Menikmati Getar Lagu Jangan Paksa Rindu
Oleh: Muhammad Risanta
Belakangan ini, saya sering mendengar satu lagu yang terus berulang di berbagai lini masa media sosial. Saat membuka Instagram, lagu itu terdengar. Berpindah ke TikTok, lagu yang sama kembali menyapa.
Bahkan ketika seseorang membagikan potongan kisah hidupnya, entah tentang perpisahan, kehilangan, atau perjalanan hidup yang berliku, lagu itu sering menjadi latar yang mengiringi.
Lagu tersebut adalah Jangan Paksa Rindu yang dibawakan Ifan Seventeen.
Awalnya saya hanya mendengarnya sekilas. Namun semakin sering lagu itu muncul, semakin terasa bahwa ada sesuatu yang membuat banyak orang terhubung dengannya.
Bukan karena musiknya yang mewah atau aransemen yang rumit. Justru karena lagu ini berbicara tentang sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan manusia, belajar merelakan.
Ada kalanya dalam hidup, yang paling sulit bukanlah mencintai. Yang paling sulit justru menerima kenyataan bahwa tidak semua yang dicintai harus dimiliki.
Lagu ini seperti mengajak pendengarnya duduk sejenak, menikmati kenyataan bahwa perpisahan tidak selalu lahir dari pertengkaran. Tidak semua hubungan berakhir karena pengkhianatan.
Kadang dua orang yang saling mencintai bisa saja berjalan ke arah yang berbeda. Bukan karena kurang cinta, tetapi karena hidup membawa mereka pada pilihan yang tidak lagi sejalan.
Bait pembuka lagu ini terasa sederhana, namun menghunjam.
“Ingatkah, kapan terakhir kita bicara? Kapan terakhir kita saling bertatap muka?”
Kalimat itu seperti membuka album kenangan yang lama tersimpan di sudut hati. Mengingatkan bahwa setiap hubungan memiliki masa indahnya sendiri.
Ada saat ketika percakapan begitu hangat, ada saat ketika tatapan mata sudah cukup menggantikan ribuan kata. Namun waktu sering kali bekerja dengan caranya sendiri. Perlahan, jarak tumbuh. Percakapan berkurang. Kehangatan memudar.
Dan tanpa disadari, dua orang yang dulu berjalan berdampingan mulai mengambil jalannya masing-masing.
Yang menarik, Jangan Paksa Rindu tidak menawarkan drama berlebihan. Lagu ini tidak mengajak orang menangisi nasib. Tidak pula mengajarkan dendam kepada masa lalu. Sebaliknya, lagu ini berbicara tentang kedewasaan.
Tentang keberanian untuk berkata, “Jika memang tidak bisa bersama, mari kita lepaskan dengan baik-baik.”
Pada bagian refrain, pesan itu terasa sangat kuat.
“Lepaskan genggam tanganmu, jangan paksakan ‘tuk rindu.”
Kalimat tersebut terdengar sederhana, tetapi justru di situlah kekuatannya. Sebab dalam kehidupan nyata, banyak orang bertahan bukan karena masih bahagia, melainkan karena takut kehilangan.
Banyak yang memaksakan hubungan yang sudah kehabisan arah hanya karena tidak siap menghadapi kesepian. Padahal, tidak semua yang dipertahankan akan membawa kebahagiaan.
Ada kalanya melepaskan menjadi bentuk cinta yang paling tulus.
Karakter vokal Ifan Seventeen membuat pesan lagu ini semakin terasa. Sejak dulu, Ifan dikenal piawai membawakan lagu-lagu bertema kehilangan dan kerinduan.
Suaranya tidak sekadar menyanyikan lirik, tetapi seperti sedang bercerita. Ada rasa yang sampai kepada pendengar tanpa perlu banyak penjelasan.
Sentuhan musik dari David NOAH juga memberi warna yang khas. Aransemen pop ballad yang lembut membuat setiap bait terasa mengalir dan mudah masuk ke hati.
Tidak heran jika lagu ini cepat diterima publik dan menjelma menjadi soundtrack berbagai kisah di media sosial.
Namun di balik viralnya lagu ini, ada satu pesan yang menurut saya paling penting. Bahwa rindu tidak bisa dipaksa. Cinta juga tidak bisa dipaksa.
Hubungan yang sehat tidak dibangun oleh keterpaksaan, melainkan oleh kesediaan dua hati untuk berjalan ke arah yang sama. Ketika salah satu sudah tidak mampu melangkah, memaksakan perjalanan hanya akan menambah luka.
Mungkin itulah sebabnya lagu ini begitu membekas di hati banyak orang. Karena setiap orang pernah berada pada titik ketika harus memilih antara bertahan atau merelakan.
Dan tidak semua orang cukup berani untuk memilih yang kedua.
Di tengah derasnya lagu-lagu cinta yang sering berbicara tentang memiliki, Jangan Paksa Rindu hadir dengan pesan yang berbeda.
Lagu ini mengajarkan bahwa mencintai tidak selalu berarti menggenggam erat. Kadang mencintai berarti mengikhlaskan.
Sebab endingnya, ada rindu yang memang cukup disimpan dalam kenangan. Ada kisah yang tidak perlu diulang. Dan ada cinta yang tetap indah meski tidak lagi bersama.
Barangkali karena itulah lagu ini begitu dekat dengan banyak orang.
Karena sesungguhnya, hampir setiap hati pernah belajar satu hal yang sama, merelakan tidak pernah mudah, tetapi sering kali menjadi jalan terbaik untuk menemukan kedamaian.
*Penulis adalah Jurnalis Senior CNN Indonesia & Akademisi.
