Jangan Biarkan Tiket Mahal Mengalahkan Pariwisata Kalsel
Oleh: Muhammad Risanta
Pariwisata tidak pernah berdiri sendiri.Pariwisata itu hidup karena banyak sektor bergerak bersama.
Ada hotel yang menerima tamu, restoran yang menyajikan makanan, pelaku UMKM yang menjual cendera mata, pemandu wisata yang menemani perjalanan, hingga transportasi yang menghubungkan wisatawan dengan berbagai destinasi.
Dari seluruh rantai tersebut, ada satu faktor yang sering dianggap sederhana namun sesungguhnya sangat menentukan, yakni akses transportasi udara.
Bagi Kalimantan Selatan, pesawat terbang bukan sekadar pilihan transportasi. Pesawat adalah pintu masuk utama wisatawan dari berbagai daerah di Indonesia.
Ketika harga tiket pesawat terjangkau, peluang wisatawan datang semakin besar. Namun ketika harga tiket terus meningkat, maka dampaknya akan dirasakan langsung oleh seluruh pelaku industri pariwisata.
Belakangan ini muncul kekhawatiran mengenai berbagai komponen biaya penerbangan, termasuk beban perpajakan yang dinilai ikut memengaruhi harga tiket.
Setidaknya ini juga dirasakan seorang Hj Aisyah, praktisi travel wisata Banua, yang menilai kenaikan harga tiket jangan dianggap sepele dan dibiarkan begitu saja.
Bagi masyarakat umum, kenaikan beberapa persen mungkin terlihat kecil. Namun dalam dunia pariwisata, selisih harga tiket sering kali menjadi penentu seseorang jadi berangkat atau justru membatalkan perjalanan.
Wisatawan selalu menghitung biaya perjalanan secara keseluruhan. Jika tiket menuju suatu daerah dianggap terlalu mahal, mereka akan mencari alternatif lain yang lebih murah.
Akibatnya, daerah tujuan wisata kehilangan potensi kunjungan, sementara uang yang seharusnya berputar di daerah tersebut berpindah ke destinasi lain.
Kondisi ini perlu menjadi perhatian serius bagi Kalimantan Selatan. Saat ini provinsi yang dikenal dengan julukan Banua ini sedang berupaya mengembangkan berbagai destinasi unggulan.
Geopark Meratus yang telah mendapatkan pengakuan dunia menjadi salah satu magnet wisata baru. Selain itu terdapat Pasar Terapung Lok Baintan yang ikonik, kawasan wisata alam Loksado dengan bamboo rafting-nya yang terkenal, wisata religi, wisata budaya Banjar, hingga kekayaan kuliner yang tidak dimiliki daerah lain.
Seluruh potensi tersebut akan sulit berkembang maksimal apabila akses menuju Kalimantan Selatan semakin mahal.
Kita harus memahami bahwa industri pariwisata bekerja berdasarkan prinsip kemudahan dan keterjangkauan. Wisatawan tidak hanya membandingkan keindahan destinasi, tetapi juga membandingkan biaya yang harus mereka keluarkan.
Pemerhati Wisata, M Khuzaimi dalam diskusi ringan dengan penulis sering berpendapat, bahwa Dalam banyak kasus, destinasi yang lebih mudah dijangkau justru menjadi pilihan utama dibanding destinasi yang sebenarnya lebih menarik.
Karena itu, pembahasan mengenai pajak yang berkaitan dengan tiket pesawat tidak boleh dilihat hanya dari sudut pandang penerimaan negara.
Ada aspek ekonomi daerah yang juga perlu diperhitungkan. Setiap wisatawan yang datang ke Kalimantan Selatan membawa uang yang kemudian dibelanjakan di hotel, rumah makan, toko oleh-oleh, transportasi lokal, hingga objek wisata.
Uang tersebut menciptakan efek berganda yang menghidupkan perekonomian masyarakat.
Apabila kunjungan wisatawan menurun akibat mahalnya tiket pesawat, maka yang terdampak bukan hanya maskapai penerbangan.
Hotel akan kehilangan tamu, restoran kehilangan pelanggan, UMKM kehilangan pembeli, dan pemerintah daerah kehilangan potensi pendapatan dari sektor pariwisata.
Lalu bagaimana jalan keluarnya? Dari berbagai diskusi dan seminar penulis merangkum sudut pandang yang perlu dikaji dan dipahami semua pihak, penggiat pariwisata maupun pemerintah daerah dan pusat.
Pertama, pemerintah pusat perlu mempertimbangkan kebijakan fiskal yang mendukung sektor pariwisata. Berbagai insentif yang pernah diberikan untuk menjaga harga tiket tetap terjangkau dapat menjadi bahan evaluasi. Prinsipnya sederhana, ketika mobilitas masyarakat meningkat, aktivitas ekonomi daerah juga ikut tumbuh.
Kedua, perlu didorong semakin banyak maskapai yang membuka atau menambah frekuensi penerbangan ke Banjarmasin. Persaingan yang sehat antar maskapai akan menciptakan harga yang lebih kompetitif sehingga memberikan pilihan lebih banyak bagi masyarakat.
Ketiga, pemerintah daerah bersama pelaku industri pariwisata perlu memperkuat konsep paket wisata terintegrasi. Wisatawan tidak hanya membeli tiket, tetapi memperoleh paket lengkap yang mencakup transportasi, akomodasi, kuliner, dan kunjungan destinasi. Strategi ini terbukti mampu menekan biaya perjalanan sekaligus meningkatkan daya tarik daerah.
Keempat, Kalimantan Selatan harus semakin agresif menghadirkan berbagai event berskala nasional. Festival budaya, sport tourism, konser musik, hingga kegiatan ekonomi kreatif dapat menjadi alasan kuat bagi wisatawan untuk datang meskipun harga tiket mengalami kenaikan.
Karena itu diskusi mengenai tiket pesawat dan pajak sesungguhnya adalah diskusi mengenai masa depan ekonomi daerah.
Kalimantan Selatan memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu destinasi unggulan di Indonesia. Namun potensi tersebut membutuhkan dukungan kebijakan yang tepat agar tidak terhambat oleh persoalan aksesibilitas.
Pemerintah tentu membutuhkan penerimaan pajak untuk membiayai pembangunan. Akan tetapi, sektor pariwisata juga membutuhkan ruang untuk tumbuh dan berkembang.
Tidak berlebihan memang kita di Kalsel pentingnya mencari titik keseimbangan. Kebijakan yang baik adalah kebijakan yang mampu menjaga penerimaan negara sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
Karena bagi Kalimantan Selatan, tiket pesawat bukan sekadar selembar dokumen perjalanan. Tiket pesawat adalah jembatan yang menghubungkan wisatawan dengan keindahan Banua, sekaligus penggerak roda ekonomi ribuan masyarakat yang menggantungkan harapan pada sektor pariwisata.
Jika jembatan itu semakin mahal untuk dilalui, maka yang terancam bukan hanya jumlah wisatawan, tetapi juga masa depan industri pariwisata daerah itu sendiri.
*Penulis adalah Akademisi & Jurnalis CNN Indonesia -Penggiat Pariwisata Nasional.
