PPUMI Dorong Pelaku Usaha Berani Beradaptasi
Ketua Pemberdayaan Perempuan UMKM Indonesia (PPUMI) Wilayah Kalimantan Selatan, Hj. Antung Malasari bersama pengurus lainnya dan UMKM mendampingi Tim STIMI Banjarmasin. (Foto - Olpah Sari).
UMKM Kalsel Dituntut Naik Kelas di Era Digital
Perkembangan teknologi digital mengubah cara pelaku usaha menjalankan bisnis.
Bagi sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), kemampuan menguasai pemasaran digital kini semakin menentukan kemampuan produk menembus pasar yang lebih luas.
Ketua Pemberdayaan Perempuan UMKM Indonesia (PPUMI) Wilayah Kalimantan Selatan, Hj. Antung Malasari, mengatakan kualitas produk saja tidak lagi cukup untuk memenangkan persaingan.
Pelaku UMKM harus mampu membangun merek, memperkuat portofolio usaha, memanfaatkan media sosial, hingga menjaga hubungan dengan konsumen.
“Produk yang bagus harus diikuti dengan kemampuan untuk memasarkannya, membangun branding, membangun portofolio, memanfaatkan media sosial serta menjaga konsumen,” kata Antung Malasari di sela-sela Pelatihan Digital Marketing Kerjasama STIMI Banjarmasin, Rabu (19/08/2026).
Menurut dia, digitalisasi telah menjadi bagian penting dalam pengembangan usaha.
Teknologi tidak semestinya dipandang sebagai sesuatu yang sulit, melainkan sebagai instrumen untuk memperluas pasar, memperkenalkan produk, sekaligus membangun kedekatan dengan konsumen.

Antung menilai kolaborasi antara dunia akademik dan pelaku usaha menjadi salah satu langkah strategis untuk memperkuat kapasitas UMKM.
Perguruan tinggi tidak hanya berperan dalam memberikan teori, tetapi juga dapat menjadi ruang pembelajaran praktis agar pengetahuan yang diperoleh benar-benar dapat diterapkan dalam kegiatan usaha.
“Kami percaya bahwa kolaborasi antara perguruan tinggi, akademik dengan unit usaha merupakan langkah penting untuk meningkatkan kapasitas dan daya saing UMKM kita,” ujarnya.
Melalui kegiatan pembelajaran dan pendampingan, pelaku UMKM diharapkan memperoleh pengetahuan yang dapat langsung diterapkan dalam usaha masing-masing.
Materi mengenai pemasaran, branding, media sosial, dan pemanfaatan teknologi diharapkan tidak berhenti sebagai pengetahuan, melainkan menjadi bagian dari strategi bisnis sehari-hari.
Antung juga mengapresiasi antusiasme peserta yang dinilai tidak takut belajar dan beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Bagi dia, keberanian untuk terus belajar justru menjadi modal penting bagi pelaku usaha di tengah perubahan lingkungan bisnis yang berlangsung cepat.
“Yang akan bertahan bukan hanya mereka yang memiliki modal besar, tetapi mereka yang mau terus belajar, mau beradaptasi dengan teknologi, dan terus melakukan inovasi,” katanya.
Dia menambahkan, UMKM yang mampu beradaptasi memiliki peluang lebih besar untuk memperluas pasar dan meningkatkan daya saing. Terlebih, perkembangan platform digital telah membuka akses pemasaran yang sebelumnya sulit dijangkau oleh usaha berskala kecil.
Karena itu, penguatan kapasitas SDM UMKM dinilai sama pentingnya dengan penguatan modal usaha. Pelaku UMKM perlu memahami bahwa perkembangan bisnis saat ini tidak hanya ditentukan oleh kualitas barang yang dijual, tetapi juga oleh kemampuan membangun identitas merek, berkomunikasi dengan pasar, membaca perilaku konsumen, dan memanfaatkan teknologi secara efektif.
Bagi Kalimantan Selatan, penguatan UMKM menjadi semakin strategis karena sektor ini memiliki peran dalam membuka lapangan usaha sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat. Transformasi digital diharapkan menjadi pintu bagi UMKM lokal untuk naik kelas dan tidak hanya bertumpu pada pasar sekitar.
Antung berharap kegiatan-kegiatan pembelajaran dan pendampingan dapat melahirkan pelaku UMKM yang lebih percaya diri menghadapi perubahan. Ilmu yang diperoleh, menurut dia, harus segera dipraktikkan agar memberikan dampak nyata terhadap perkembangan usaha.
“Jangan berhenti di pelatihan. Ilmu yang didapat harus diterapkan, dicoba, dievaluasi, kemudian dikembangkan,” pungkasnya.(Olpah Sari).
