Perlukah Wartawan Belajar Public Speaking?

0
RISANTA PUBLIC SPEAKING

Oleh: Muhammad Risanta

Ketika mendengar kata wartawan, sebagian orang mungkin langsung membayangkan seseorang yang sibuk menulis berita di depan laptop, mengejar tenggat waktu, atau memotret peristiwa di lapangan. Padahal pekerjaan wartawan jauh lebih kompleks daripada sekadar menulis.

Sebelum sebuah berita lahir, ada proses panjang yang harus dilalui. Wartawan harus mencari narasumber, membangun komunikasi, melakukan wawancara, berdiskusi, menguji informasi, bahkan terkadang harus melobi agar mendapatkan akses terhadap data dan sumber informasi yang penting.

Karena itulah muncul sebuah pertanyaan menarik apakah wartawan perlu belajar public speaking?. Jawabannya sederhana, ya, sangat perlu.

Bahkan dalam banyak situasi, kemampuan berbicara bisa sama pentingnya dengan kemampuan menulis.

Ada anggapan bahwa tugas wartawan hanyalah mencatat apa yang dikatakan narasumber. Pandangan ini sebenarnya sudah lama tidak relevan.

Jurnalisme modern menuntut wartawan menjadi komunikator yang aktif. Profesi ini membuat seseorang harus mampu bertanya, berdiskusi, menyampaikan pendapat secara kritis, dan menggali informasi yang tidak selalu muncul di permukaan.

 

Salah seorang wartawan sedang menyampaikan pendapat dan pandangan dalam sebuah diskusi. (Foto – Dok Risanta),

Seorang wartawan yang hanya mampu menulis tetapi tidak mampu berbicara sering kali kesulitan mendapatkan informasi eksklusif.

Mengapa?

Karena wawancara bukanlah interogasi. Wawancara adalah seni percakapan.

Dalam sebuah wawancara, narasumber akan lebih terbuka kepada wartawan yang mampu menciptakan suasana nyaman, membangun kepercayaan, dan mengarahkan diskusi secara cerdas.

Sering kali informasi paling penting justru muncul setelah sesi wawancara formal selesai, ketika percakapan berlangsung lebih santai.

Teman-teman saya yang senior menyebutnya sebagai sebuah kemampuan berbicara memainkan peran yang sangat besar.

Menggali Fakta Tidak Bisa Dengan Pertanyaan Biasa. Bayangkan seorang pejabat memberikan jawaban normatif.

“Program berjalan dengan baik.” Lalu kemudian

“Semua sesuai aturan.” dan”Situasi terkendali.”

Jika wartawan hanya menerima jawaban tersebut, maka berita yang lahir hanyalah kumpulan pernyataan resmi.

Namun wartawan yang memiliki kemampuan berdiskusi akan bertanya lebih jauh.

Program berjalan baik menurut indikator apa? Berapa anggaran yang digunakan? Apa kendala yang dihadapi? Mengapa masih ada keluhan masyarakat?

Pertanyaan-pertanyaan lanjutan seperti inilah yang sering membuka fakta sebenarnya.

Dalam dunia jurnalistik investigasi, kemampuan berbicara sering kali menjadi kunci untuk membongkar informasi yang selama ini tertutup.

 

Penulis yang juga Ahli Pers Dewan Pers, menjadi salah satu narasumber Workshop Publick Speaking di SMA Negeri 2 Banjarmasin,

Public Speaking Bukan Hanya Berbicara di Panggung

Banyak orang mengira public speaking hanya diperlukan saat berbicara di depan ratusan orang.

Padahal public speaking sesungguhnya adalah kemampuan menyampaikan pikiran secara jelas, terstruktur, meyakinkan, dan mudah dipahami.

Dalam konteks jurnalistik, public speaking hadir setiap hari. Saat mewawancarai narasumber. Saat melakukan konferensi pers, berdiskusi dengan editor, lalu berbicara dengan masyarakat.Bahkan saat menjadi moderator forum, termasuk saat melobi sumber informasi.

