Euforia Piala Dunia, Berkah Ekonomi Kita

0
PIALA DUNIA EKONOMI DUNIA

Oleh: Muhammad Risanta

Piala Dunia selalu menghadirkan dua jenis pertandingan. Yang pertama tentu saja pertandingan di atas lapangan hijau. Yang kedua, yang sering luput dari perhatian, adalah pertandingan ekonomi yang berlangsung di luar stadion.

Ketika jutaan orang bersorak menyaksikan gol demi gol dari tim favorit mereka, sesungguhnya ada perputaran uang yang tidak kalah menarik untuk diamati.

Pedagang makanan kebanjiran pembeli, warung kopi ramai hingga dini hari, jasa percetakan menerima pesanan spanduk, penjual jersey memperoleh tambahan omzet, sementara pelaku konten digital berlomba memanfaatkan tingginya lalu lintas media sosial.

Itulah sebabnya Piala Dunia FIFA 2026 bukan sekadar pesta sepak bola terbesar di dunia. Karena yang kita ikuti dalam lintasan sejarah manusia adalah peristiwa ekonomi global.

FIFA memperkirakan Piala Dunia 2026 yang digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko akan menjadi turnamen terbesar sepanjang sejarah dengan 48 negara peserta dan lebih dari lima miliar penonton secara global.

Angka itu berarti lebih dari separuh penduduk bumi akan terhubung oleh satu peristiwa yang sama. Dalam perspektif ekonomi, lima miliar pasang mata tersebut bukan sekadar penonton, melainkan pasar.

Indonesia memang tidak tampil sebagai peserta. Namun dalam ekonomi modern, tidak harus menjadi pemain untuk mendapatkan keuntungan dari sebuah pertandingan. Menjadi bagian dari pasar pun sudah cukup menciptakan peluang ekonomi yang besar.

Lihat saja apa yang terjadi setiap kali turnamen besar berlangsung. Warung kopi yang biasanya tutup pukul 11 malam mendadak buka hingga subuh.

Pedagang gorengan menambah stok dagangan. Penjual minuman dingin meningkatkan pasokan. Bahkan halaman rumah warga bisa berubah menjadi lokasi nonton bareng yang ramai dikunjungi tetangga.

Aktivitas sederhana tersebut mungkin terlihat kecil jika dilihat satu per satu. Namun jika terjadi secara serentak di ribuan desa, kelurahan, dan kota di seluruh Indonesia, dampaknya menjadi signifikan.

Jadi memang pantas dan menariknya ekonomi rakyat. Karena tidak bergerak karena investasi triliunan rupiah atau proyek raksasa semata. Kadang ia bergerak karena masyarakat berkumpul, berbincang, menikmati pertandingan, lalu berbelanja.

Momentum itu semakin besar setelah TVRI sebagai pemegang hak siar resmi Piala Dunia 2026 di Indonesia memberikan ruang bagi UMKM dan komunitas untuk menggelar nonton bareng secara gratis sepanjang bersifat nonkomersial dan memenuhi ketentuan yang berlaku.

Kebijakan tersebut sebenarnya memiliki dampak ekonomi yang sangat strategis. Selama ini banyak komunitas atau pelaku usaha kecil kesulitan menggelar nobar karena terbentur aturan hak siar.

Kini hambatan tersebut berkurang. Ruang ekonomi terbuka lebih luas hingga ke tingkat RT, RW, desa, dan kelurahan.Kita mesti berterimakasih kepada TVRI.

Syahriyanto Ruslan, Jurnalis Elshinta.com, melihat fenomena ini sebagai peluang ekonomi yang nyata.

“Ketika masyarakat berkumpul menyaksikan pertandingan, maka otomatis terjadi transaksi ekonomi. Pedagang makanan, penjual minuman, usaha percetakan hingga pelaku ekonomi kreatif akan merasakan dampaknya. Tinggal bagaimana daerah mampu mengelola momentum ini agar manfaat ekonominya lebih besar,” ujarnya.

Pendapat tersebut bukan tanpa dasar. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa event olahraga internasional selalu menghasilkan efek berganda atau multiplier effect bagi perekonomian.

Dalam teori ekonomi, setiap uang yang dibelanjakan konsumen akan memicu transaksi lanjutan pada sektor lain.

