ASAP OH ASAP
Langit Kalsel Mengirim Pesan yang Tak Bisa Lagi Diabaikan
Pagi di Banjarbaru beberapa hari terakhir tidak benar-benar pagi. Matahari seperti enggan menembus lapisan kelabu yang menggantung rendah.
Dari balik kaca kendaraan, bangunan, pepohonan dan orang-orang di pinggir jalan tampak samar. Pengendara menyalakan lampu, sebagian mengenakan masker, sementara kendaraan bergerak lebih pelan karena jarak pandang terus memendek.
Saya melihat pemandangan itu dan merenung kembali, mengapa setiap musim kemarau, asap selalu datang lagi?
Selama lebih dari tiga dekade bekerja sebagai wartawan, saya cukup sering berhadapan dengan peristiwa kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Selatan.
Saya pernah melihat api dari jarak dekat, menyusuri jalan yang dipenuhi asap, berbicara dengan warga yang rumahnya berada tidak jauh dari lahan terbakar, dan kembali ke ruang redaksi membawa gambar serta cerita yang harus segera ditayangkan.
Di lapangan, asap tidak pernah terasa seperti angka dalam laporan. Mata menjadi perih, tenggorokan terasa kering, napas tidak nyaman dan jarak pandang tiba-tiba menjadi persoalan keselamatan.
Kamera yang semula diarahkan untuk merekam peristiwa akhirnya menangkap satu pemandangan yang sama, fenomena warga yang berusaha tetap menjalankan kehidupan di tengah udara yang tidak lagi bersahabat.
Agustus 2026 memperlihatkan kembali persoalan tersebut. Puncak musim kemarau membuat sejumlah kawasan di Kalimantan Selatan semakin kering dan titik panas muncul di berbagai wilayah.
Banjarmasin, Banjarbaru, Kabupaten Banjar, Tanah Laut, Barito Kuala, Tapin hingga sebagian wilayah Hulu Sungai ikut merasakan dampaknya. BPBD Kota Banjarmasin mencatat 924 titik panas pada 18 Agustus, terdiri atas 40 titik kategori rendah, 850 kategori sedang dan 34 kategori tinggi.
Angka itu cukup besar untuk membuat kita berhenti sejenak dan bertanya, bukan hanya berapa banyak titik panas yang terdeteksi, melainkan berapa banyak di antaranya yang berpotensi berkembang menjadi kebakaran dan membawa asap ke permukiman.

Bagi wartawan yang bekerja di lapangan, perubahan jarak pandang menjadi tanda yang paling mudah dikenali. Jalan yang biasanya terlihat jelas mendadak seperti lorong putih. Pengemudi mengurangi kecepatan dan menyalakan lampu kendaraan.
Sudah pasti warga yang harus bekerja di luar rumah tetap berjalan dengan masker menutup hidung dan mulut. Pada saat seperti itu, persoalan karhutla tidak lagi berada jauh di kawasan hutan atau lahan kosong. Asap telah masuk ke ruang hidup masyarakat.
Itulah sebabnya saya tidak melihat karhutla hanya sebagai persoalan luas lahan yang terbakar. Angka hektare penting untuk mengetahui skala kerusakan, tetapi ada angka-angka lain yang sering tidak terlihat dalam laporan.
Berapa banyak anak yang harus mengurangi aktivitas di luar rumah? Berapa banyak pedagang yang kehilangan pembeli? Berapa banyak pekerja lapangan yang tetap bekerja meski kualitas udara memburuk karena penghasilan mereka bergantung pada hari itu? Bagaimana penerbangan di Bandara Internasional Syamsudin Noor ketika jarak pandang turun drastis?
Pertanyaan sepertini menunjukkan bahwa asap membawa persoalan lingkungan masuk langsung ke wilayah kesehatan, transportasi dan ekonomi masyarakat.
Kualitas udara yang pernah tercatat di Banjarbaru semakin memperjelas gambaran itu. Konsentrasi PM2.5 mencapai 389,4 mikrogram per meter kubik. Bagi masyarakat awam, PM2.5 mungkin terdengar seperti istilah teknis yang hanya dipahami petugas pemantau kualitas udara.
Namun tubuh manusia tidak membutuhkan penjelasan ilmiah untuk merasakan udara yang buruk. Mata perih, tenggorokan kering, napas terasa tidak nyaman dan aktivitas di luar rumah menjadi terganggu adalah pengalaman yang langsung dirasakan.
