Dari Nongki Anak Muda Belajar Kehidupan
Foto Ilustrasi - sejumlah anak muda sedang nongki sembari membahas tugas perkuliahan. (Foto - Dok Economic Travelling.Com).
Oleh: Riswan Irfani
Tidak sedikit orang tua yang masih memandang aktivitas nongkrong anak muda sebagai kebiasaan yang kurang produktif. Ketika melihat sekelompok remaja atau mahasiswa berkumpul di warung makan, kedai kopi, atau kafe hingga larut malam, penilaian yang muncul sering kali bernada negatif.
Nongkrong atau nongki dianggap identik dengan menghamburkan waktu, menguras uang saku, bahkan menjauhkan generasi muda dari tanggung jawab akademik maupun pekerjaan.
Pandangan tersebut memang tidak sepenuhnya keliru. Ada sebagian aktivitas nongkrong yang berakhir sia-sia, bahkan menyeret anak muda pada perilaku yang tidak sehat.
Namun, menyamaratakan semua bentuk nongkrong sebagai kegiatan yang tidak bermanfaat juga merupakan kekeliruan. Sebab, di balik kebiasaan berkumpul sambil menikmati makanan dan minuman, tersimpan proses pembelajaran sosial yang sering kali luput dari perhatian.
Makan dan minum bersama sejatinya bukan sekadar memenuhi kebutuhan biologis. Sejak dahulu, tradisi makan dan minum telah menjadi simbol kebersamaan, penghormatan, persaudaraan, dan dialog.
Hampir semua budaya di dunia mengenal nilai luhur yang lahir dari aktivitas makan bersama. Di Indonesia, tradisi “makan bajamba” di Sumatera Barat, “botram” di Jawa Barat, “bancakan” di Jawa Tengah, hingga tradisi makan bersama masyarakat Banua menunjukkan bahwa makanan selalu menjadi media untuk memperkuat hubungan antarmanusia.
Di era digital, makna tersebut mengalami transformasi. Anak muda memang memilih ruang yang berbeda. Mereka lebih banyak berkumpul di warung kopi, rumah makan sederhana, gerai makanan cepat saji, atau ruang-ruang kreatif yang menyediakan akses internet.

Namun, substansinya tetap sama. Mereka datang bukan hanya untuk menikmati makanan, melainkan untuk bertemu, berbicara, bertukar pikiran, membangun jejaring, dan mencari inspirasi.
Banyak orang hanya melihat secangkir kopi atau sepiring makanan di atas meja. Padahal, yang sesungguhnya sedang berlangsung adalah pertukaran gagasan, buah pikiran cerdas yang dikemas dalam obrolan santai.
Jujur saja lahir diskusi tentang tugas kuliah, peluang usaha, teknologi baru, karya seni, musik, olahraga, hingga persoalan sosial yang mereka hadapi. Tidak sedikit komunitas kreatif, perusahaan rintisan (startup), organisasi sosial, bahkan gerakan kemanusiaan yang berawal dari percakapan santai di sebuah meja makan.
Dunia pendidikan modern justru menempatkan kemampuan seperti itu sebagai kompetensi utama. Pendidikan abad ke-21 tidak lagi hanya menekankan kemampuan menghafal materi pelajaran.
Dunia kerja kini membutuhkan individu yang mampu berkomunikasi dengan baik, bekerja dalam tim, berpikir kritis, memecahkan masalah, beradaptasi terhadap perubahan, dan memiliki kreativitas tinggi.
Ironisnya, sebagian besar kemampuan tersebut tidak selalu tumbuh melalui ceramah di ruang kelas. Keterampilan sosial berkembang melalui interaksi yang nyata.
Anak muda belajar mendengarkan pendapat orang lain, mengemukakan gagasan, menerima kritik, menghargai perbedaan, hingga membangun kompromi. Semua itu terjadi secara alami ketika mereka duduk bersama menikmati makanan.
Sebagai praktisi pendidikan, saya melihat bahwa proses belajar sesungguhnya berlangsung sepanjang hayat. Guru memang mengajar di sekolah, dosen mengajar di perguruan tinggi, tetapi kehidupan sendiri adalah ruang kelas yang jauh lebih luas. Setiap perjumpaan mengandung pelajaran. Setiap percakapan menyimpan pengetahuan baru. Setiap pengalaman menghadirkan kedewasaan.
Dalam konteks inilah budaya nongkrong perlu dipahami secara lebih arif. Persoalannya bukan pada aktivitas berkumpulnya, melainkan pada kualitas interaksi yang terjadi di dalamnya.
Nongkrong yang dipenuhi diskusi, kolaborasi, saling menyemangati, serta berbagi pengalaman tentu memiliki nilai pendidikan yang tinggi. Sebaliknya, nongkrong yang hanya diisi dengan perilaku konsumtif, penyebaran kebencian, perjudian, penyalahgunaan narkoba, atau tindakan yang melanggar hukum jelas tidak dapat dibenarkan.