Kemampuan ini membantu wartawan membangun kredibilitas dan kepercayaan. Orang cenderung lebih terbuka kepada seseorang yang mampu berkomunikasi dengan baik.

Dunia Media Sudah Berubah

Jika dahulu wartawan cukup menulis untuk koran atau majalah, kini situasinya berbeda. Era digital mengubah hampir seluruh wajah jurnalistik.

Wartawan sekarang sering tampil dalam podcast, siaran langsung, kanal YouTube, webinar, diskusi publik, hingga televisi.

Laporan Reuters Institute Digital News Report selama beberapa tahun terakhir menunjukkan konsumsi berita berbasis video dan platform digital terus meningkat di berbagai negara.

Artinya, kemampuan tampil dan berbicara di depan publik bukan lagi keterampilan tambahan, melainkan kebutuhan profesi.

Banyak media saat ini mencari jurnalis yang tidak hanya mampu menulis berita bagus, tetapi juga mampu menjelaskan isu secara lisan kepada publik.

Ada satu tugas penting wartawan yang sering terlupakan.

Wartawan adalah wakil publik.

Ketika seorang wartawan bertanya kepada gubernur, menteri, bupati, direksi perusahaan, atau pejabat lainnya, sesungguhnya ia sedang membawa pertanyaan masyarakat.

Karena itu pertanyaan wartawan tidak boleh asal-asalan. Ia harus tajam, cerdas, kritis, namun tetap santun.

Kemampuan berbicara membantu wartawan menyampaikan pertanyaan yang mewakili kepentingan publik tanpa terjebak pada emosi ataupun sikap menyerang.

Pertanyaan yang baik sering kali lebih berharga daripada jawaban yang panjang.

 

Jurnalis Senior Dr Yusni Hardi memberikan tanggapan dan pandangannya dalam sebuah diskusi media dan mitra kerja di Banjarmasin.

Mengapa Wartawan Juga Harus Pintar Menganalisa?

Kemampuan berbicara saja tidak cukup. Wartawan juga harus memiliki kemampuan analisis. Sebab fakta tidak selalu tampil dalam bentuk yang utuh.

Sering kali fakta bercampur dengan opini, pencitraan, kepentingan politik, bahkan propaganda.

Wartawan yang memiliki kemampuan analisis dapat membedakan mana fakta dan mana klaim. Mana data dan mana sekadar narasi, atau mana realitas dan mana pencitraan

Analisis yang baik membuat wartawan mampu melihat akar persoalan, memahami konteks, serta menjelaskan dampak suatu peristiwa kepada masyarakat.

Inilah yang membedakan jurnalis dengan sekadar penyebar informasi.

Belajar Berbicara Adalah Investasi Profesi Kemampuan public speaking bukan bakat bawaan.Sebab menurut sahabat saya Rini Muliana Ichsan, Trainer Public Speaking dan Presenter TVRI Kalsel, hal itu bisa dipelajari.

Berbicara itu bisa dilatih, diasah, bisa melalui membaca, berdiskusi, mengikuti forum, menjadi moderator, aktif dalam organisasi, atau berlatih berbicara di depan umum

Semakin sering seseorang berbicara, semakin baik kemampuan komunikasinya.

Demikian pula wartawan. Mereka yang terbiasa berdiskusi akan lebih mudah menggali informasi. Lebih mudah membangun jaringan. Lebih percaya diri saat menghadapi narasumber penting.

Dan lebih mampu menjelaskan isu-isu rumit kepada publik.

wartawan tidak hanya bekerja dengan pena atau papan ketik, laptop dan tablet semata. Namun Wartawan bekerja dengan kata-kata.

Baik kata yang ditulis maupun kata yang diucapkan.

Karena itu kemampuan public speaking bukan lagi keterampilan pelengkap dalam dunia jurnalistik, melainkan telah menjadi kebutuhan.

Sebab sering kali kebenaran ditemukan bukan hanya dari apa yang ditulis, tetapi dari keberanian bertanya dan kecakapan berdialog.

*Penulis adalah Ahli Pers Dewan Pers & Jurnalis CNN Indonesia.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!