Tunjul Kada Rabah Banjar Malaysia Tak Lupa Banua

0
DOSEN RISANTA TUNJUL KADA RABAH

Oleh: Muhammad Risanta

Saya tengah menyeruput kopi ketika bunyi notifikasi WhatsApp dari Grup Borneo Malaysia Travel Community masuk di layar telepon genggam.

Satu per satu foto muncul dan menarik perhatian saya.

Foto itu dikirim oleh Haji Fadil, seorang warga Malaysia keturunan Banjar yang aktif membangun komunikasi budaya dan pariwisata antara Malaysia dan Kalimantan Selatan. Pria paruh baya itu dikenal sebagai salah satu urang Banjar Malaysia yang tidak pernah putus menjalin hubungan dengan Banua.

Yang membuat saya berhenti sejenak adalah sebuah logo komunitas yang ia bagikan. Pertubuhan Banjar Malaysia. Di dalamnya terdapat tulisan sederhana, tetapi memiliki makna yang dalam “Tunjul Kada Rabah.”

Dalam bahasa Banjar, ungkapan itu bermakna kira-kira “didorong tidak roboh”. Sebuah filosofi yang menggambarkan keteguhan, kebersamaan, dan kekuatan persaudaraan.

Saya tersenyum melihatnya.

“Keren dan menginspirasi,” gumam saya sambil kembali menikmati kopi ditemani pisang goreng buatan istri. Kebetulan, istri saya juga memiliki darah Banjar Malaysia, karena leluhurnya berasal dari Batu Pahat, Johor.

Seketika saya teringat sebuah kalimat sederhana”Biar jauh di rantau, asal jangan lupa Banua.” Kalimat itu mungkin terdengar biasa.

Namun bagi masyarakat Banjar yang hidup puluhan tahun di Malaysia, ungkapan tersebut menyimpan pesan yang jauh lebih besar. Sebuah pengingat bahwa perjalanan hidup di tanah perantauan tidak boleh membuat seseorang kehilangan akar sejarahnya.

Sebab bagi urang Banjar, merantau bukan berarti memutus hubungan dengan asal. Merantau adalah membawa Banua dalam perjalanan hidup.

 

Presiden DMDI Dunia, Dr. Haji Mohd Ali bin Mohd Rustam,bersama penulis, saat lawatan  ke Istana Negeri Melaka, Malaysia. (foto – Risanta).

Dari Jukung Menuju Tanah Seberang

Di tengah gemerlap Kuala Lumpur dengan gedung pencakar langit dan kehidupan modern yang bergerak cepat, jejak Banjar masih mudah ditemukan.

Di rumah-rumah keluarga Banjar, bahasa Banjar masih terdengar dalam percakapan sehari-hari. “Apa habar pian?”, “Bujur banar.”  Dan “Handak ka mana?”

Hem, ungkapan itu tetap hidup. Bukan sekadar bahasa, tetapi dalam bahasa sederhana adalah pertanda identitas masih dirawat.

Di dapur, aroma Soto Banjar masih mengepul. Wadai bingka, kue lam, wadai kepeng, hingga berbagai hidangan tradisional tetap hadir ketika keluarga berkumpul.

Bagi mereka, makanan bukan hanya soal rasa.Hal ini saya rasakan ketika berkunjung ke Kuala Lumpur, Johor Bahru hingga ke Melaka. Mereka membuat makanan karena menurut saya ada kenangan yang ikut disajikan.Ada kampung halaman yang ikut hadir dalam setiap hidangan. Mereka itu adalah Bubuhan Banjar.

Sebuah komunitas yang tidak hanya dipersatukan oleh garis keturunan, tetapi juga oleh sejarah, budaya, bahasa, dan rasa memiliki terhadap sebuah tanah asal bernama Banua Banjar, Kalimantan Selatan.

Sejarah mencatat, migrasi masyarakat Banjar ke Semenanjung Malaya mulai berkembang sejak akhir abad ke-19. Salah satu latar belakangnya berkaitan dengan situasi sosial politik di Kalimantan Selatan setelah Perang Banjar (1859–1906) dan tekanan kolonial Belanda.

Dalam tradisi masyarakat Banjar, perjalanan mencari tempat baru dikenal dengan istilah madam.

Madam bukan sekadar berpindah tempat. Ini adalah keberanian meninggalkan kampung halaman demi membuka kehidupan baru.

Dengan menggunakan perahu tradisional seperti jukung besar dan perahu, konon mereka menyeberangi lautan menuju Tanah Melayu.Konon tak banyak harta yang dibawa, melainkan membawa modal yang jauh lebih berharga, yakni sebuah keberanian, semangat kerja, nilai agama dan gotong royong.

