Ketika Kota Menjadi Bintang Kedua Piala Dunia 2026
Oleh: Muhammad Risanta
Piala Dunia selalu tentang gol, selebrasi, dan perebutan trofi paling bergengsi di planet ini. Tetapi sesungguhnya, ada cerita lain yang sering luput dari sorotan kamera televisi.
Cerita itu adalah sebuah kota, yang menjadi bintang kedua Piala Dunia 2026.
Tahun 2026, untuk pertama kalinya dalam sejarah, Piala Dunia digelar di tiga negara sekaligus, Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Sebanyak 16 kota menjadi tuan rumah resmi.
Nama-nama besar seperti New York, Los Angeles, Mexico City, Toronto hingga Vancouver bersiap menyambut jutaan pasang mata dari seluruh dunia.
Namun bagi para pelancong dari mana saja, perjalanan ke Piala Dunia tidak pernah hanya soal stadion.
Di sela-sela jadwal pertandingan, para suporter akan berubah menjadi wisatawan. Mereka akan menyusuri jalan-jalan kota, mencicipi makanan lokal, menikmati pertunjukan musik, mengunjungi museum, hingga duduk santai di taman kota sembari mengenakan jersey tim kebanggaan.
Piala Dunia selalu menjadi alasan untuk mengenal sebuah kota lebih dekat.
Di New York misalnya, orang mungkin datang untuk menonton pertandingan, tetapi mereka hampir pasti akan berakhir di Times Square. Lampu-lampu raksasa, lautan manusia, dan energi kota yang tidak pernah tidur menghadirkan pengalaman yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Ada pula Central Park, paru-paru hijau di tengah raksasa beton Manhattan. Di sana, suporter dari berbagai negara bisa duduk berdampingan tanpa mempersoalkan siapa yang menang dan siapa yang kalah.
Kata sahabat saya Syahriyanto Ruslan, Jurnalis Senior Radio Elshinta, happy endingnya adalah sepak bola memang bahasa universal.
Namun dari sekian banyak kota tuan rumah, perhatian saya justru tertarik pada dua kota yang mungkin tidak sepopuler New York atau Los Angeles.
Dallas dan Kansas City.
Dua kota yang akan menjadi saksi pertarungan besar para raksasa dunia.
Di Arlington, Texas, berdiri sebuah stadion yang sering disebut sebagai salah satu stadion termegah di dunia, bernama AT&T Stadium.
Stadion ini menjadi tempat pertemuan dua kekuatan Eropa, Inggris dan Kroasia.
Bagi penggemar sepak bola, pertandingan ini tentu menjadi magnet tersendiri. Namun Dallas ternyata menawarkan lebih banyak hal daripada sekadar pertandingan selama 90 menit.
Texas memiliki karakter yang unik.
Kota-kotanya tumbuh besar bersama sejarah koboi, peternakan, minyak bumi, dan semangat kebebasan yang begitu kuat.
Ketika berjalan di Dallas, kita bisa merasakan bagaimana tradisi dan modernitas hidup berdampingan. Gedung pencakar langit berdiri megah, tetapi budaya Texas tetap terasa dalam setiap sudut kota.
Restoran steak berukuran raksasa, musik country, hingga keramahan khas warga Texas menjadi pengalaman yang tak kalah menarik dibanding pertandingan sepak bola itu sendiri.
Bagi banyak wisatawan, Dallas bukan sekadar tempat menonton Inggris melawan Kroasia.
Dallas adalah cara mengenal wajah Amerika dari sisi yang berbeda.
Kansas City Kota Kejutan Wisatawan
Kota ini mungkin tidak sepopuler Miami atau San Francisco dalam brosur wisata internasional. Namun justru di situlah letak daya tariknya.
Kansas City adalah kota yang penuh kejutan.
Di sinilah Argentina akan menghadapi Aljazair dalam pertandingan Grup J yang digelar di Arrowhead Stadium.Dan Lionel Messi memberikan tonton eksklusif lewat hattriknya yang membawa Argetina unggul atas Aljazair.
Tetapi begitu keluar stadion, wisatawan akan menemukan kota yang memiliki identitas sangat kuat.
Kansas City dikenal sebagai “City of Fountains” atau Kota Air Mancur.
Lebih dari 200 air mancur tersebar di berbagai sudut kota. Jumlahnya bahkan menjadi yang terbanyak kedua di dunia setelah Roma.
Tak heran jika banyak wisatawan menghabiskan waktu berjalan kaki menyusuri taman-taman kota sembari menikmati percikan air yang menenangkan.
Ada suasana Eropa yang samar-samar terasa di sini.
Julukan “Paris of the Plains” yang melekat pada Kansas City bukanlah tanpa alasan.
Boulevard yang lebar, bangunan bersejarah, dan tata kota yang elegan membuat banyak orang jatuh cinta pada pandangan pertama.
Namun jika ada satu hal yang paling identik dengan Kansas City, jawabannya sederhana.
Menikmati Barbekyu. Bagi pencinta kuliner, kota ini adalah surga.
Aroma daging asap yang dimasak berjam-jam menyambut pengunjung hampir di setiap sudut kota. Banyak wisatawan datang karena sepak bola, tetapi pulang dengan kenangan tentang barbekyu terbaik yang pernah mereka santap.
Malam harinya, kota ini berubah lagi.
Lampu-lampu mulai menyala dan denting musik jazz terdengar dari berbagai sudut.
Kansas City juga dikenal sebagai salah satu kota penting dalam sejarah perkembangan musik jazz Amerika.
Di tempat-tempat seperti Green Lady Lounge, pengunjung bisa menikmati musik live yang hangat dan intim. Tidak perlu memahami teori musik untuk menikmatinya. Cukup duduk, mendengarkan, dan membiarkan suasana membawa kita ke masa lalu.
Inilah sisi lain Piala Dunia yang jarang dibicarakan.
Karena sesungguhnya, Piala Dunia bukan hanya tentang siapa yang mengangkat trofi.
Piala Dunia adalah tentang jutaan orang yang melakukan perjalanan, bertemu budaya baru, mencicipi makanan baru, dan pulang membawa cerita yang tidak mereka temukan di layar televisi.
Mungkin seseorang berangkat ke Amerika untuk mendukung Inggris.
Namun pulang dengan jatuh cinta pada Dallas.
Mungkin ada yang datang untuk melihat Lionel Messi dan Argentina.
Namun akhirnya lebih sering bercerita tentang air mancur, jazz, dan barbekyu di Kansas City.
Begitulah sepak bola memberikan sejuta cerita dibawa pulang siapa saja ke kampung halamannya.
Berkat sepakbola itu pula mempertemukan bangsa-bangsa di stadion.
Tetapi kota-kota tuan rumahlah yang memberi kenangan panjang setelah peluit terakhir dibunyikan.
Dan ketika Piala Dunia 2026 dimulai, sesungguhnya yang sedang bertanding bukan hanya para pemain di lapangan.
Ada kota-kota yang juga sedang menunjukkan wajah terbaiknya kepada dunia.
*Penulis adalah Jurnalis CNN Indonesia & Akademisi
