Generasi Digital Mengubah Wajah Pasar Modal Indonesia
Oleh : Olpah Sari
Jurnalis & Pimpinan Umum Economic Travelling.Com
Dua dekade lalu, pasar modal Indonesia identik sebagai ruang investasi yang hanya dipahami oleh kelompok profesional, pengusaha besar, atau investor dengan pengetahuan ekonomi yang relatif matang.
Bursa saham sering dipersepsikan sebagai dunia yang rumit, penuh istilah teknis, serta membutuhkan modal besar sehingga terasa jauh dari kehidupan masyarakat biasa.
Namun, pemandangan itu perlahan berubah. Di tengah percepatan transformasi digital, muncul fenomena baru yang menarik perhatian. Belakangan ini pasar modal Indonesia justru semakin ramai dihuni oleh generasi muda yang tumbuh bersama teknologi.
Wajah investor Indonesia kini semakin muda. Anak-anak muda berusia di bawah 30 tahun menjadi kelompok dominan dalam struktur investor pasar modal nasional.
Mereka tidak lagi memandang saham, reksa dana, maupun berbagai instrumen investasi sebagai sesuatu yang hanya bisa dimainkan oleh kalangan tertentu, melainkan sebagai bagian dari gaya hidup modern dan strategi membangun masa depan finansial.
Perubahan besar ini memperlihatkan adanya pergeseran cara generasi muda mengelola uang. Jika sebelumnya menabung di rekening bank menjadi pilihan utama, kini investasi mulai menjadi kebiasaan baru.
Bagi sebagian anak muda, memiliki portofolio investasi dianggap sama pentingnya dengan memiliki perangkat digital terbaru, mengikuti perkembangan teknologi, atau membangun personal branding di media sosial.
Fenomena tersebut menjadi salah satu dinamika paling menarik dalam perkembangan industri keuangan Indonesia. Pasar modal yang dahulu identik dengan generasi senior, kini mengalami proses regenerasi investor yang sangat cepat.

Soli Deo Gloria, Kepala Unit Administrasi Produk Investasi Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), mengungkapkan bahwa komposisi investor pasar modal Indonesia saat ini menunjukkan dominasi kelompok usia muda.
“Dari segi umur untuk investor pasar modal masih dikuasai anak muda dengan usia di bawah 30 tahun,” jelas Gloria dalam Workshop Wartawan Pasar Modal di Banjarmasin, Selasa (28/07/2026).
Menurut Gloria, meskipun kondisi pasar saham mengalami tekanan dan pergerakan indeks mengalami penurunan sepanjang tahun berjalan, minat masyarakat untuk berinvestasi tetap menunjukkan pertumbuhan positif.
“Jumlah investor pasar modal di tahun 2026 mencapai 28.961.144 secara nasional, angka ini mengalami kenaikan dibanding tahun 2025 yang hanya mencapai 20.347.147,” tambahnya.
Data tersebut memperlihatkan sebuah paradoks menarik dalam industri keuangan. Ketika sebagian investor menghadapi tekanan akibat volatilitas pasar, jumlah masyarakat yang masuk ke pasar modal justru terus meningkat. Artinya, investasi mulai dipandang bukan sekadar aktivitas spekulatif jangka pendek, tetapi menjadi instrumen perencanaan keuangan jangka panjang.
Dari sisi gender, struktur investor pasar modal Indonesia masih didominasi laki-laki dengan persentase mencapai 64,61 persen, sedangkan investor perempuan berada pada angka 35,59 persen. Namun, pertumbuhan investor perempuan juga menunjukkan bahwa kesadaran finansial semakin menyebar di berbagai kelompok masyarakat.
Teknologi Membuka Pintu Investasi Lebih Lebar
Ledakan jumlah investor muda tidak bisa dilepaskan dari perubahan ekosistem digital. Kemajuan teknologi finansial telah mengubah cara masyarakat mengenal, memahami, hingga melakukan transaksi investasi.
Dahulu, seseorang yang ingin membeli saham harus melalui proses administratif yang cukup panjang, memahami mekanisme perdagangan, serta berhubungan langsung dengan perusahaan sekuritas.
Kini, hanya melalui telepon pintar, masyarakat dapat membuka rekening investasi secara daring, mempelajari instrumen keuangan, hingga melakukan transaksi dalam hitungan menit.
Aplikasi investasi dengan desain sederhana dan mudah digunakan menjadi salah satu faktor utama yang menarik generasi muda. Tampilan visual yang interaktif membuat aktivitas investasi terasa lebih dekat dengan karakter generasi digital yang terbiasa menggunakan berbagai platform teknologi.
Bagi mahasiswa atau pekerja muda, hambatan modal juga semakin kecil. Investasi dapat dimulai dengan nominal yang relatif terjangkau, bahkan tersedia sistem pembelian saham dalam pecahan tertentu sehingga masyarakat tidak harus menunggu memiliki dana besar untuk mulai berinvestasi.
