Tiga Hari Menanti, Mantuil Kembali Terhubung
Alhamdulillah jembatanku kami bisa lewat, begitu seru dua anak Mantuil saat melintasi Bailey bridge,(Foto - Media Center Banjarmasin).
Minggu, 30 Agustus 2026, menjadi hari yang tidak biasa bagi warga Mantuil, Kota Banjarmasin.
Sebuah jembatan yang selama ini menjadi penghubung aktivitas warga tiba-tiba putus. Jalur yang biasanya dilalui sepeda motor, mobil, pekerja hingga kendaraan pengangkut kebutuhan sehari-hari mendadak terhenti.
Bagi masyarakat yang tinggal di kawasan RT 8, RT 3 dan sekitar Jalan Halinau, putusnya Jembatan Saka Harang bukan sekadar kerusakan infrastruktur. Jembatan itu adalah bagian dari denyut kehidupan mereka.
Kendaraan warga, terutama sepeda motor, terpaksa ditinggalkan di sisi seberang. Jumlahnya bahkan semakin banyak hingga berjajar di kawasan sekitar pelabuhan docking.
Sebagian warga harus berjalan kaki untuk mencapai rumah. Pekerja yang sehari-hari menggantungkan mobilitasnya melalui jalur tersebut ikut kesulitan.
“Motor warga sampai berjajar dan menumpuk di seberang sana, bahkan sampai ke pelabuhan docking. Warga jadi harus berjalan kaki untuk pulang ke rumah,” kata Imbran, warga RT 8 Mantuil.
Tiga hari kemudian, suasana itu berubah. Rabu sore, 2 September 2026, kendaraan roda dua dan roda empat kembali melintasi Jembatan Saka Harang.
Bukan jembatan beton yang baru dibangun. Pemerintah Kota Banjarmasin menggunakan Bailey bridge, konstruksi jembatan sementara yang didatangkan untuk mengembalikan akses masyarakat secepat mungkin.
Pekerjaannya dimulai Senin pagi, sehari setelah jembatan putus. Selasa pekerjaan berlanjut, hingga Rabu sore seluruh konstruksi dinyatakan rampung 100 persen dan dapat digunakan.

Tiga hari , waktu yang relatif singkat untuk sebuah akses yang sebelumnya membuat aktivitas warga terhenti.
Sekretaris Daerah Kota Banjarmasin Ichrom Muftezar bersama Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kota Banjarmasin Chandra Iriandhy Wijaya dan Dandim 1007/Banjarmasin meninjau langsung jembatan tersebut ketika pekerjaan dinyatakan selesai.
“Alhamdulillah, hari ini jembatan sementara Saka Harang sudah selesai dan dapat dimanfaatkan masyarakat. Mudah-mudahan jembatan ini bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya agar aktivitas warga kembali berjalan normal,” ujar Ichrom.
Bagi warga Mantuil, pembukaan kembali akses itu bukan sekadar kabar baik. Ada rasa lega setelah tiga hari harus berhadapan dengan keterbatasan mobilitas.
Agus Darminto, warga Kelurahan Mantuil, menjadi salah satu yang merasakan langsung perubahan tersebut.
Ia mengapresiasi respons cepat pemerintah bersama TNI dan Polri yang menurutnya segera turun menangani persoalan setelah jembatan putus.
“Respons pemerintah sangat cepat. Kejadiannya hari Minggu, pekerjaan mulai Senin, kemudian Selasa dan hari ini Rabu sudah selesai. Jadi tiga hari pengerjaan. Alhamdulillah, cepat sekali,” kata Agus.
Kini warga kembali dapat melintas. Sepeda motor kembali bergerak. Mobil dapat menyeberang. Pekerja tidak perlu lagi berjalan kaki melewati jalur alternatif. Aktivitas masyarakat yang sempat tersendat perlahan kembali normal.
Jembatan yang berdiri bukanlah solusi permanen. Bailey bridge hanya disiapkan untuk memulihkan akses masyarakat sembari menunggu penanganan jangka panjang.
Karena itu, pemerintah menetapkan batas kapasitas kendaraan yang melintas maksimal lima ton.
Ichrom meminta warga tidak memaksakan kendaraan dengan muatan berlebih melintasi jembatan.
“Kalau memang ada muatan di dalam mobil atau truk, tolong jangan melebihi lima ton. Kita sama-sama menjaga jembatan ini karena beban berlebih dapat memperpendek usia jembatan,” tegasnya.
Kepala Dinas PUPR Kota Banjarmasin Chandra Iriandhy Wijaya mengatakan, percepatan pekerjaan memang menjadi prioritas setelah akses masyarakat terputus.
“Alhamdulillah, pekerjaan jembatan sementara Saka Harang sudah rampung 100 persen pada hari ini. Setelah seluruh pekerjaan diselesaikan dan jembatan siap digunakan, sore ini akses sudah bisa kembali dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat,” ujarnya.
Tetapi pemerintah juga mengingatkan bahwa masyarakat tidak boleh menganggap persoalan Jembatan Saka Harang selesai hanya karena Bailey bridge telah terpasang.
“Jembatan ini sifatnya sementara. Karena itu, kami mengimbau masyarakat untuk memperhatikan batas beban maksimal lima ton,” kata Chandra.
Pemko Banjarmasin menargetkan solusi permanen tersebut direalisasikan pada 2027. Bailey bridge menjadi jembatan penghubung sementara, sementara konstruksi permanen disiapkan untuk memastikan konektivitas kawasan Mantuil dalam jangka panjang.
Imbran menyampaikan harapan serupa.
Menurutnya, Bailey bridge memang telah mengembalikan akses masyarakat, tetapi kapasitasnya terbatas. Kendaraan angkutan belum dapat bergerak seleluasa sebelum jembatan putus.
Kondisi itu menjadi perhatian karena kawasan RT 8, RT 3 dan Jalan Halinau merupakan jalur penting bagi mobilitas warga dan pekerja.
“Kalau sementara, tentu kapasitasnya terbatas. Untuk mobil angkutan juga belum bisa lewat dengan leluasa. Kami berharap jembatan permanen bisa segera dibangun,” katanya.
Ichrom menyampaikan apresiasi kepada Dandim 1007/Banjarmasin, jajaran Denzipur, Kapolresta Banjarmasin serta Pangdam yang membantu proses pemulihan akses tersebut.
“Terima kasih kepada seluruh jajaran TNI dan Polri yang telah membantu.Terutama kepada Pak Pangdam yang telah memberikan izin kepada Pemerintah Kota Banjarmasin untuk meminjam jembatan sementara ini,” ujarnya.(Ridzky Husna).
