CERITA INDAH SEBUAH KEGAGALAN
Catatan ringan Muhammad Risanta
Suatu pagi, aku menerima chat WhatsApp dari seorang sahabat lama. Tidak banyak yang ia tuliskan.
Ia hanya memohon doa dan berharap aku tetap memberikan dukungan karena sebuah harapan yang sudah cukup lama ia perjuangkan akhirnya belum berhasil diwujudkan. Ia gagal menjadi seorang komisaris di sebuah bank di Ibu Kota.
Aku bisa membayangkan bagaimana perasaannya. Menjadi komisaris bukan sekadar soal mendapatkan sebuah jabatan. Ada perjalanan panjang, pengalaman, kompetensi, reputasi, dan tentu saja harapan yang ikut dipertaruhkan. Ketika proses itu berakhir dengan kegagalan, tentu ada rasa kecewa yang tidak mudah dijelaskan hanya dengan beberapa kalimat.
Aku pun membalas pesannya dengan sebuah kutipan Nelson Mandela yang menurutku sangat tepat untuk situasi tersebut.
“Do not judge me by my success, judge me by how many times I fell down and got back up again.”
Jangan menilaiku dari keberhasilan yang diraih, tetapi nilailah dari berapa kali aku jatuh dan kemudian mampu bangkit kembali.
Kalimat Nelson Mandela itu sederhana, tetapi maknanya dalam. Kita sering kali melihat seseorang hanya dari hasil akhirnya. Ketika berhasil, kita menyebutnya hebat, pintar, beruntung, bahkan sukses. Sebaliknya, ketika seseorang gagal, kita dengan mudah memberikan label seolah-olah seluruh perjalanan hidupnya juga gagal.

Padahal, hidup manusia tidak sesederhana itu.
Seseorang bisa gagal mendapatkan jabatan, tetapi berhasil membangun keluarga yang baik. Seseorang bisa gagal dalam bisnis, tetapi berhasil menemukan profesi yang lebih sesuai dengan dirinya.
Seseorang bisa berkali-kali gagal dalam sebuah seleksi, tetapi justru menemukan jalan hidup yang jauh lebih bermakna setelahnya.
Karena itu, aku pribadi percaya bahwa satu kegagalan tidak pernah cukup untuk menjadi ukuran keberhasilan seseorang.
Jatuh Tidak Berarti Selesai
Orang Jepang memiliki sebuah peribahasa yang sangat sederhana tetapi kuat maknanya yakni “ Fall seven times, stand up eight,”. Jatuh tujuh kali, bangkitlah delapan kali.
Aku kira filosofi itu relevan dengan kehidupan siapa saja. Tidak ada manusia yang sepanjang hidupnya selalu berada dalam keadaan berhasil. Ada saatnya kita berada di atas, ada waktunya kita harus turun dan merasakan pahitnya kegagalan. Persoalannya bukan seberapa sering kita jatuh, melainkan apakah setelah jatuh kita masih memiliki kemauan untuk berdiri dan melanjutkan perjalanan.
Seorang sahabat sekaligus motivator dari lembaga ISFO, H. Ibnu Sina, pernah mengatakan kepada diriku secara pribadi bahwa kegagalan merupakan bagian alami dari perjalanan hidup.
Menurutnya, kegagalan tidak selalu harus dipandang sebagai sesuatu yang buruk karena dari sanalah seseorang belajar mengenali dirinya, memperbaiki kekurangan, sekaligus mengukur seberapa kuat dirinya menghadapi tekanan.
Aku pun sepakat dengan pandangan itu.
Sebab sering kali kita baru mengenal kemampuan diri sendiri ketika berada dalam keadaan sulit. Ketika semuanya berjalan lancar, kita merasa kuat. Namun ketika rencana berantakan, usaha gagal, jabatan yang diharapkan tidak diperoleh, atau kesempatan yang sudah di depan mata tiba-tiba lepas, di situlah ketahanan mental seseorang benar-benar diuji.
Kegagalan memaksa kita berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri apa yang sebenarnya kurang dari perjalanan saya?