Perak, Rumah Besar Bubuhan Banjar Malaysia

Jika ingin melihat jejak terbesar masyarakat Banjar di Malaysia, nama Perak tidak dapat dilepaskan.

Sejak masa kolonial Inggris, kawasan ini menjadi salah satu pusat perkembangan komunitas Banjar. Catatan sejarah demografi awal abad ke-20 menunjukkan sebagian besar masyarakat Banjar di Malaya terkonsentrasi di wilayah Perak, terutama daerah Kerian seperti Bagan Serai.

Di kawasan tersebut, masyarakat Banjar dikenal sebagai petani yang ulet. Mereka membuka lahan dan membangun kampung yang menjadi cikal bakal kehidupan baru, komunitas Banjar.

Karakter masyarakat Banjar yang dekat dengan agama, pekerja keras, serta menjunjung tinggi kebersamaan menjadi modal penting dalam membangun komunitas.

Bagi mereka, bekerja bukan hanya mencari penghasilan. Ada nilai keberkahan yang selalu dikejar. Ada keyakinan bahwa usaha yang dilakukan dengan sungguh-sungguh akan membawa kebaikan bagi keluarga dan generasi berikutnya.

 

Penulis bersama penggiat pariwisata nasional saat mengunjungi salah satu kawasan Johor Bahru, Malaysia. (Foto – Risanta).

Menjadi Melayu Malaysia, Tetap Menjadi Banjar

Puluhan tahun hidup di Malaysia membuat masyarakat Banjar mengalami proses asimilasi yang panjang. Mereka menjadi bagian dari masyarakat Melayu Malaysia.

Mengutip berbagai literatur perspekstifnya dalam sistem sosial Malaysia, masyarakat Banjar termasuk kelompok Melayu dan memperoleh kedudukan sebagai bumiputera.

Namun menjadi bagian dari Melayu Malaysia tidak membuat identitas Banjar menghilang. Justru, budaya itu tetap hidup melalui keluarga.

Karena Bahasa Banjar diwariskan, dirawat dan dijaga, ditambah cerita leluhur terus disampaikan kepada anak cucu.

Salah satu tradisi yang masih dikenal adalah bapukung, yaitu cara menggendong bayi dengan kain khas masyarakat Banjar. Tradisi kecil seperti itu menjadi pengingat bahwa budaya tidak hanya berada di museum.

Ternyata budaya Banjar hidup di rumah Bubuhan Banjar Malaysia, dalam keluaga dan kebiasaan sehari-hari.

Salah satu simbol kuat perjalanan masyarakat Banjar di Malaysia adalah Masjid Tinggi Bagan Serai di Perak.

Masjid bersejarah tersebut menjadi saksi hubungan panjang antara tanah rantau dan tanah asal.

Keistimewaannya terlihat dari penggunaan kayu ulin, material khas Kalimantan Selatan yang dikenal kuat dan tahan lama. Kayu itu seperti membawa pesan dari Banua.

Bahwa sesuatu yang berasal dari tanah sendiri tetap mampu bertahan meski tumbuh jauh dari tempat asalnya. Sebuah pengingat bahwa masyarakat Banjar membawa identitas mereka ke mana pun kaki melangkah.

Haji Fadil dan Rindu yang Tidak Pernah Putus

Bagi Haji Fadil, hubungan antara Banjar Malaysia dan Kalimantan Selatan bukan hanya cerita masa lalu. Ada ikatan emosional yang terus dijaga.

Sebagai penggiat pariwisata Kuala Lumpur, ia melihat budaya sebagai jembatan yang mempertemukan dua negeri serumpun.

“Kami tinggal di Malaysia, tetapi Banua tetap ada dalam hati. Bahasa, budaya, makanan, dan silaturahmi menjadi pengikat kami dengan Kalimantan Selatan,” ujar Haji Fadil.

Menurutnya, generasi muda memiliki tanggung jawab besar menjaga warisan tersebut. Sebab tantangan terbesar bukan jarak melainkan lupa.

Karena itu, berbagai kegiatan dilakukan melalui Pertubuhan Banjar Malaysia.

Mulai dari pertemuan komunitas, pelestarian bahasa Banjar, kegiatan budaya, hingga lawatan budaya Kulaan Banjar.

Mereka datang ke Kalimantan Selatan, mengunjungi kampung leluhur, berziarahke makam keluarga.

Menyusuri kembali tempat-tempat bersejarah seperti Makam Sultan Adam di Martapura atau Masjid Pusaka di Kelua, Tabalong.

Bagi mereka, perjalanan itu bukan sekadar wisata. Itu adalah perjalanan pulang, rindu kampung halaman.

*Penulis adalah Jurnalis CNN Indonesia & Akademisi.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!