Sertifikasi Dosen Tiket Menuju Profesionalisme Akademik

0
DOSEN NICO KOSASIH SERDOS

Oleh: Muhammad Risanta

Menjadi dosen itu unik. Di ruang kelas, ia dituntut mampu menjelaskan teori yang rumit menjadi mudah dipahami. Di ruang penelitian, ia harus melahirkan gagasan baru yang memberi manfaat bagi masyarakat. Sementara di tengah kehidupan sosial, dosen juga diharapkan menjadi teladan.

Tiga peran itu terangkum dalam satu kalimat yang akrab di dunia kampus yaitu Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Namun, menjadi dosen profesional ternyata tidak cukup hanya mengajar dengan baik. Negara juga meminta bukti bahwa seorang dosen benar-benar memenuhi standar kompetensi akademik, pedagogik, sosial, dan kepribadian.

Jadi Sertifikasi Dosen (Serdos) menjadi bagian penting dalam perjalanan karier seorang akademisi.

Masih ada anggapan bahwa sertifikasi dosen identik dengan kenaikan pendapatan. Tidak salah, tetapi juga belum sepenuhnya benar.

Serdos sejatinya merupakan pengakuan resmi dari negara bahwa seorang dosen telah memenuhi standar profesional sebagai pendidik di perguruan tinggi.

Dengan kata lain, tunjangan profesi hanyalah konsekuensi dari profesionalisme, bukan tujuan utamanya.

 

Foto Ilustrasi -Yoni Setiawan bersama Dosen Pembimbing, Dr Melania di depan lobi kampus STIE Pancasetia Banjarmasin. dalam mengembangkan Program Markissa (Mari Kita Sedekah Sampah), gerakan menjaga lingkungan bersih (Foto – Yoni Setiawan).

Dari Administrasi Menuju Rekam Jejak

Beberapa tahun lalu, proses sertifikasi dosen sering dianggap rumit. Beragam persyaratan administratif harus dipenuhi. Ada Tes Kemampuan Dasar Akademik (TKDA), Tes Kemampuan Bahasa Inggris (TKBI), hingga berbagai dokumen pendukung yang cukup menyita energi.

Kini, wajah Serdos berubah.

Melalui kebijakan terbaru Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, proses administrasi jauh lebih sederhana. Penilaian tidak lagi bertumpu pada banyaknya dokumen administratif, melainkan lebih fokus pada rekam jejak nyata seorang dosen selama menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Artinya, yang dinilai bukan hanya kemampuan berbicara tentang pendidikan, tetapi juga bukti nyata dalam mengajar, meneliti, menulis karya ilmiah, serta melakukan pengabdian kepada masyarakat.

Perubahan ini menarik. Dunia akademik perlahan bergeser dari budaya administratif menuju budaya kinerja.

Seluruh proses pengusulan Serdos kini dilakukan melalui platform SISTER (Sistem Informasi Sumber Daya Terintegrasi).

Di sinilah seluruh aktivitas dosen terdokumentasi.

Mulai dari Beban Kerja Dosen (BKD), publikasi ilmiah, jabatan akademik, hingga pelatihan PEKERTI atau Applied Approach (AA).

Portofolio tersebut ibarat rekam medis seorang akademisi.

Tidak bisa direkayasa dalam semalam.

Apa yang dilakukan dosen selama bertahun-tahun akan terlihat jelas di dalam sistem.

Karena itu, banyak dosen mulai menyadari bahwa membangun karier akademik harus dilakukan secara konsisten, bukan menjelang proses sertifikasi.

Profesionalisme Tidak Lahir Seketika

Saya sempat berbincang dengan Nico Kosasih, salah satu dosen yang sedang mengikuti proses Sertifikasi Dosen tahun ini.

Menurut Nico, tantangan terbesar bukanlah mengisi aplikasi SISTER ataupun melengkapi dokumen.

“Yang paling berat justru menjaga konsistensi selama beberapa tahun sebelumnya. Semua aktivitas mengajar, penelitian, publikasi, hingga BKD ternyata saling berkaitan. Saat proses sertifikasi dimulai, kita tinggal menunjukkan apa yang memang sudah kita kerjakan,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa proses ini mengubah cara pandangnya terhadap profesi dosen.

“Saya jadi lebih disiplin mendokumentasikan setiap kegiatan akademik. Dulu mungkin menganggap publikasi bisa ditunda, sekarang tidak lagi. Karena semuanya menjadi bagian dari rekam jejak profesional.”

 

Nico Kosasih salah satu Dosen Perguruan Tinggi Swasta yang tengah mempersiapkan diri Ujian Sertifikasi Dosen. (Foto – Risanta).

Pernyataan Nico terasa sederhana, tetapi menyimpan pesan penting.

Sertifikasi ternyata bukan perlombaan mengumpulkan berkas.

Melainkan evaluasi terhadap konsistensi seseorang dalam menjalankan profesinya.

Mengapa Publikasi Menjadi Penting?

Sebagian dosen masih menganggap menulis artikel ilmiah sebagai pekerjaan tambahan.

Padahal, publikasi merupakan jantung perkembangan ilmu pengetahuan.

Melalui publikasi, hasil penelitian tidak berhenti di ruang dosen atau perpustakaan kampus.

Penelitian itu dapat dibaca, dikritisi, dikembangkan, bahkan menjadi rujukan bagi peneliti lain.

Karena itu, syarat minimal memiliki publikasi ilmiah dalam proses Serdos bukan sekadar formalitas.

Ini merupakan indikator bahwa seorang dosen masih aktif mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan.

Kampus yang kuat bukan dibangun oleh gedung yang megah.

Melainkan oleh tradisi menulis dan budaya ilmiah yang hidup.

Lebih dari Sekadar Tambahan Penghasilan

Tidak dapat dipungkiri, salah satu manfaat nyata Sertifikasi Dosen adalah meningkatnya kesejahteraan.

Bagi dosen ASN, tunjangan profesi setara satu kali gaji pokok.

Sementara dosen non-ASN memperoleh tunjangan melalui mekanisme yang telah ditetapkan pemerintah.

Namun, jika orientasi hanya berhenti pada angka rupiah, makna sertifikasi menjadi sangat sempit.

Yang jauh lebih penting adalah pengakuan bahwa seorang dosen telah memenuhi standar profesional nasional.

Status tersebut memberi kepercayaan lebih besar kepada mahasiswa, institusi, maupun masyarakat.

Di sisi lain, sertifikasi juga membuka jalan menuju jenjang akademik yang lebih tinggi, mulai dari Lektor Kepala hingga Guru Besar.

Dengan kata lain, Serdos bukan garis akhir.

Justru menjadi gerbang menuju tantangan akademik berikutnya.

Membangun Budaya Akademik

Kampus yang baik tidak lahir karena banyaknya dosen yang bersertifikat.

Sebaliknya, dosen yang bersertifikat lahir dari budaya akademik yang sehat.

Budaya membaca, menulis, berdiskusi, melakukan riset hingga mengabdi kepada masyarakat.

Jika budaya itu tumbuh, maka Sertifikasi Dosen bukan lagi sesuatu yang menakutkan. Sertifikasi itu menjadi konsekuensi alami dari perjalanan seorang akademisi.

Karena sejatinya, seorang dosen tidak hanya mengajar mahasiswa.

Ia juga sedang membangun masa depan bangsa, satu ruang kelas, satu penelitian, dan satu karya ilmiah pada satu waktu.

Penulis adalah Jurnalis CNN Indonesia & Akademisi.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!