MTQ Kalsel Meneguhkan Generasi Qurani
Gubernur Kalsel H Muhidin didampingi Bupati Barito Kuala H Bahrul Ilmi dan wakilnya H Herman Susilo membuka secara resmi MTQ Nasional Kalsel ke-37 di Marabahan, Sabtu malam (20/06/2026). (Foto - Diskominfo Batola).
Dentuman bedug yang menggema di Lapangan 5 Desember Marabahan, Kabupaten Barito Kuala, Sabtu malam (20/06/2026), bukan sekadar menandai dimulainya Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional XXXVII Tingkat Provinsi Kalimantan Selatan.
Lebih dari itu, gaung bedug tersebut menjadi simbol tekad bersama untuk terus meneguhkan generasi Qurani di tengah derasnya arus perubahan zaman.
Kabupaten Barito Kuala selama sembilan hari menjadi pusat syiar Islam di Kalimantan Selatan. Sebanyak 1.391 peserta dari 13 kabupaten dan kota berkumpul dalam satu semangat yang sama: memuliakan Al-Qur’an.
MTQ bukan sekadar ajang perlombaan mencari qari, qariah, hafiz, maupun hafizah terbaik.
Di balik setiap lantunan ayat suci, tersimpan pesan besar tentang pentingnya menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup, terutama bagi generasi muda.
Tema yang diusung tahun ini, “Membumikan Nilai-Nilai Al-Qur’an dalam Kehidupan Masyarakat untuk Mewujudkan Batola SATU (Sejahtera, Agamis, Terpadu, dan Unggul)”, menjadi refleksi bahwa Al-Qur’an tidak cukup hanya dibaca dan dilombakan. Nilai-nilainya harus hadir dalam perilaku, etika, serta kehidupan sosial masyarakat.
Gubernur Kalimantan Selatan, H. Muhidin, dalam sambutannya mengingatkan bahwa tantangan generasi muda saat ini semakin kompleks.
Kehadiran media sosial, hiburan digital, hingga gaya hidup modern sering kali menyita perhatian anak-anak dan remaja sehingga menjauhkan mereka dari Al-Qur’an.
Karena itu, MTQ harus dimaknai sebagai momentum untuk memperkuat kembali budaya membaca, memahami, dan mengamalkan Al-Qur’an di lingkungan keluarga maupun masyarakat.
Peran orang tua menjadi sangat penting dalam menanamkan kecintaan terhadap Al-Qur’an sejak usia dini.
Membiasakan anak membaca Al-Qur’an selepas Salat Magrib, menghadirkan suasana religius di rumah, hingga memberikan keteladanan dalam kehidupan sehari-hari merupakan langkah sederhana namun memiliki dampak besar dalam membangun karakter generasi Qurani.
Generasi Qurani adalah generasi yang tidak hanya fasih melafalkan ayat-ayat suci, tetapi juga mampu menjadikan Al-Qur’an sebagai kompas moral dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Mereka diharapkan tumbuh menjadi pribadi yang jujur, berakhlak mulia, berintegritas, serta memiliki kepedulian sosial yang tinggi.
Di tengah perkembangan teknologi yang begitu cepat, kebutuhan akan generasi Qurani justru semakin mendesak. Kemajuan zaman harus diimbangi dengan penguatan nilai spiritual agar pembangunan tidak hanya melahirkan manusia yang cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara moral dan spiritual.
Melalui MTQ, Kalimantan Selatan kembali menegaskan komitmennya untuk melahirkan generasi yang dekat dengan Al-Qur’an. Sebab, dari generasi Qurani inilah akan lahir pemimpin masa depan yang mampu membawa Banua menuju masyarakat yang religius, damai, maju, dan penuh keberkahan.
MTQ boleh berakhir, para juara akan diumumkan, dan piala akan berpindah tangan. Namun, syiar Al-Qur’an tidak boleh berhenti di arena perlombaan.
Ia harus terus hidup, tumbuh, dan membimbing kehidupan masyarakat, dari rumah-rumah sederhana hingga pusat-pusat pemerintahan.
Karena sejatinya, keberhasilan MTQ bukan hanya diukur dari banyaknya medali yang diraih, melainkan dari seberapa kuat Al-Qur’an mampu membentuk karakter generasi Banua.(Olpah Sari).
