Kabar Baik! Intermediasi Perbankan Kalsel Menguat
Kabar baik datang dari industri perbankan Kalimantan Selatan. Fungsi intermediasi perbankan terus menunjukkan penguatan dengan pertumbuhan kredit yang lebih tinggi, likuiditas yang tetap terjaga, serta kualitas pembiayaan yang berada dalam kondisi sehat hingga Mei 2026.
Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Kalimantan Selatan Agus Maiyo menyampaikan, kinerja sektor perbankan daerah masih menunjukkan ketahanan positif di tengah dinamika ekonomi.
Pertumbuhan aset, penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK), dan penyaluran kredit menjadi indikator bahwa industri keuangan tetap berperan penting dalam menggerakkan roda ekonomi masyarakat.
“Intermediasi perbankan terus berjalan dengan baik. Perbankan masih memiliki kapasitas yang kuat dalam menyalurkan pembiayaan kepada sektor produktif, dunia usaha, dan masyarakat,” ujar Agus Maiyo dalam Media Update di Banjarmasin, Selasa (28/07/2026).
Berdasarkan catatan OJK Kalsel, total aset perbankan hingga Mei 2026 mencapai Rp457,85 triliun, tumbuh 1,22 persen secara tahunan (year on year/yoy). Pertumbuhan tersebut diikuti peningkatan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar 1,96 persen (yoy) menjadi Rp412,89 triliun.
“Sementara itu, penyaluran kredit mencatat pertumbuhan lebih tinggi sebesar 8,67 persen (yoy) dengan nilai mencapai Rp350,02 triliun. Pertumbuhan kredit ini menunjukkan fungsi intermediasi perbankan semakin optimal dalam mendukung aktivitas ekonomi daerah,” bebernya.
Dari sisi risiko, kondisi perbankan tetap terkendali. Hal tersebut tercermin dari rasio Non Performing Loan (NPL) gross sebesar 2,38 persen, yang menunjukkan kualitas kredit masih berada dalam batas yang sehat.
Penguatan intermediasi perbankan Kalsel terutama didorong oleh meningkatnya penyaluran kredit investasi.
Berdasarkan jenis penggunaan, Kredit Investasi tumbuh paling tinggi sebesar 17,67 persen, disusul Kredit Konsumsi yang meningkat 6,64 persen, serta Kredit Modal Kerja sebesar 1,46 persen.
Pertumbuhan kredit investasi menunjukkan adanya aktivitas ekspansi usaha dan kebutuhan pembiayaan untuk pengembangan sektor ekonomi di daerah.
Secara wilayah, penyaluran Kredit Investasi terbesar tercatat di Kota Banjarmasin sebesar Rp19,83 triliun, kemudian Kabupaten Tanah Bumbu sebesar Rp1,01 triliun.
Banjarmasin sebagai pusat perdagangan dan jasa masih menjadi episentrum aktivitas ekonomi, sementara Tanah Bumbu menunjukkan peran penting sebagai kawasan dengan pertumbuhan investasi berbasis sumber daya dan industri.

UMKM Tetap Menjadi Prioritas Pembiayaan
Selain mendukung sektor investasi, industri perbankan juga terus memperkuat pembiayaan bagi sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Hingga Mei 2026, porsi kredit UMKM terhadap total kredit perbankan Kalimantan Selatan mencapai 20,85 persen.
Sektor Perdagangan Besar dan Eceran menjadi penerima pembiayaan UMKM terbesar dengan nilai mencapai Rp8,56 triliun. Besarnya pembiayaan pada sektor perdagangan menunjukkan peran UMKM sebagai penggerak ekonomi masyarakat masih sangat kuat.
Menurut Agus Maiyo, peningkatan akses pembiayaan UMKM menjadi bagian penting dalam menjaga pertumbuhan ekonomi yang inklusif.
Dari sisi penghimpunan dana masyarakat, pertumbuhan DPK ditopang oleh peningkatan giro dan tabungan.
Giro tumbuh 18,98 persen (yoy) menjadi Rp28,27 triliun, sedangkan tabungan meningkat 7,69 persen (yoy) menjadi Rp45,89 triliun.
Sementara itu, deposito mengalami penyesuaian dengan kontraksi 14,31 persen (yoy) menjadi Rp23,76 triliun, sejalan dengan perubahan preferensi masyarakat terhadap instrumen simpanan.
Komposisi DPK perbankan Kalsel didominasi oleh tabungan sebesar 46,86 persen, kemudian giro 28,87 persen, dan deposito 24,26 persen.
“Secara spasial, Kota Banjarmasin masih menjadi daerah dengan penghimpunan dana terbesar mencapai Rp61,62 triliun atau 62,92 persen dari total DPK Kalimantan Selatan,” terangnya lagi.
Keuangan Syariah Terus Berkembang
Di sektor perbankan syariah, tren pemulihan juga mulai terlihat. Meskipun aset masih mengalami kontraksi 7,36 persen (yoy) menjadi Rp11,19 triliun, kinerjanya menunjukkan perbaikan dibandingkan periode sebelumnya.
Pembiayaan syariah justru tumbuh kuat sebesar 15,02 persen (yoy) menjadi Rp10,05 triliun, sementara DPK meningkat 1,72 persen (yoy).
Likuiditas perbankan syariah tetap terjaga dengan rasio 112,42 persen, dan kualitas pembiayaan semakin baik dengan rasio NPF gross sebesar 0,62 persen.
Penguatan ekonomi syariah juga didukung melalui kegiatan Syariah Financial Fair (SYAFIF) Goes to Banjarmasin yang berlangsung Juni–Juli 2026. Kegiatan tersebut menghadirkan 20 booth ekosistem ekonomi dan keuangan syariah yang melibatkan PUJK Syariah, lembaga amil zakat, OJK, serta Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).
Melalui kegiatan tersebut, capaian sementara inklusi keuangan syariah mencapai Rp2,71 triliun dengan jumlah 28.576 rekening (Number of Account/NoA).
Fondasi Ekonomi Daerah Semakin Kuat
Menguatnya fungsi intermediasi perbankan menjadi sinyal positif bagi perekonomian Kalimantan Selatan. Pertumbuhan kredit yang lebih tinggi, kualitas pembiayaan yang terjaga, serta meningkatnya akses keuangan masyarakat menunjukkan sektor perbankan tetap menjadi salah satu penggerak utama ekonomi daerah.
Dengan dukungan perbankan yang semakin kuat, pembiayaan UMKM yang terus berkembang, dan perluasan ekonomi syariah, Kalimantan Selatan memiliki fondasi yang semakin baik untuk menghadapi peluang pertumbuhan ekonomi pada 2026.(Olpah Sari).