Mungkin perencanaannya belum matang. Mungkin usaha yang dilakukan belum cukup konsisten. Mungkin strategi yang dipakai sudah tidak sesuai dengan keadaan. Bisa pula ada faktor lain di luar kemampuan kita yang memang tidak dapat dikendalikan.
Yang paling penting adalah jangan berhenti pada pertanyaan, “Mengapa saya gagal?”
Cobalah mengubahnya menjadi, “Apa yang bisa saya pelajari dari kegagalan ini?”
Pertanyaan kedua akan membawa kita ke tempat yang berbeda.

Aku Juga Pernah Merasakan Pahitnya Gagal
Aku menulis tentang kegagalan bukan karena selalu berhasil dalam kehidupan. Justru sebaliknya, aku juga pernah berada dalam posisi yang sama seperti banyak orang yang sedang kecewa hari ini.
Jujur saja aku pernah mencoba berusaha dan menjalankan bisnis, tetapi akhirnya harus berhadapan dengan kebangkrutan. Ada masa ketika kondisi itu membuat kehidupanku cukup terpuruk. Bahkan ada orang yang kemudian menganggapku tidak akan mampu bangkit lagi.
Aku tidak menyalahkan mereka.
Barangkali pada waktu itu memang demikianlah keadaan yang terlihat dari luar. Tetapi kehidupan seseorang tidak pernah bisa dinilai hanya dari satu babak.
Hingga aku kemudian mencoba bangkit dan mencari jalan lain. Aku memutuskan memilih profesi yang mungkin pada awalnya tidak pernah dibayangkan akan membawa perjalanan hidup sejauh ini.
Dari dunia jurnalistik, diriku menemukan banyak hal yang tidak didapatkan ketika menjalankan usaha. Saat ini aku bertemu banyak orang, belajar memahami persoalan masyarakat, mengikuti berbagai peristiwa, dan terus belajar dari kehidupan.
Hari ini aku pun menjalani profesi sebagai jurnalis CNN Indonesia sekaligus akademisi.
Apakah aku sudah sukses besar? Aku kira belum.
Aku masih sederhana dan juga tidak hidup dalam kemewahan yang luar biasa. Tetapi aku belajar untuk tidak mengukur kebahagiaan hanya dari jumlah uang, jabatan, atau seberapa tinggi posisi seseorang dalam struktur organisasi.
Aku bersyukur masih bisa bekerja, menulis, mengajar, bertemu banyak orang, dan melakukan sesuatu yang kusukai. Bagiku, itu juga bagian dari keberhasilan.
Aku pun pernah mengalami kegagalan dalam berbagai proses kompetisi dan pencalonan. Pernah mengikuti proses untuk menjadi calon anggota sebuah lembaga komisi, pernah mencoba peluang di lembaga keuangan zakat, perbankan, bahkan beberapa proses pencalonan komisaris.
Hasilnya tidak selalu seperti yang diharapkan.
Ada yang berhenti di tengah jalan. Ada yang tidak lolos. Ada pula yang akhirnya menjadi kesempatan bagi orang lain.
Dulu mungkin jujur saja merasa kecewa. Sekarang aku lebih bisa menerima semuanya sebagai bagian dari perjalanan.
Barangkali memang belum waktunya. Barangkali ada sesuatu yang belum aku miliki dan ada cerita Tuhan untuk ke depannya.
Atau mungkin ada jalan lain yang sedang disiapkan, tetapi belum aku lihat. Tidak Semua yang Kita Inginkan Harus Menjadi Milik Kita
Dalam kehidupan, kita sering menganggap sebuah kegagalan sebagai pertanda bahwa kita tidak cukup baik. Padahal belum tentu demikian.
Ada hal-hal yang memang tidak bisa kita kendalikan.
Kita dapat mempersiapkan diri sebaik mungkin, tetapi keputusan akhir tetap berada di tangan orang lain. Kita bisa bekerja keras membangun usaha, tetapi keadaan ekonomi dapat berubah.
Kita bisa mengikuti sebuah seleksi dengan pengalaman yang cukup, tetapi tetap ada orang lain yang dinilai lebih tepat untuk posisi tersebut.
Jadi tepat kalau Pak Haji Ibnu sina menitipkan pesan indah, kita membutuhkan kedewasaan dalam menerima kenyataan.
