Travelling Bukan Sekadar Perg Saja !

0
PAK JIMI DI THAILAND

Oleh: Khuzaimi

Penggiat Pariwisata Kalimantan Selatan

Ada orang yang melihat perjalanan wisata sebagai kegiatan menghabiskan uang. Tiket pesawat dibeli, hotel dipesan, biaya makan dan transportasi dikeluarkan. Bagi sebagian orang, semua itu dianggap hanya kesenangan sesaat.

Saya melihatnya dengan cara berbeda. Jalan-jalan adalah cara manusia memberi ruang kepada dirinya sendiri untuk belajar, menikmati hidup, dan mengenal dunia lebih luas.

Bagi saya, perjalanan bukan hanya soal sampai di sebuah tempat tujuan. Yang paling berharga justru ada dalam prosesnya. Karena bertemu orang baru, melihat kebiasaan yang berbeda, mencicipi makanan khas daerah lain, memahami budaya, dan menyaksikan bagaimana masyarakat di tempat lain menjalani kehidupannya.

Setiap daerah memiliki cerita. Setiap perjalanan selalu meninggalkan kesan.

 

Foto Ilustrasi – Wisatawan saat menjelajahi Sungai Amandit dan Loksado menggunakan Bamboe Rafting.Loksado sendiri adalah salah satu kawasan yang berada di bentangan Geopark Meratus.

Selama menjadi penggiat pariwisata, saya berkesempatan mengunjungi berbagai daerah di Indonesia hingga beberapa negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, dan Thailand. Setiap perjalanan memberikan pengalaman yang berbeda dan memperkaya cara pandang saya tentang dunia pariwisata.

Ketika berkunjung ke Malaysia, saya melihat bagaimana negeri jiran itu mengemas potensi wisata dengan sangat serius. Mereka mampu menggabungkan budaya, kuliner, sejarah, dan pelayanan menjadi pengalaman yang menarik bagi wisatawan.

Kota-kota seperti Kuala Lumpur dan kawasan wisata lainnya tidak hanya menjual tempat, tetapi juga menjual cerita.

Barangkali saya sendiri bisa belajar bahwa pariwisata bukan hanya tentang memiliki destinasi yang indah. Yang tidak kalah penting adalah bagaimana sebuah daerah mampu membuat wisatawan merasa nyaman, diterima, dan ingin kembali lagi.

Perjalanan ke Singapura juga memberikan pelajaran tersendiri. Negara kecil dengan keterbatasan wilayah itu mampu menghadirkan pengalaman wisata kelas dunia.

Tata kota yang rapi, pelayanan publik yang baik, serta kreativitas dalam mengembangkan destinasi menunjukkan bahwa pariwisata membutuhkan perencanaan dan konsistensi.Ini yang mesti ambil terbaiknya, pola perencanaan dan eksekusi serta konsistensi mengelola industri pariwisata.

Sementara Thailand memberikan pengalaman yang berbeda. Negeri ini sangat kuat dalam menghidupkan budaya lokal, kuliner, dan keramahan masyarakatnya.

Mereka mampu menjadikan hal-hal sederhana sebagai daya tarik wisata. Pasar tradisional, makanan jalanan, festival budaya, hingga kehidupan masyarakat sehari-hari menjadi bagian dari pengalaman wisata yang sulit dilupakan.

 

Foto Ilustrasi – Penulis Buku  sekaligus Jurnalis CNN Indonesia Muhammad Risanta, Bersama H Ibnu Sina, Wali Kota Banjarmasin dua periode saat kunjungan delegasi DMDI ke Malaysia.

Dari berbagai perjalanan tersebut, saya semakin memahami bahwa kekuatan pariwisata bukan hanya terletak pada keindahan alam. Indonesia, khususnya Kalimantan Selatan, memiliki kekayaan yang luar biasa.

Kita punya Pegunungan Meratus, budaya Banjar, pasar terapung, kuliner khas, sungai, hingga keramahan masyarakat yang menjadi modal besar.

Namun, potensi besar harus diikuti dengan cara berpikir yang terbuka. Dunia pariwisata terus berubah. Wisatawan hari ini tidak hanya mencari tempat yang bagus untuk difoto, tetapi juga mencari pengalaman yang bermakna.

Mereka ingin mengenal budaya lokal, merasakan kehidupan masyarakat, menikmati makanan khas, dan membawa pulang cerita.

Karena itu, perjalanan memiliki nilai yang jauh lebih besar daripada sekadar mengunjungi tempat baru. Ada pengetahuan yang bertambah, ada perspektif yang berubah, dan ada hubungan kemanusiaan yang terbangun.

Saya sering merasakan, semakin banyak tempat yang dikunjungi, semakin kita menyadari bahwa dunia ini penuh dengan keberagaman. Kita belajar menghargai perbedaan dan melihat bahwa setiap daerah memiliki keunikan masing-masing.

Bagi saya, biaya perjalanan bukanlah uang yang hilang. Ia berubah menjadi pengalaman yang melekat dalam ingatan. Foto mungkin tersimpan di galeri ponsel, tetapi cerita dan pelajaran dari perjalanan akan tinggal lebih lama dalam diri kita.

Jalan-jalan juga mengajarkan satu hal penting: jangan terlalu sibuk mengejar pekerjaan sampai lupa menikmati perjalanan hidup. Ada waktu untuk bekerja, ada waktu untuk berhenti sejenak, melihat dunia, dan menikmati hasil dari perjuangan yang sudah dilakukan.

Pariwisata bukan hanya tentang destinasi. Pariwisata adalah tentang manusia, cerita, budaya, dan pengalaman.

Setiap perjalanan selalu membawa pulang sesuatu. Kadang bukan oleh-oleh dalam bentuk barang, tetapi sebuah cara pandang baru tentang kehidupan.

Bagi saya, itulah makna sebenarnya dari travelling. Kita pergi untuk melihat dunia, tetapi sering kali kita kembali dengan pemahaman yang lebih baik tentang diri sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!