Warung Kopi, Piala Dunia, dan Peluang yang Sedang Menyeduh

0
RATNO TIMUR PIALA DUNIA

Oleh: Ratno Timur

Piala Dunia 2026 baru saja dimulai. Dan aroma pertandingan terbesar di planet ini sudah mulai tercium hingga kampung kami di Balangan, Kalimantan Selatan.

Anehnya, aroma itu tidak hanya datang dari lapangan hijau di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Saya justru mulai mencium aroma yang berbeda dari warung-warung kopi di sekitar kota.

Aroma kopi yang bercampur dengan semangat bisnis.

Sebagai mantan jurnalis, saya terbiasa melihat sebuah peristiwa dari sisi yang kadang berbeda. Ketika banyak orang sibuk membicarakan peluang juara Argentina, Portugal, Prancis, atau Brasil, perhatian saya justru tertuju pada warung kopi dan kafe yang mulai memasang layar lebar, menata ulang kursi, memperbaiki sound system, bahkan menghias ruangan dengan bendera negara peserta Piala Dunia.

Bagi sebagian orang, itu mungkin sekadar dekorasi. Namun bagi pelaku usaha, itu adalah investasi.

Saya teringat sebuah konsep ekonomi sederhana yang sering disampaikan diajarkan sahabat saya Muhammad Risanta di bangku kuliah tentang  biaya peluang (opportunity cost). Intinya, setiap keputusan bisnis selalu mengandung pilihan.

Ketika pemilik warung kopi memutuskan membeli proyektor baru atau layar LED untuk nobar, mereka mengorbankan sebagian modal yang bisa saja digunakan untuk hal lain.

Tetapi mereka mengambil keputusan itu karena melihat peluang yang lebih besar. Dan memang, Piala Dunia selalu menghadirkan peluang ekonomi yang unik.

Di Indonesia, pertandingan Piala Dunia 2026 banyak berlangsung pada malam hingga dini hari. Waktu yang biasanya identik dengan jalanan sepi justru berpotensi menjadi jam sibuk bagi warung kopi.

Orang-orang yang biasanya sudah tidur bisa saja berkumpul sampai pukul dua atau tiga pagi demi menyaksikan tim favorit mereka bertanding.

Hehehe ternyata kopi menjadi “pemain utama”.

Saya membayangkan suasana sebuah warung kopi saat Argentina bertemu Jerman atau Portugal menghadapi Prancis. Puluhan orang duduk berdesakan. Ada yang memesan kopi hitam, kopi susu, mie instan, roti bakar, pisang goreng, hingga aneka camilan.

Ketika satu gol tercipta, seluruh ruangan bergemuruh. Ketika pertandingan selesai, transaksi ekonomi pun ikut selesai dengan nilai yang mungkin jauh lebih besar dibanding malam biasa.

Inilah yang sering luput dari perhatian. Piala Dunia bukan hanya soal gol dan trofi. Di tingkat lokal, ia juga tentang omzet dan pendapatan.

Belakangan saya melihat beberapa kafe mulai berbenah. Salah satunya Kedai Kopi Pro di Kota Malang yang menghias area kafe dengan bendera negara peserta Piala Dunia. Strategi semacam ini menarik. Mereka tidak hanya menjual kopi, tetapi menjual pengalaman.

Dalam teori kewirausahaan modern yang diperkenalkan Peter Drucker, seorang pengusaha yang baik bukan sekadar berani mengambil risiko. Ia mampu membaca perubahan dan menjadikannya peluang.

Piala Dunia adalah perubahan itu. Mereka yang lebih cepat menangkap momentum biasanya memperoleh keuntungan lebih besar.

Ada pula konsep keunggulan komparatif yang dikenalkan ekonom David Ricardo. Dalam bahasa sederhana, setiap usaha sebaiknya fokus pada kekuatan yang dimilikinya.

Warung kopi tentu tidak bisa bersaing dengan stadion. Namun mereka bisa menawarkan sesuatu yang tidak dimiliki stadion: suasana akrab, harga terjangkau, dan kedekatan sosial.

Di warung kopi, orang tidak hanya menonton pertandingan. Mereka bertemu teman lama, berdiskusi soal strategi permainan, bercanda tentang prediksi skor, bahkan menjalin relasi bisnis baru.

Karena itu saya selalu percaya bahwa warung kopi di Indonesia memiliki fungsi yang jauh lebih besar daripada sekadar tempat menjual minuman.

Warung kopi adalah ruang sosial. Dan ketika Piala Dunia datang, ruang sosial itu berubah menjadi ruang ekonomi.

Mungkin itulah sebabnya saya lebih tertarik mengamati geliat warung kopi daripada memperdebatkan siapa yang akan menjadi juara dunia.

Sebab juara Piala Dunia hanya satu negara. Tetapi manfaat ekonominya bisa dirasakan oleh ribuan pelaku usaha kecil di berbagai daerah.Iya kah ?.

Selama ada kopi yang terus diseduh, layar yang terus menyala, dan penggemar sepak bola yang terus berdatangan, peluang ekonomi akan terus hadir.

ASN & Mantan Jurnalis 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!