Menjaga Jati Diri Credit Union, Puskopdit Kalsel Perkuat SDM Fasilitator
Peserta Training of Trainer (ToT) Pendidikan Dasar Credit Union yang digelar di Hotel Roditha Banjarmasin, 11–14 Agustus 2026, bersama Ketua Pengurus Pusat Koperasi Kredit (Puskopdit) Kalimantan Selatan, Rory Handriano, S.E., M.M., (Foto - Rory).
Pusat Koperasi Kredit (Puskopdit) Kalimantan Selatan memperkuat kapasitas sumber daya manusia (SDM) fasilitator sebagai bagian dari upaya menjaga jati diri dan keberlanjutan gerakan Credit Union (CU) di daerah.
Penguatan tersebut dilakukan melalui Training of Trainer (ToT) Pendidikan Dasar Credit Union yang digelar di Hotel Roditha Banjarmasin, 11–14 Agustus 2026. Kegiatan diikuti pengurus, komite pendidikan, manajer dan trainer dari koperasi kredit primer di bawah Puskopdit Kalsel.
Ketua Pengurus Pusat Koperasi Kredit (Puskopdit) Kalimantan Selatan, Rory Handriano, S.E., M.M., mengatakan pendidikan anggota menjadi bagian penting dalam menjaga karakter Credit Union sebagai gerakan ekonomi yang berbasis pada anggota.
Menurut Rory, Credit Union tidak cukup hanya bertumbuh dari sisi jumlah anggota maupun aktivitas usaha. Pertumbuhan tersebut harus berjalan seiring dengan pemahaman anggota terhadap nilai, prinsip dan tanggung jawab sebagai pemilik sekaligus pengguna layanan koperasi.
“Pendidikan merupakan bagian penting dalam gerakan Credit Union. Anggota harus memahami bukan hanya produk dan layanan, tetapi juga nilai dan prinsip yang menjadi dasar Credit Union,” katanya.

Karena itu, Puskopdit Kalsel mendorong tersedianya fasilitator yang memiliki kemampuan menyampaikan pendidikan anggota secara konsisten dan sesuai dengan karakter peserta.
Rory menilai kebutuhan terhadap fasilitator semakin besar seiring perkembangan Credit Union dan bertambahnya anggota. Pendidikan anggota tidak dapat hanya bergantung pada beberapa orang trainer, tetapi membutuhkan kaderisasi yang dilakukan secara berkelanjutan.
“Fasilitator harus mampu menerjemahkan nilai dan prinsip Credit Union dalam kehidupan anggota. Jadi yang dibangun bukan hanya pengetahuan, tetapi juga kesadaran untuk berpartisipasi dalam koperasi,” ujarnya.
Sementara itu, fasilitator ToT Pendidikan Dasar Credit Union, Munaldus Nerang, mengatakan pelatihan dirancang untuk meningkatkan kemampuan peserta dalam memfasilitasi proses pembelajaran anggota.
Menurut Munaldus, pendidikan orang dewasa atau andragogi menjadi salah satu pendekatan penting dalam pelatihan. Peserta tidak hanya menerima materi, tetapi didorong untuk aktif berdiskusi, berbagi pengalaman dan menghubungkan materi dengan persoalan yang dihadapi anggota dalam kehidupan sehari-hari.
“Seorang fasilitator bukan hanya orang yang menyampaikan materi. Fasilitator harus mampu membangun proses belajar sehingga peserta memahami, mengalami dan kemudian mampu menerapkan nilai-nilai Credit Union,” jelasnya.
Melalui pelatihan tersebut, peserta diharapkan memiliki pemahaman yang lebih utuh mengenai filosofi, nilai, prinsip dan ideologi Credit Union. Mereka juga dibekali kemampuan merancang serta menyampaikan Pendidikan Dasar secara partisipatif.
Munaldus menambahkan, keseragaman pemahaman di antara pengurus, komite pendidikan, manajer dan trainer diperlukan agar pesan utama Credit Union tidak berubah ketika disampaikan kepada anggota di masing-masing koperasi primer.
Penguatan fasilitator juga menjadi bagian dari kaderisasi dalam gerakan Credit Union. Mereka diharapkan mampu menjadi penggerak pendidikan anggota di lembaga masing-masing setelah mengikuti pelatihan.
Bagi Puskopdit Kalsel, pendidikan anggota memiliki dimensi yang lebih luas dibandingkan sekadar pengenalan produk simpanan dan pinjaman. Pendidikan diarahkan untuk membangun anggota yang memahami posisi, hak dan tanggung jawabnya sebagai pemilik koperasi.
Dengan anggota yang memiliki pemahaman tersebut, partisipasi dalam pengambilan keputusan dan pengembangan usaha koperasi diharapkan semakin kuat.
ToT Pendidikan Dasar Credit Union yang berlangsung selama empat hari tersebut menjadi bagian dari upaya Puskopdit Kalsel membangun SDM yang mampu menjaga jati diri Credit Union sekaligus menjawab kebutuhan organisasi di tengah perkembangan ekonomi dan perubahan kebutuhan anggota.
Penguatan pendidikan pada akhirnya diharapkan membuat pertumbuhan Credit Union tidak hanya terlihat dari angka keanggotaan dan aktivitas usaha, tetapi juga dari kualitas partisipasi anggota serta kemampuan koperasi memberikan manfaat ekonomi secara berkelanjutan.(Olpah Sari).
