RAPIMNAS DMDI DAN CATATAN DARI BANUA
Catatan ringan Muhammad Risanta
Pagi itu saya sedang mengejar informasi dari lapangan tentang kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Selatan ketika sebuah unggahan dari Medan muncul di layar telepon.
Beberapa kawan DMDI sedang berkumpul dalam Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) DMDI Indonesia 2026 di Rahmat International Wildlife Museum & Gallery, Medan.
Saya berhenti sejenak membetulkan tripod untuk siaran live di CNN Indonesia.Ketika itu ada rasa ingin berada di sana.
Sebenarnya sejak jauh-jauh hari saya sudah ingin berangkat ke Medan. Selain ingin melihat langsung Rapimnas, saya juga ingin bertemu dengan saudara-saudara Melayu dari berbagai daerah.
Sudah lama rasanya tidak berada dalam sebuah pertemuan yang mempertemukan banyak orang dengan latar belakang yang sama-sama memiliki perhatian terhadap dunia Melayu dan Islam.
Apalagi Ketua Umum DMDI Kalimantan Selatan, H. Ibnu Sina, sebelumnya sudah memberi sinyal agar pengurus DMDI termasuk saya bisa ikut berpartisipasi dalam pertemuan tersebut.
Beberapa nama yang hadir juga membuat saya semakin tertarik. Ada Datuk Zainal Husein, Hazelin Thalib, Datuk Joya Rasyid dan Puan Idayu yang mewakili Presiden Dunia Melayu Dunia Islam.
Namun pekerjaan di Banua membuat rencana itu harus saya tunda.
Liputan khusus karhutla sedang membutuhkan perhatian. Saya tidak mungkin meninggalkan lapangan ketika masyarakat masih menghadapi asap, petugas masih bekerja dan informasi mengenai kondisi di sejumlah titik masih dibutuhkan publik.
Begitulah kehidupan seorang jurnalis. Ada kalanya rencana perjalanan harus kalah dengan pekerjaan yang sedang berlangsung di depan mata.
Akhirnya, kegiatan penting di Medan saya ikuti dari kejauhan.
Saya membaca informasi yang dibagikan teman-teman, melihat foto-foto kegiatan dan mencoba menangkap pesan yang disampaikan dalam Rapimnas tersebut.
Dari semua yang saya baca, ada satu hal yang membuat saya tertarik, bagaimana DMDI bisa memberi manfaat yang lebih nyata bagi masyarakat.
Ketua Umum DMDI Indonesia, Datuk H. Said Aldi Al Idrus, dalam sambutannya menekankan pentingnya keberadaan DMDI agar memberikan manfaat nyata bagi umat dan masyarakat, terutama ketika terjadi bencana maupun musibah kemanusiaan.

Menurut pandangan saya, pesan itu sangat tepat.
Organisasi kemasyarakatan pada akhirnya akan dinilai dari apa yang dikerjakannya ketika masyarakat membutuhkan. Bukan hanya dari banyaknya kegiatan, ramainya pertemuan atau luasnya jaringan yang dimiliki.
Ketika sebuah keluarga kehilangan rumah karena bencana, misalnya, yang mereka perlukan bukan sekadar kata-kata simpati. Mereka membutuhkan makanan, pakaian, tempat tinggal sementara, layanan kesehatan dan bantuan untuk kembali menata kehidupan.
Demikian pula saat anak-anak harus berhenti sekolah karena keluarganya terkena musibah, mereka membutuhkan perhatian agar masa depannya tidak ikut menjadi korban.
Saya tertarik ketika DMDI Indonesia memberikan perhatian kepada masyarakat yang terdampak musibah di Nusa Tenggara Timur. NTT mungkin berada jauh dari Medan dan Kalimantan Selatan, tetapi kepedulian memang tidak seharusnya berhenti karena jarak.
Justru di situlah arti sebuah jaringan persaudaraan.
Kalau sebuah organisasi memiliki jaringan yang luas, maka yang seharusnya ikut meluas adalah kemampuannya membantu. Ketika ada daerah yang mengalami musibah, informasi dapat segera diteruskan, bantuan dapat dihimpun, relawan dapat dikoordinasikan dan orang-orang yang memiliki kemampuan dapat dipertemukan dengan mereka yang membutuhkan.
Saya membayangkan DMDI ke depan memiliki semacam jaringan kemanusiaan yang bisa bekerja lintas daerah.
Tidak perlu terlalu rumit.
Ketika bencana terjadi, ada orang yang tahu siapa yang harus dihubungi. Ada kelompok yang siap mengumpulkan bantuan. Ada relawan yang bisa bergerak. Ada pengusaha yang bersedia menyumbang. Ada tenaga kesehatan yang dapat membantu. Ada jaringan media yang menyampaikan informasi secara benar kepada publik.
Kalau semua itu terhubung, kekuatan DMDI akan terasa jauh lebih besar.
Dan yang paling penting, masyarakat akan merasakan kehadirannya.
Pikiran saya kemudian kembali kepada Banua.