Dalam beberapa liputan, saya belajar bahwa dampak bencana tidak pernah dibagi secara merata. Orang yang bekerja di dalam ruangan relatif lebih mudah mengurangi paparan asap. Mereka dapat menutup pintu dan jendela, bekerja dari rumah atau menggunakan alat penyaring udara.
Situasinya berbeda bagi pedagang kaki lima, petani, pengemudi ojek, pekerja konstruksi dan buruh harian. Bagi mereka, berada di luar rumah bukan pilihan gaya hidup, melainkan bagian dari pekerjaan. Imbauan mengurangi aktivitas di luar ruangan tentu penting, tetapi kebijakan perlindungan masyarakat juga perlu memahami kenyataan ekonomi tersebut.
Karhutla memperlihatkan hubungan yang sangat dekat antara lingkungan dan ekonomi rakyat. Wajar saja saat terjadi asap menebal, aktivitas perdagangan dapat melambat. Perjalanan menjadi lebih lama dan berisiko. Distribusi barang dapat terganggu.
Kata teman saya Rifqi Amrulloh, seorang Dosen di Banjarbaru, penerbangan yang tertunda bukan hanya persoalan penumpang yang harus menunggu di bandara, melainkan juga persoalan agenda bisnis, mobilitas pekerja dan perputaran ekonomi.
Ada biaya yang terlihat dalam laporan kerugian, ada pula biaya sosial-ekonomi yang tersebar di banyak rumah tangga dan ini tidak mudah dihitung.
Sebagai akademisi, saya melihat persoalan itu dari sudut pembangunan daerah. Kita terbiasa mengukur pembangunan melalui pertumbuhan ekonomi, investasi, infrastruktur dan peningkatan pendapatan.
Ukuran tersebut memang penting, tetapi pembangunan tidak bisa dilepaskan dari kondisi lingkungan tempat pembangunan berlangsung. Hutan, lahan gambut, sungai, udara dan sumber air merupakan bagian dari modal pembangunan yang sering baru terasa nilainya ketika mulai rusak. Makanya kualitas lingkungan menurun, masyarakat dan pemerintah akhirnya membayar biaya yang jauh lebih besar.
Pengalaman sebagai wartawan juga membuat saya memahami bahwa angka dan cerita manusia tidak boleh dipisahkan. Angka 924 titik panas menjelaskan skala persoalan, tetapi belum menjelaskan bagaimana seorang ibu mengambil keputusan untuk tidak membawa anaknya keluar rumah.
Data mengenai jarak pandang memberi gambaran teknis, tetapi pengemudi yang memperlambat kendaraan karena jalan di depannya nyaris tidak terlihat memberikan wajah warga kebanyakan dari persoalan tersebut.
Karhutla juga semestinya membawa kita pada pertanyaan mengenai tata kelola. Mengapa kebakaran berulang setiap musim kemarau? Seberapa jauh pencegahan dilakukan sebelum lahan benar-benar kering?
Apakah kawasan rawan sudah dipetakan dengan baik? Apakah data hotspot dapat segera diterjemahkan menjadi tindakan di lapangan? Bagaimana pengawasan terhadap pengelolaan lahan dilakukan? Pertanyaan seperti itu lebih penting daripada sekadar mencari siapa yang harus disalahkan setelah asap memenuhi kota.
Teknologi sebenarnya telah memberikan banyak alat untuk melakukan pencegahan. Data satelit, hotspot, Sistem Informasi Geografis, pemetaan kawasan rawan, kamera pemantau dan sistem peringatan dini dapat membantu pemerintah melihat persoalan lebih cepat.
Persoalannya bukan semata-mata apakah teknologi tersedia, melainkan bagaimana informasi tersebut dipakai untuk mengambil keputusan. Titik panas yang muncul di layar harus segera diverifikasi, wilayah berisiko harus diketahui, masyarakat harus mendapatkan informasi dan aparat di lapangan harus memiliki mekanisme respons yang jelas.
Bagi saya, keberhasilan penanganan karhutla tidak seharusnya hanya diukur dari seberapa cepat api dipadamkan. Pemadaman memang penting, tetapi pencegahan jauh lebih menentukan karena keberhasilannya justru tidak menghasilkan gambar dramatis untuk ditayangkan di televisi.
Tidak ada api yang membesar. Tidak ada asap yang menutup jalan. Tidak ada penerbangan yang terganggu. Tidak ada keluarga yang harus menutup rapat pintu rumah. Keberhasilan pencegahan sering kali tidak terlihat, tetapi dampaknya justru paling besar.
