Anak Muda Mulai Berani Beli Rumah, Cicilan Jadi Investasi Masa Depan
Foto Ilustrasi - Dok Olpah Sari.
Kesadaran generasi muda untuk memiliki rumah sendiri mulai menunjukkan tren positif.
Di tengah gaya hidup konsumtif yang lekat dengan gadget, nongkrong di kafe hingga berbagai kebutuhan hiburan, sebagian anak muda justru mulai berani mengalokasikan penghasilannya untuk membeli rumah.
Fenomena tersebut terlihat dari keberanian pekerja muda mengambil kredit pemilikan rumah dengan tenor hingga 10–15 tahun.
Dengan angsuran sekitar Rp1,2 juta per bulan, rumah dinilai menjadi pilihan investasi jangka panjang yang lebih memberikan kepastian aset.
Salah satu contoh datang dari seorang sopir truk berusia 28 tahun. Dengan penghasilan sebagai pekerja lapangan, dia berani mengambil rumah dengan angsuran sekitar Rp1,7 juta per bulan. Rumah tersebut memiliki nilai sekitar Rp185 juta.
Keputusan tersebut dinilai menunjukkan perubahan cara pandang anak muda dalam mengelola penghasilan. Daripada seluruh pendapatan digunakan untuk kebutuhan konsumtif, sebagian dialihkan untuk membangun aset yang dapat dimiliki dalam jangka panjang.
Hal ini dikemukakan Komisioner BP TaperaDr. Heru Pudyo Nugroho, S.E., M.B.A, saat menghadiri REI Kalsel Expo 2026 di Atrium Duta Mall Banjarmasin, Rabu (12/08/2026).
“Ini yang membuat saya sangat bangga. Ternyata di kalangan anak muda ada keberanian untuk mengambil rumah. Mereka mulai berpikir memiliki aset untuk masa depan, dibandingkan uang habis untuk gadget, nongkrong di kafe dan kebutuhan konsumtif lainnya,” ujarnya.

Menurutnya, cicilan rumah juga dapat dibandingkan dengan biaya tempat tinggal yang harus dikeluarkan setiap bulan.
Seorang pekerja yang selama ini membayar biaya kos sekitar Rp1 juta per bulan, misalnya, dapat mempertimbangkan menambah alokasi pengeluaran untuk cicilan rumah apabila kemampuan finansial memungkinkan.
“Kalau saya seorang sopir seperti ini, daripada membayar kos hampir Rp1 juta setiap bulan, sekarang cicilannya Rp1,7 juta. Dalam 10 tahun rumahnya sudah menjadi milik sendiri. Tentu harus dihitung kemampuan membayarnya,” katanya.
Rumah yang ditawarkan kepada pekerja muda tersebut juga dinilai telah memenuhi kebutuhan dasar hunian. Rumah terdiri dari dua kamar tidur dan satu kamar mandi, dilengkapi lantai, pondasi serta atap dengan kualitas yang baik dan berada dalam kawasan perumahan.
Keberanian memiliki rumah sejak usia muda, menurutnya, perlu didorong dengan perencanaan keuangan yang realistis. Membeli rumah bukan sekadar mengejar status kepemilikan, melainkan bagian dari upaya menyiapkan kebutuhan hidup sekaligus aset untuk masa depan.
“Jangan takut bermimpi memiliki rumah. Kalau ada kesempatan dan kemampuan, manfaatkan dengan perhitungan yang matang. Sedikit demi sedikit, yang penting punya rumah sendiri,” ajaknya memotivasi.(Olpah Sari)