Bukan berarti kita harus pasrah dan berhenti berusaha. Justru sebaliknya, menerima kegagalan dengan lapang dada membuat kita lebih mudah melihat apa yang harus dilakukan berikutnya.
Kita evaluasi apa yang kurang, kita perbaiki apa yang salah, kemudian kita mencoba lagi ketika kesempatan datang.
Sebab hidup tidak selalu memberikan apa yang kita inginkan pada waktu yang kita tentukan sendiri.
Kadang kita harus menunggu dan harus berbelok.
Kadang kita harus kehilangan sesuatu terlebih dahulu sebelum menemukan sesuatu yang lebih sesuai dengan perjalanan hidup kita.
Aku sering berpikir bahwa keberhasilan memang menyenangkan, tetapi kegagalan justru sering memberikan pelajaran yang lebih panjang.
Ketika berhasil, orang-orang datang memberikan ucapan selamat. Kita pun merasa yakin bahwa keputusan yang kita ambil sudah benar. Namun ketika gagal, kita memiliki waktu untuk melihat diri sendiri dengan lebih jujur.
Kita mulai memahami kelemahan yang selama ini mungkin tertutup oleh rasa percaya diri. Kita belajar bahwa kerja keras harus disertai strategi.
Kita memahami bahwa kemampuan saja tidak cukup tanpa konsistensi. Kita juga belajar bahwa dalam kehidupan ada banyak hal yang tidak bisa dipaksakan.
Itulah sebabnya kegagalan sering aku sebut sebagai guru yang mahal.
Karena kegagalan mengajarkan sesuatu melalui pengalaman yang tidak menyenangkan. Kadang kita harus membayar dengan waktu, tenaga, uang, bahkan harga diri.
Tetapi jika kita mau belajar, pengalaman itu dapat menjadi modal yang sangat berharga untuk perjalanan berikutnya.
Orang yang pernah gagal biasanya memiliki cerita yang lebih panjang.
Ia tahu rasanya kehilangan dan diremehkan.Bahkan ia tahu bagaimana rasanya bekerja keras tetapi hasilnya belum sesuai harapan.
Dan karena pernah mengalami semuanya, ia seharusnya menjadi lebih bijaksana ketika melihat orang lain sedang berada dalam posisi yang sama.
Jangan Terlalu Cepat Memberikan Vonis
Barangkali ini yang sering kita lupakan. Kita terlalu mudah memberikan penilaian kepada orang lain hanya berdasarkan apa yang terlihat hari ini.
Ketika seseorang gagal mendapatkan jabatan, kita menyebutnya tidak berhasil. Ketika seorang pengusaha bangkrut, kita menganggap bisnisnya habis. Ketika seseorang tidak lolos dalam sebuah seleksi, kita merasa ia kalah.
Padahal kita tidak pernah tahu cerita lengkap di balik kegagalan itu.
Kita juga tidak tahu apa yang akan terjadi enam bulan atau satu tahun kemudian.
Bisa saja orang yang hari ini gagal justru menjadi orang yang menemukan jalan baru. Bisa saja orang yang hari ini kehilangan jabatan justru membangun sesuatu yang lebih bermanfaat. Bisa saja seseorang yang pernah bangkrut kemudian menjadi orang yang paling banyak membantu orang lain belajar berusaha.
Hidup selalu memiliki kejutan. Masih Ada Hari Esok.
Kembali kepada sahabatku tadi.Aku tidak tahu apakah ia akhirnya akan menjadi komisaris bank atau tidak. Mungkin kesempatan itu datang lagi di kemudian hari. Mungkin juga tidak.
Tetapi aku yakin, satu kegagalan tidak akan menghapus seluruh pengalaman dan kemampuan yang sudah ia bangun selama bertahun-tahun.
Jabatan hanyalah salah satu bagian dari perjalanan hidup.
Yang lebih penting adalah bagaimana seseorang menggunakan pengalaman, pengetahuan, jaringan, dan kemampuannya untuk terus bergerak setelah sebuah kesempatan tidak berhasil diraih.
Karena itu, jika hari ini kita gagal, tidak perlu malu mengakuinya.
*Penulis adalah Jurnalis CNN Indonesia dan Akademisi.