Persoalan lain yang perlu dibicarakan adalah kebiasaan membakar lahan dan sampah. Larangan saja tidak cukup. Di sejumlah wilayah, pembakaran berkaitan dengan kebiasaan pengelolaan lahan yang telah berlangsung lama dan kondisi ekonomi masyarakat.
Maka pendekatannya perlu menggabungkan edukasi, pengawasan dan pilihan pengelolaan yang realistis. Kebijakan yang hanya berhenti pada larangan akan mudah kehilangan daya ketika berhadapan dengan kebutuhan masyarakat di lapangan.
Dari berbagai liputan yang pernah dilakukan, masyarakat sebenarnya memiliki pengetahuan mengenai lingkungannya sendiri. Mereka tahu perubahan arah angin, mengenali kondisi lahan yang mulai kering dan memahami tanda-tanda musim.
Pengetahuan seperti itu tidak seharusnya dipandang sebagai sesuatu yang berseberangan dengan teknologi. Data satelit dapat memberikan gambaran dari atas, sementara masyarakat memberikan informasi dari permukaan tanah.
Pemerintah memiliki kewenangan, perguruan tinggi memiliki pengetahuan, masyarakat memiliki pengalaman dan media memiliki ruang untuk mengawasi sekaligus menjelaskan persoalan kepada publik.
Yang membuat saya lebih khawatir adalah kemungkinan asap perlahan dianggap sebagai sesuatu yang biasa. Tahun berganti, kemarau datang, titik panas muncul, asap menyebar, masyarakat memakai masker, pemerintah melakukan pemadaman, media memberitakan, kemudian semuanya kembali normal setelah hujan turun.
Siklus seperti itu dapat membuat kita terbiasa dengan keadaan yang sesungguhnya tidak normal. Ketika langit kelabu setiap kemarau dianggap sebagai bagian dari kalender tahunan, barangkali yang perlu diperiksa bukan hanya kualitas udara, tetapi juga cara kita memandang persoalan.
Asap tidak mengenal batas administrasi. Api di satu wilayah dapat membawa dampak ke wilayah lain. Banjarmasin, Banjarbaru, Kabupaten Banjar, Tanah Laut atau Barito Kuala tidak memiliki tembok yang dapat menghentikan asap.
Itulah sebabnya penanganan karhutla membutuhkan kerja lintas wilayah, pertukaran data yang cepat dan koordinasi yang tidak berhenti pada batas kewenangan administratif. Kebakaran mungkin bermula di satu tempat, tetapi dampaknya dapat menjadi urusan banyak daerah.
Saya selalu percaya bahwa sebuah berita tidak selesai ketika gambar ditayangkan atau narasi berita di media online tercepat. Berita yang baik selalu mengusik wartawan kembali bertanya.
Setelah api padam, apa yang diperbaiki? Setelah hujan turun, apa yang dipelajari? Setelah udara kembali jernih, apakah kita masih mengingat bahwa beberapa hari sebelumnya orang tua khawatir membawa anaknya keluar rumah dan pengemudi harus menyalakan lampu kendaraan sejak pagi?
“Asap oh asap.”
Kalimat itu mungkin terdengar seperti keluhan sederhana dari seseorang yang sudah terlalu sering melihat pemandangan serupa. Bagi saya, kalimat tersebut justru menyimpan kegelisahan yang lebih panjang.
Asap adalah jejak dari persoalan yang saling berkaitan cara kita mengelola lahan, menjaga hutan, mengatur ruang, mengawasi aktivitas manusia dan merancang pembangunan daerah. Asap sejatinya memang tidak berhenti sebagai kabut yang mengambang di udara karena di baliknya ada keputusan-keputusan manusia.
Maka saat hujan nanti turun dan langit Kalsel kembali biru, jalan-jalan kembali terlihat jelas dan masyarakat kembali beraktivitas tanpa masker, persoalan ini barangkali tidak lagi menjadi berita utama.
Namun justru pada saat itulah pekerjaan penting seharusnya dimulai. Kita memiliki waktu untuk memperbaiki sistem sebelum kemarau berikutnya datang, sebelum titik panas kembali muncul di layar, sebelum asap kembali masuk ke rumah-rumah dan sebelum kita kembali bertanya dengan pertanyaan yang sama.
Asap oh asap.
*Penulis adalah Jurnalis CNN Indonesia – Akademisi.