Saat ini perhatian saya memang sedang tersita oleh karhutla. Setiap hari informasi dari lapangan terus bergerak. Titik api berubah, asap menyebar, petugas bekerja dan masyarakat berusaha menjalankan aktivitas dalam situasi yang tidak selalu nyaman.
Saya melihat sendiri bagaimana persoalan seperti ini memengaruhi kehidupan warga.
Ada yang mengurangi aktivitas di luar rumah. Ada orang tua yang lebih khawatir terhadap anak-anaknya. Ada warga yang harus menyesuaikan kegiatan sehari-hari. Ada petugas dan relawan pemadam kebakaran swasta yang berhadapan dengan panas dan asap ketika melakukan pemadaman.
Karena itu saya melihat bencana dari sisi yang berbeda.
Di balik sebuah peristiwa selalu ada manusia yang harus menjalani hari-harinya.
Angka luasan lahan terbakar memang penting. Jumlah titik panas penting. Jumlah personel dan peralatan yang dikerahkan juga penting. Tetapi di balik semua angka itu menurut sahabat saya, Jurnalis Radio Elshinta Jakarta, Syahriyanto Ruslan, ada warga yang ingin hidup normal kembali.
Persoalan seperti inilah yang menurut saya membutuhkan perhatian banyak pihak, termasuk organisasi kemasyarakatan.
DMDI tentu tidak harus masuk ke semua persoalan dan mengambil pekerjaan pemerintah. Ada ruang yang lebih tepat, yakni membantu ketika masyarakat membutuhkan dukungan tambahan.
Bantuan untuk warga terdampak, dukungan bagi relawan, kepedulian terhadap anak-anak, penggalangan dana, bantuan kebutuhan dasar, sampai kegiatan pemulihan setelah bencana selesai merupakan bentuk kerja yang bisa dilakukan.
Sebab bencana tidak selesai ketika api padam.
Ada fase setelahnya yang sering kali tidak terlalu banyak dibicarakan. Masyarakat harus membersihkan lingkungan, memperbaiki rumah, kembali bekerja dan memulihkan kehidupan yang sempat terganggu.
Kerja kemanusiaan justru dibutuhkan dalam fase panjang seperti itu.
Saya kira pesan kemanusiaan DMDI juga perlu diperluas ke bidang pendidikan dan ekonomi masyarakat. Anak-anak muda Melayu membutuhkan kesempatan untuk belajar dan berkembang.
Pelaku UMKM membutuhkan akses, pendampingan dan jaringan pasar. Masyarakat membutuhkan pengetahuan dan keterampilan agar mampu berdiri lebih kuat menghadapi perubahan.
DMDI mempunyai jaringan untuk mempertemukan banyak potensi tersebut.
Ada tokoh masyarakat, akademisi, pengusaha, ulama, profesional, pemuda dan komunitas yang tersebar di berbagai daerah. Kalau mereka dipertemukan bukan hanya untuk bersilaturahmi, tetapi juga untuk mengerjakan sesuatu yang konkret, manfaatnya tentu akan jauh lebih besar.
Saya kira semangat persaudaraan Melayu dan Islam memang harus bergerak ke arah itu.
Bagi saya, itulah bentuk persaudaraan yang paling sederhana sekaligus paling sulit. Sederhana karena semua orang bisa memahaminya, tetapi sulit karena membutuhkan kemauan untuk benar-benar turun tangan.
DMDI mempunyai peluang besar untuk memainkan peran tersebut.
Bukan karena namanya besar, tetapi karena jaringan persaudaraannya luas.
Saya sendiri mungkin belum berkesempatan datang ke Medan tahun ini. Saya tidak ikut duduk dalam forum Rapimnas, tidak ikut berdiskusi secara langsung dan tidak sempat bersalaman dengan saudara-saudara Melayu yang hadir.
Tetapi dari Banua saya tetap bisa mengikuti apa yang sedang dibicarakan.
Dan sebagai seorang jurnalis, saya melihatnya dari sudut yang sedikit berbeda.
Dunia Melayu Dunia Islam memiliki jaringan yang besar. Tantangannya sekarang adalah membuat jaringan tersebut semakin berguna bagi kehidupan masyarakat.
Pendidikan perlu diperkuat agar anak-anak memiliki masa depan yang lebih baik. Ekonomi masyarakat perlu didorong agar keluarga memiliki sumber penghidupan yang lebih kuat.
Generasi muda perlu diberi ruang agar tidak hanya menjadi penonton. Ketika bencana datang, masyarakat membutuhkan jaringan yang bisa bergerak cepat. Semua itu adalah pekerjaan yang tidak akan selesai hanya dengan satu Rapimnas.
Tetapi setidaknya sebuah pertemuan nasional bisa menjadi tempat untuk memulai kesepakatan bahwa organisasi harus semakin dekat dengan persoalan masyarakat.Dan ini sudah dilakukan saudara-saudara saya di DMDI.
Dari Banua, saya kira itulah catatan sederhana untuk Rapimnas DMDI Indonesia 2026.
*Penulis adalah Jurnalis CNN Indonesia – Humas Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI) Kalsel.
