Harga TBS Sawit Non Mitra Kalsel Tembus Rp3.270 per Kilogram
Foto Ilustrasi - Dok Economic Travelling.Com.
Harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit non mitra di sejumlah perusahaan perkebunan di Kalimantan Selatan masih menunjukkan variasi yang cukup lebar.
Berdasarkan data harga per 10 Juni 2026, harga tertinggi tercatat mencapai Rp3.270 per kilogram, sementara harga terendah berada pada level Rp2.620 per kilogram.
Harga tertinggi dibayarkan oleh PT PN IV Regional V yang beroperasi di Kabupaten Tanah Laut dengan harga sebesar Rp3.270 per kilogram.
Posisi berikutnya ditempati PT Kintap Jaya Wattindo di Kabupaten Tanah Laut dengan harga Rp3.100 per kilogram, disusul PT Agri Bumi Sentosa di Kabupaten Barito Kuala sebesar Rp3.050 per kilogram.
Sementara itu, sejumlah perusahaan di Kabupaten Kotabaru seperti PT Sinar Kencana Inti Perkasa (SKPN), Tapian Nadenggan, dan PT Sawitakarya Manunggul menetapkan harga TBS non mitra sebesar Rp3.030 per kilogram.
Di Kabupaten Tanah Bumbu, harga TBS yang diterima petani berkisar antara Rp2.700 hingga Rp2.990 per kilogram. Harga tertinggi di wilayah tersebut dibayarkan oleh PT Sajang Heulang sebesar Rp2.990 per kilogram, sedangkan harga terendah tercatat di PT Buana Karya Bhakti sebesar Rp2.700 per kilogram.
Untuk wilayah Tapin, PT Hasnur Citra Terpadu menetapkan harga pembelian TBS non mitra sebesar Rp2.850 per kilogram. Adapun di Kabupaten Tabalong, PT Astra Agro Lestari mencatat harga sebesar Rp2.620 per kilogram, menjadi harga terendah dalam daftar perusahaan yang diumumkan.
Pemerhati perkebunan sawit, Muhammad Risanta, menilai perbedaan harga antarperusahaan dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain kualitas buah, rendemen minyak sawit, biaya operasional, lokasi pabrik kelapa sawit, serta kondisi pasar minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO) di tingkat nasional maupun global.
Meski demikian, harga TBS yang berada di atas Rp3.000 per kilogram pada sejumlah perusahaan memberikan sentimen positif bagi petani sawit mandiri.
“Kondisi tersebut diharapkan mampu meningkatkan pendapatan petani sekaligus menjaga gairah produksi sektor perkebunan sawit yang menjadi salah satu penopang ekonomi daerah,” ujar Risanta, yang dikenal sebagai Dosen STIE Pancasetia Banjarmasin.
Pelaku usaha sendiri berharap tren harga sawit tetap stabil di tengah dinamika pasar komoditas global. Stabilitas harga dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan usaha perkebunan rakyat sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi di daerah sentra produksi sawit Kalimantan Selatan.
Perusahaan juga mengingatkan bahwa harga TBS dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan pasar dan kebijakan internal masing-masing perusahaan.(M.Irfani).
