakin sejahtera.

*  Penulis Jurnalis CNN Indonesia & Akademisi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!