Gen Z Jangan Hanya Viral di Media Sosial
Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup, Moh Jumhur Hidayat saat berbicara dalam pembekalan wisuda Universitas Nasional (UNAS). (Foto - Humas Kementerian Lingkungan Hidup.).
Generasi Z Indonesia dinilai memiliki modal besar untuk menjadi penggerak perubahan lingkungan sekaligus motor pertumbuhan ekonomi masa depan. Namun modal itu tidak cukup jika hanya berhenti pada kepedulian di media sosial.
Pesan itulah yang mengemuka dalam pembekalan wisuda Universitas Nasional (UNAS) yang disampaikan Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup, Moh Jumhur Hidayat, Minggu (31/05/2026).
Di tengah meningkatnya kesadaran anak muda terhadap isu lingkungan, Menteri Jumhur menantang Generasi Z untuk melangkah lebih jauh. Mereka tidak sekadar aktif berdiskusi atau menyuarakan kepedulian di ruang digital, tetapi menjadi pelaku utama dalam transformasi ekonomi hijau Indonesia.
“Gen Z adalah generasi solusi. Tugas kita sekarang adalah mengubah kepedulian itu menjadi aksi nyata. Dari sekadar awareness menjadi movement, dari kepedulian menjadi inovasi, dan dari diskusi menjadi solusi,” ujar Jumhur.
Menurutnya, dunia saat ini sedang menghadapi krisis besar yang dikenal sebagai triple planetary crisis, yaitu perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan pencemaran lingkungan.
Persoalan tersebut tidak lagi semata-mata menjadi isu lingkungan. Dampaknya telah merambah sektor ekonomi, kesehatan, sosial, hingga ketahanan pembangunan berbagai negara.
Indonesia, kata Jumhur, berada pada posisi yang sangat strategis. Selain menghadapi berbagai risiko lingkungan, Indonesia juga memiliki peluang besar untuk menjadi bagian penting dari solusi global melalui pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan.
Green Jobs Jadi Peluang Baru
Perubahan besar yang sedang terjadi di dunia juga akan mengubah peta lapangan pekerjaan.
Jika dalam satu dekade terakhir pekerjaan berbasis teknologi digital menjadi primadona, maka dekade berikutnya diperkirakan akan didominasi oleh profesi yang berhubungan dengan keberlanjutan lingkungan dan ekonomi hijau.
Mulai dari ahli energi terbarukan, insinyur lingkungan, analis karbon, pengelola sampah modern, peneliti biodiversitas, spesialis ekonomi sirkular, hingga wirausaha hijau diproyeksikan menjadi profesi yang semakin dibutuhkan.
“Transisi menuju ekonomi hijau diperkirakan akan melahirkan jutaan lapangan pekerjaan baru. Masa depan ekonomi dunia tidak hanya digital, tetapi juga hijau. Future jobs are green jobs,” tegas Jumhur.
Pernyataan itu sekaligus menjadi sinyal bahwa generasi muda perlu mulai mempersiapkan kompetensi baru yang relevan dengan kebutuhan pasar kerja masa depan.
Jangan Hanya Menjadi Penonton
Data Sukarelawan Indonesia Pembela Alam (RIMBA) menunjukkan lebih dari 80 persen Generasi Z Indonesia memiliki kepedulian terhadap isu lingkungan hidup.
Namun tingginya kepedulian tersebut dinilai harus diikuti dengan kemampuan menciptakan inovasi, usaha, dan solusi nyata.
Sebab, transisi menuju ekonomi hijau bukan hanya akan melahirkan lapangan pekerjaan baru, tetapi juga membuka ruang investasi baru yang nilainya sangat besar.
Negara yang mampu menyiapkan sumber daya manusia hijau akan memperoleh keuntungan ekonomi sekaligus memperkuat daya saing global.
Sebaliknya, mereka yang gagal beradaptasi berisiko tertinggal dalam perubahan besar yang sedang berlangsung.
Menjaga Lingkungan, Membangun Masa Depan
Menteri Jumhur menegaskan bahwa Indonesia memiliki modal besar untuk menjadi pemimpin ekonomi hijau dunia.
Dengan hutan tropis terbesar ketiga di dunia, kawasan mangrove yang luas, kekayaan biodiversitas yang tinggi, serta garis pantai terpanjang kedua di dunia, Indonesia memiliki posisi strategis dalam agenda lingkungan global.
Pemerintah juga menargetkan pengelolaan 100 persen sampah nasional pada tahun 2029 melalui penguatan ekonomi sirkular dan pemanfaatan teknologi pengolahan sampah modern.
Menurut Jumhur, keberhasilan menjaga lingkungan tidak hanya berdampak pada kelestarian alam, tetapi juga menciptakan peluang ekonomi baru bagi masyarakat.
Karena itu, tantangan terbesar bagi Generasi Z saat ini bukan lagi sekadar menjadi pengguna teknologi atau pencari kerja.
Lebih dari itu, mereka dituntut menjadi generasi yang mampu memimpin perubahan, menciptakan inovasi, dan mengisi jutaan peluang yang lahir dari ekonomi hijau.
Sebab di masa depan, yang dibutuhkan dunia bukan hanya mereka yang mampu beradaptasi dengan teknologi, tetapi juga mereka yang mampu menjaga keberlanjutan bumi.(Olpah Sari).