Perubahan tersebut menciptakan demokratisasi investasi. Pasar modal yang sebelumnya dianggap eksklusif perlahan menjadi ruang ekonomi yang lebih terbuka bagi berbagai lapisan masyarakat.
Selain faktor teknologi, perubahan perilaku generasi muda juga dipengaruhi oleh perkembangan media sosial. Platform seperti TikTok, Instagram, YouTube, hingga berbagai komunitas digital melahirkan ekosistem baru dalam edukasi keuangan.

Munculnya financial influencer atau finfluencer membuat pembahasan tentang investasi menjadi lebih mudah dipahami. Istilah seperti saham, dividen, portofolio, aset digital, hingga financial freedom kini menjadi bagian dari percakapan sehari-hari anak muda.
Namun, fenomena ini memiliki dua sisi. Di satu sisi, media sosial mampu mempercepat literasi keuangan masyarakat. Di sisi lain, derasnya informasi investasi juga membutuhkan kemampuan memilah informasi agar masyarakat tidak terjebak dalam keputusan investasi tanpa pemahaman yang cukup.
Generasi muda yang masuk ke pasar modal harus memahami bahwa investasi bukan sekadar mengikuti tren atau mengejar keuntungan cepat, tetapi membutuhkan pengetahuan, disiplin, serta kemampuan mengelola risiko.
Pandemi Covid-19 juga menjadi momentum penting yang mengubah cara masyarakat melihat pengelolaan keuangan. Ketidakpastian ekonomi saat pandemi memberikan pelajaran bahwa memiliki sumber pendapatan tambahan melalui aset produktif menjadi semakin penting.
Konsep passive income dan kebebasan finansial kemudian menjadi impian baru generasi muda. Mereka mulai berpikir bahwa bekerja bukan satu-satunya cara membangun kesejahteraan, tetapi perlu didukung dengan kemampuan mengembangkan aset.
BEI dan Strategi Mencetak Investor Baru
Pertumbuhan investor muda tidak terjadi secara alami tanpa dukungan ekosistem edukasi yang kuat. Bursa Efek Indonesia (BEI) selama beberapa tahun terakhir aktif melakukan berbagai program literasi dan inklusi pasar modal untuk memperkenalkan investasi kepada masyarakat luas.
Program Sekolah Pasar Modal (SPM) menjadi salah satu instrumen utama BEI dalam memberikan pemahaman dasar mengenai investasi. Melalui 29 Kantor Perwakilan BEI di seluruh Indonesia, masyarakat diberikan edukasi mengenai mekanisme pasar modal, risiko investasi, hingga strategi pengelolaan portofolio.
Sampai dengan 31 Agustus 2024, BEI telah menyelenggarakan 15.728 kegiatan literasi dan edukasi keuangan di seluruh Indonesia. Dari jumlah tersebut, sebanyak 7.657 kegiatan dilakukan secara offline, sementara 4.186 kegiatan berlangsung secara online.
Selain itu, program edukasi melalui Duta Pasar Modal (DPM) juga menjadi bagian penting dalam memperluas jangkauan literasi investasi, terutama kepada generasi muda dan mahasiswa.
Jumlah masyarakat yang mendapatkan edukasi pasar modal terus mengalami peningkatan signifikan. Pada tahun 2023 tercatat sebanyak 3.157.641 peserta mendapatkan edukasi, kemudian meningkat menjadi 15.333.848 peserta hingga Agustus 2024 melalui berbagai kegiatan daring maupun luring.
Pertumbuhan edukasi tersebut berjalan seiring dengan peningkatan jumlah investor. Sejak Januari hingga Agustus 2024, terdapat tambahan 1,49 juta investor baru sehingga jumlah investor pasar modal mencapai 13,66 juta dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 12,16 juta investor.
Untuk investor saham sendiri, jumlahnya meningkat menjadi 5,92 juta investor atau bertambah sekitar 671 ribu investor dibandingkan tahun 2023.
Galeri Investasi Menjadi Laboratorium Investor Muda
Peran perguruan tinggi juga semakin penting dalam membangun budaya investasi sejak dini. Galeri Investasi BEI yang hadir di berbagai kampus menjadi ruang pembelajaran praktis bagi mahasiswa untuk memahami dunia pasar modal.
Saat ini terdapat ratusan Galeri Investasi BEI yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia, terdiri dari galeri investasi kampus, sekolah, perusahaan tercatat, hingga komunitas masyarakat.
Keberadaan Galeri Investasi tidak hanya memperkenalkan teori investasi, tetapi juga membangun pengalaman langsung bagi mahasiswa dalam mengenal pasar modal.
Sepanjang Januari hingga Juni 2024, aktivitas Galeri Investasi BEI dan Galeri Investasi Syariah BEI mencatat nilai transaksi sebesar Rp3,553 triliun serta melaksanakan ribuan kegiatan edukasi.
Angka tersebut menunjukkan bahwa kampus bukan lagi hanya tempat mempelajari teori ekonomi, tetapi mulai menjadi pusat regenerasi investor baru Indonesia.