Pembeli membeli kopi dari warung. Warung membeli gula dari distributor. Distributor membeli stok dari pemasok. Rantai ekonomi terus bergerak.

Karena itu, dampak ekonomi sebuah pertandingan sepak bola sering kali jauh lebih besar daripada nilai tiket atau hak siarnya semata.

Hasdi Suryadi, Dosen STIE Pancasetia Banjarmasin, mengingatkan bahwa Piala Dunia perlu dilihat dari sudut pandang yang lebih luas.

“Ekonomi modern tidak hanya bergerak karena produksi barang. Emosi publik dan momentum sosial juga mampu menciptakan aktivitas ekonomi. Piala Dunia adalah contoh nyata bagaimana antusiasme masyarakat dapat berubah menjadi transaksi ekonomi yang menguntungkan banyak pihak,” jelasnya.

Pernyataan tersebut menarik. Sebab dalam ekonomi perilaku atau behavioral economics, keputusan belanja masyarakat memang sering dipengaruhi oleh emosi, suasana hati, dan pengalaman sosial. Saat masyarakat menikmati euforia bersama, kecenderungan konsumsi biasanya meningkat.

Tidak heran jika restoran, kafe, pusat kuliner, hingga usaha makanan rumahan sering mengalami lonjakan penjualan saat turnamen besar berlangsung.

Namun peluang ini tidak boleh berhenti pada penjualan makanan dan minuman saja.

Pemerintah daerah seharusnya melihat Piala Dunia sebagai momentum promosi ekonomi lokal. Setiap lokasi nobar dapat dipadukan dengan bazar UMKM, festival kuliner, pameran produk kreatif, pertunjukan seni budaya, hingga promosi destinasi wisata daerah.

Bayangkan jika setiap kecamatan memiliki satu lokasi nobar yang melibatkan puluhan pelaku usaha lokal. Dalam waktu satu bulan turnamen berlangsung, ribuan transaksi ekonomi dapat tercipta.

Lebih jauh lagi, kegiatan tersebut dapat memperkuat identitas daerah. Wisatawan lokal yang datang bukan hanya menyaksikan pertandingan, tetapi juga mengenal produk unggulan, makanan khas, dan budaya setempat.

Pelaku UMKM tentu menjadi pihak yang paling merasakan manfaat langsung.

Alfisah, salah seorang pelaku UMKM di Banjarbaru, mengaku optimistis terhadap peluang tersebut.

“Biasanya kalau ada pertandingan besar, penjualan makanan dan minuman naik. Apalagi kalau ada nobar. Banyak pelanggan datang bersama keluarga atau teman-temannya. Kami berharap pemerintah dan penyelenggara memberi ruang bagi UMKM untuk terlibat,” katanya.

Optimisme seperti ini sesungguhnya mencerminkan wajah ekonomi Indonesia yang sebenarnya. Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM, lebih dari 64 juta UMKM beroperasi di Indonesia dan menyumbang sekitar 61 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional serta menyerap sekitar 97 persen tenaga kerja.

Artinya, ketika UMKM bergerak, ekonomi rakyat ikut bergerak.

Karena itu, Piala Dunia 2026 tidak boleh dipandang hanya sebagai tayangan olahraga. Piala Dunia itu adalah momentum ekonomi yang datang setiap empat tahun sekali.

Kesempatan yang terlalu sayang jika hanya dihabiskan untuk menonton tanpa menciptakan nilai tambah bagi masyarakat.

Gol-gol yang tercipta di stadion Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko memang tidak akan mengubah posisi Indonesia di klasemen dunia sepak bola.

Namun euforia yang lahir dari setiap pertandingan berpotensi menghadirkan kemenangan lain yang tidak kalah penting.

Kemenangan bagi pedagang kecil yang memperoleh tambahan omzet dan kemenangan juga bagi UMKM yang mendapatkan pelanggan baru.

Tentu juga ini kemenangan bagi pelaku ekonomi kreatif yang menemukan pasar baru.

Dan kemenangan bagi daerah yang mampu mengubah antusiasme masyarakat menjadi pergerakan ekonomi yang nyata.

Karena sesungguhnya, dalam setiap sorak-sorai Piala Dunia, selalu ada peluang ekonomi yang sedang menunggu untuk dimenangkan.

Penulis adalah Jurnalis Senior CNN Indonesia – Akademisi – Penggiat Pariwisata Nasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!