Antara Piala Dunia dan Bank Kalsel

0
RISANTA - FACHRUDIN PIALA DUNIA

Foto Ilustrasi - Penulis bersama Direktur Utama Bank Kalsel, Fachrudin. (Foto - Dok M.Risanta).

Ketika Bermain di Kandang Sendiri Saja Tidak Lagi Cukup

Oleh: Muhammad Risanta

Sejati menurut berbagai orang Piala Dunia selalu menyajikan cerita menarik. Tidak hanya soal gol, strategi, atau siapa yang akhirnya mengangkat trofi.

Ada satu pelajaran penting yang hampir selalu berulang dalam setiap edisi, tim yang ingin menjadi juara dunia tidak cukup hanya kuat bermain di kandang sendiri.

Mereka harus mampu bermain di mana saja. Di stadion lawan, di cuaca yang berbeda, menghadapi budaya sepak bola yang beragam, bahkan di bawah tekanan puluhan ribu suporter lawan.

Tim-tim besar seperti Brasil, Jerman, Prancis, atau Argentina memahami betul hal itu. Mereka membangun sistem, memperkuat pemain, memperluas pengalaman internasional, dan membiasakan diri bersaing di level global. Sebab, sepak bola modern adalah kompetisi lintas batas.

Pelajaran yang sama tampaknya sedang dipraktikkan oleh Bank Kalsel.

Pekan ini, masyarakat Banua patut berbangga. Gubernur Kalimantan Selatan, H. Muhidin, secara resmi meluncurkan operasional Bank Devisa Bank Kalsel setelah memperoleh izin dari Otoritas Jasa Keuangan dan Bank Indonesia.

 

Foto Ilustrasi – Direktur Utama Bank Kalsel , Fachrudin (Dok M.Risanta.)

Status bank devisa mungkin terdengar teknis bagi sebagian masyarakat. Namun sesungguhnya, maknanya sangat strategis.

Ibarat dalam sepak bola, Bank Kalsel kini tidak lagi hanya bermain di kompetisi lokal, tetapi telah memperoleh tiket untuk tampil di pentas internasional.

Selama ini, banyak transaksi luar negeri harus melalui perantara bank lain. Kini, Bank Kalsel dapat melayani transaksi internasional secara langsung.

Mulai dari kebutuhan ekspor-impor, pembayaran pendidikan di luar negeri, transaksi bisnis global, hingga berbagai aktivitas keuangan lintas negara.

Dalam analogi sepak bola, Bank Kalsel kini seperti klub yang naik kasta dan mulai berlaga di Liga Champions.

Namun, sebagaimana dalam Piala Dunia, tiket menuju panggung internasional hanyalah awal perjalanan.

Banyak tim besar yang datang dengan status unggulan, tetapi tersingkir lebih cepat karena tidak siap menghadapi tekanan.

Sebaliknya, ada pula tim yang mungkin tidak terlalu diunggulkan, namun mampu melangkah jauh karena memiliki disiplin, manajemen yang baik, dan sumber daya manusia yang unggul.

Karena itulah ini jadi catatan penting dan tantangan sesungguhnya bagi Bank Kalsel.

Kepercayaan yang diberikan oleh OJK dan Bank Indonesia harus dijawab dengan profesionalisme yang semakin tinggi. Sumber daya manusia harus terus ditingkatkan. Teknologi harus diperkuat. Tata kelola harus semakin transparan dan akuntabel.

Karena di era global, kompetisi tidak mengenal kompromi.

Bank-bank nasional maupun internasional terus berinovasi. Layanan digital berkembang sangat cepat. Ekspektasi nasabah pun semakin tinggi. Jika ingin tetap kompetitif, maka inovasi harus menjadi budaya, bukan sekadar program sesaat.

Harapan Gubernur H. Muhidin agar pelaku usaha, HIPMI, KADIN, dan UMKM memanfaatkan layanan Bank Kalsel merupakan langkah yang sangat tepat. Sebab, dalam sepak bola maupun dunia perbankan, kemenangan tidak pernah diraih sendirian.

Sebuah tim membutuhkan dukungan seluruh pemain, pelatih, manajemen, dan suporternya. Begitu pula Bank Kalsel. Kesuksesan bank kebanggaan Banua ini sangat bergantung pada dukungan masyarakat, dunia usaha, pemerintah, dan seluruh pemangku kepentingan.

Piala Dunia 2026 kembali mengingatkan kita bahwa dunia semakin tanpa batas. Bola dapat bergulir dari satu benua ke benua lain hanya dalam hitungan detik. Demikian pula uang, informasi, dan transaksi bisnis.

Karena itu, keputusan Bank Kalsel menjadi bank devisa sesungguhnya bukan sekadar perubahan status administratif. Ini adalah simbol bahwa Banua siap memasuki lapangan permainan yang lebih besar.

Kini, Bank Kalsel telah memasuki arena internasional.

Pertanyaannya bukan lagi apakah kita siap bermain di level global.

Tetapi, sudahkah kita menyiapkan tim terbaik untuk memenangkan pertandingan?

*Penulis adalah Jurnalis CNN Indonesia & Akademisi.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!