Mengapa Prancis Tidak Pernah Kehabisan Bintang?

0
DOSEN ROFINUS MBAPPE

Pelajaran Ekonomi dari Negara yang Berinvestasi pada Talenta

Oleh: Rofinus Leki

Ada negara yang sesekali melahirkan seorang bintang. Ada pula negara yang seolah tidak pernah kehabisan bintang.

Setiap kali Piala Dunia digelar, Prancis selalu hadir bukan sekadar sebagai peserta, tetapi sebagai kekuatan yang konsisten melahirkan generasi emas baru.

Nama boleh berganti, era boleh berubah, tetapi pola itu tetap sama. Dari Zinedine Zidane, Thierry Henry, Patrick Vieira, hingga Kylian Mbappé, Eduardo Camavinga, dan Aurélien Tchouaméni, Prancis ini seperti tidak pernah kehabisan stok bintang.

Namun akan terlalu dangkal jika semua itu disebut kebetulan atau sekadar keberuntungan generasi.

Di balik konsistensi itu, terdapat sesuatu yang jauh lebih senyap tetapi sangat menentukan yaitu sebuah sistem.

Dalam ilmu ekonomi, terdapat konsep human capital yang diperkenalkan oleh ekonom peraih Nobel Gary Becker. Intinya sederhana bahwa kekuatan ekonomi modern tidak hanya ditentukan oleh sumber daya alam atau modal fisik, tetapi oleh kualitas manusia itu sendiri.

Pendidikan, pelatihan, kesehatan, dan pembinaan talenta adalah investasi jangka panjang yang menentukan masa depan sebuah bangsa.

Jika konsep Human Capital diterapkan dalam sepak bola, maka Prancis adalah salah satu contoh paling jelas di dunia.

Keberhasilan mereka bukan lahir menjelang turnamen, tetapi dibangun dalam waktu panjang melalui ekosistem yang terstruktur. Akademi usia dini, pelatihan berjenjang, kompetisi kelompok umur yang ketat, serta pusat pembinaan elite seperti Clairefontaine menjadi fondasi utama. Dari sistem inilah, talenta baru terus mengalir tanpa henti.

Yang mereka bangun bukan hanya pemain, tetapi mesin produksi talenta.

Dalam perspektif ekonomi, ini adalah bentuk investasi yang sangat efisien namun sering tidak terlihat. Hasilnya tidak muncul dalam satu musim, tetapi dalam satu generasi.

Dan ketika hasil itu terlihat di panggung dunia, banyak orang menganggapnya sebagai bakat alami, padahal di belakangnya ada proses panjang yang sangat sistematis.

Sepak bola Prancis sesungguhnya mencerminkan prinsip yang sama dengan dunia bisnis modern. Perusahaan yang unggul bukanlah yang sesekali melahirkan produk hebat, melainkan yang memiliki sistem inovasi berkelanjutan. Mereka tidak bergantung pada satu individu, tetapi pada budaya organisasi yang terus melahirkan ide-ide baru.

Hal yang sama juga berlaku pada pembangunan negara.

Negara yang berinvestasi pada pendidikan, riset, kesehatan, dan pengembangan manusia akan memiliki keunggulan kompetitif jangka panjang.

Sebaliknya, negara yang hanya bergantung pada sumber daya alam atau keuntungan jangka pendek sering kali kesulitan ketika menghadapi perubahan zaman.

Dalam konteks ini, lapangan sepak bola menjadi laboratorium ekonomi yang menarik. Apa yang kita lihat selama 90 menit pertandingan sesungguhnya adalah puncak dari investasi bertahun-tahun. Gol yang tercipta bukan hanya hasil latihan hari ini, tetapi akumulasi dari ribuan jam pembinaan sejak usia dini.

Di sinilah kita memahami bahwa yang paling mahal dalam ekonomi modern bukan lagi mesin atau gedung, tetapi manusia yang terlatih dengan baik.

Prancis menunjukkan bahwa keunggulan tidak selalu datang dari sumber daya alam, tetapi dari keseriusan membangun manusia. Mereka tidak hanya mencetak pemain sepak bola, tetapi mencetak sistem yang terus melahirkan pemain baru.

Mungkin itulah alasan mengapa Prancis tidak pernah benar-benar kehabisan bintang. Bukan karena mereka selalu beruntung, tetapi karena mereka tidak pernah berhenti membangun.

*Penulis adalah Dosen STIE Pancasetia Banjarmasin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!