Saat Emosi Menguasai Media Sosial, Etika Pun Tersisih
Oleh: Abd. Munir
Media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Melalui telepon genggam, kita dapat mengikuti berbagai peristiwa dalam hitungan detik.
Sayangnya, kemudahan berkomunikasi itu juga menghadirkan fenomena yang memprihatinkan: semakin sering kita menyaksikan emosi mengalahkan etika.
Etika merupakan cabang filsafat yang membahas nilai-nilai moral dalam kehidupan manusia. Dalam kehidupan sehari-hari, etika identik dengan akhlak, sopan santun, tata krama, norma, dan perilaku yang baik.
Imam Al-Ghazali mendefinisikan akhlak sebagai sifat yang tertanam dalam jiwa sehingga seseorang dengan mudah melakukan suatu perbuatan tanpa perlu berpikir panjang.
Karena itu, etika bukan sekadar teori. Etika itu sesungguhnya tercermin dalam sikap, tutur kata, dan cara seseorang memperlakukan orang lain.
Ironisnya, perilaku yang mengabaikan etika justru semakin sering dipertontonkan di ruang publik. Kita dapat menyaksikannya di berbagai forum, termasuk dalam tayangan sidang lembaga negara yang kemudian berulang kali viral di media sosial.
Perdebatan yang seharusnya mencerminkan kedewasaan justru berubah menjadi adu emosi, saling memotong pembicaraan, bahkan disertai kata-kata yang jauh dari nilai kesantunan.
Yang lebih memprihatinkan, perilaku tersebut datang dari orang-orang yang memiliki pendidikan tinggi, jabatan terhormat, dan pengalaman panjang.
Fakta ini menunjukkan bahwa pendidikan formal tidak selalu berjalan seiring dengan kematangan emosi. Kepintaran belum tentu melahirkan kebijaksanaan apabila seseorang tidak mampu mengendalikan amarah dan kepentingan pribadi.
Fenomena serupa kini semakin mudah ditemukan ketika membuka media sosial. Setiap hari kita disuguhi umpatan, sindiran, ejekan, hingga ancaman yang dilontarkan kepada individu maupun kelompok tertentu.
Menariknya, pelaku perilaku seperti ini justru lebih banyak berasal dari kalangan orang dewasa daripada remaja.
Padahal, media sosial adalah ruang belajar yang juga disaksikan anak-anak dan generasi muda. Apa yang mereka lihat akan mudah ditiru.
Dalam dunia komunikasi dikenal sebuah kenyataan bahwa pesan negatif cenderung menyebar lebih cepat daripada pesan positif. Karena itu, ujaran kasar, kebencian, dan kemarahan jauh lebih mudah viral dibandingkan keteladanan.
Jika kondisi ini terus berlangsung, kita tidak hanya kehilangan etika dalam berdiskusi, tetapi juga berisiko melahirkan generasi yang menganggap kemarahan sebagai cara paling wajar untuk menyampaikan pendapat.
Sesungguhnya, akar persoalannya bukan sekadar media sosial. Yang menjadi persoalan adalah kemampuan manusia mengendalikan emosinya.
Ketika seseorang berada dalam situasi penuh tekanan, marah, atau dipenuhi kepentingan tertentu, keseimbangan berpikir menjadi terganggu. Akibatnya, kata-kata yang keluar sering kali melukai orang lain dan merusak martabat dirinya sendiri.
Karena itu, kesabaran tetap menjadi kunci. Memang, kesabaran lebih mudah diucapkan daripada dipraktikkan. Namun, di situlah letak kualitas seseorang. Orang yang berakhlak baik bukanlah mereka yang tidak pernah marah, melainkan mereka yang mampu mengendalikan kemarahannya.
Nasihat filsuf Tiongkok, Confucius, masih sangat relevan hingga hari ini “When anger rises, think of the consequences.”
Ketika emosi mulai memuncak, pikirkanlah terlebih dahulu akibat dari setiap kata yang akan kita ucapkan. Kalimat sederhana ini menjadi pengingat bahwa satu komentar yang ditulis dalam hitungan detik dapat meninggalkan luka yang bertahan sangat lama.
Di tengah perubahan paradigma pembangunan kependudukan yang kini lebih menekankan kualitas sumber daya manusia daripada sekadar jumlah penduduk, pembangunan karakter menjadi semakin penting.
Salah satu jalannya adalah memperkuat pendidikan keluarga melalui Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI) yang diinisiasi Kemendukbangga/BKKBN.
Keluarga merupakan sekolah pertama dalam membentuk karakter. Anak-anak tidak hanya belajar dari nasihat orang tua, tetapi juga dari keteladanan yang mereka saksikan setiap hari. Jika keluarga mampu menanamkan nilai kesabaran, penghormatan kepada sesama, dan etika berkomunikasi, maka media sosial pun akan dipenuhi lebih banyak percakapan yang sehat daripada pertengkaran.
Melalui tulisan ini, saya hanya mengedepan satu narasi, bahwa kemajuan teknologi tidak akan pernah berarti apabila tidak diiringi kemajuan akhlak.
Sebab, kecanggihan media sosial hanyalah alat. Yang menentukan apakah ia menjadi sarana membangun peradaban atau justru merusaknya adalah karakter manusia yang menggunakannya.