Karena itu, tugas orang tua bukan sekadar melarang anak untuk nongkrong. Yang jauh lebih penting adalah membimbing mereka agar mampu memilih lingkungan pergaulan yang sehat. Pendidikan karakter tidak akan berhasil jika hanya dibangun melalui larangan. Pendidikan membutuhkan dialog, keteladanan, dan kepercayaan.
Demikian pula sekolah dan perguruan tinggi. Lembaga pendidikan perlu menyediakan lebih banyak ruang diskusi informal yang memungkinkan mahasiswa dan pelajar bertemu, berbagi ide, serta berkolaborasi. Kampus yang baik bukan hanya memiliki ruang kuliah yang nyaman, tetapi juga menyediakan ruang-ruang interaksi yang mendorong tumbuhnya kreativitas.

Banua memiliki modal sosial yang sangat besar untuk mengembangkan budaya tersebut. Masyarakat Kalimantan Selatan dikenal memiliki tradisi silaturahmi yang kuat. Duduk bersama sambil menikmati hidangan sederhana serta minuman hangat seperti teh atau kopi panas telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Tradisi ini merupakan kekayaan budaya yang seharusnya dipertahankan, bukan ditinggalkan.
Nilai gotong royong, musyawarah, dan kekeluargaan yang menjadi ciri masyarakat Banua sesungguhnya tumbuh dari ruang-ruang perjumpaan seperti itu. Ketika anak muda tetap memelihara kebiasaan berkumpul dalam suasana yang positif, mereka sedang melanjutkan warisan sosial yang telah lama menjadi identitas masyarakat.
Namun, perkembangan teknologi digital juga membawa tantangan baru. Ironisnya, semakin canggih teknologi komunikasi, semakin banyak orang yang kehilangan kemampuan untuk berkomunikasi secara langsung. Tidak sedikit anak muda yang duduk dalam satu meja, tetapi masing-masing sibuk menatap layar telepon genggam. Percakapan digantikan oleh notifikasi. Tawa berubah menjadi suara video pendek yang diputar bergantian.
Fenomena ini patut menjadi perhatian bersama. Kehadiran fisik tidak selalu berarti kehadiran emosional. Padahal, pendidikan karakter justru tumbuh melalui interaksi yang tulus, tatapan mata, empati, serta kemampuan mendengarkan orang lain dengan penuh perhatian.
Makan dan minum bersama atau bahasa kerennya nongki bersama seharusnya menjadi momentum untuk membangun kembali kualitas hubungan antarmanusia. Ketika telepon genggam disimpan sejenak, percakapan mengalir lebih hangat. Anak muda belajar memahami perasaan temannya, menghargai perbedaan pendapat, serta menyelesaikan konflik melalui dialog. Kemampuan seperti inilah yang kelak sangat dibutuhkan ketika mereka memasuki dunia kerja, memimpin organisasi, atau membangun keluarga.
Di sisi lain, pelaku usaha kuliner juga memiliki peran strategis. Tempat makan bukan hanya ruang transaksi ekonomi, melainkan dapat menjadi ruang tumbuhnya kreativitas masyarakat. Banyak rumah makan, warung kopi, dan kafe kini menjadi tempat diskusi literasi, komunitas seni, kelas bahasa, pelatihan kewirausahaan, hingga forum pengembangan usaha mikro. Hal ini menunjukkan bahwa sektor kuliner dapat memberikan kontribusi yang lebih luas bagi pembangunan sumber daya manusia.
Sederhananya menurut perspektif saya, makanan hanyalah sarana. Yang jauh lebih penting adalah nilai yang dibangun di sekelilingnya. Dari meja makan lahir persahabatan. Dari percakapan sederhana muncul gagasan besar. Dari kebersamaan tumbuh rasa saling percaya. Dari kepercayaan lahir kolaborasi. Dan dari kolaborasi itulah masyarakat yang maju dibangun.
Karena itu, sudah saatnya kita mengubah cara pandang terhadap budaya nongkrong anak muda. Jangan terburu-buru menghakimi hanya karena mereka menghabiskan waktu di warung makan atau kedai kopi. Lihatlah apa yang mereka bicarakan, apa yang mereka rencanakan, dan nilai-nilai apa yang sedang mereka bangun.
Jika meja makan dipenuhi percakapan yang mencerdaskan, diskusi yang membangun, saling menghormati, serta semangat untuk berkarya, maka sesungguhnya di sanalah pendidikan sedang berlangsung. Pendidikan tidak selalu membutuhkan papan tulis, ruang kelas, atau podium. Pendidikan hadir di setiap ruang yang memungkinkan manusia belajar menjadi pribadi yang lebih baik.
Masa depan Banua, bahkan masa depan Indonesia, tidak hanya ditentukan oleh apa yang diajarkan di sekolah dan kampus, tetapi juga oleh kualitas percakapan yang lahir di ruang-ruang kebersamaan. Sebab, di balik sepiring makanan dan secangkir kopi, anak-anak muda sedang belajar memahami kehidupan, membangun mimpi, dan menyiapkan diri menjadi generasi yang akan memimpin bangsa pada masa yang akan datang.

