Sapta Pesona Wisata Jangan Sampai Terlupakan
Foto Ilustrasi - Wisatawan merasa nyaman dan aman saat menikmati keindahan sebuah destinasi wisata. (Foto - Risanta , Model : Nurul & Diana).
Oleh : Muhammad Risanta
Ada satu ironi yang diam-diam sedang terjadi dalam dunia pariwisata Indonesia.
Kita begitu sibuk membangun destinasi wisata baru, tetapi perlahan melupakan fondasi paling dasar yang dahulu menjadi ruh kepariwisataan nasional yaitu Sapta Pesona.
Padahal, konsep ini belum pernah dihapus. Ia masih berlaku. Masih hidup. Bahkan tetap menjadi pedoman dasar Kementerian Pariwisata dalam pembangunan dan pengembangan destinasi wisata di Indonesia.
Namun, keberadaannya seperti kehilangan gema, terutama di telinga generasi muda.Tak heran kolega saya Dewi Setiawati SE MM, praktisi pariwisata dan Akademisi di Kalsel, merasa miris.Karena ada beberapa generasi muda bergerak di sektor pariwisata ada yang tak paham bahkan tidak hafal dengan Sapta Pesona.
Banyak orang hari ini berbicara tentang sustainable tourism, eco tourism, smart tourism, hingga digitalisasi destinasi. Semua terdengar modern, futuristik, dan sangat relevan dengan perkembangan zaman.

Tetapi pertanyaannya sederhana apakah semua konsep baru itu bisa berjalan tanpa fondasi dasar tentang bagaimana wisata harus dikelola?
Tak heran jika kita mengingat kembali Sapta Pesona yang begitu penting dalam perjalanan pariwisata nasional.
Konsep sadar wisata yang lahir sejak era 1980-an ini sesungguhnya sangat sederhana, tetapi memiliki makna mendalam. Didalamnya merangkum tujuh unsur utama yang wajib diwujudkan oleh masyarakat maupun pengelola destinasi, mulai Aman, Tertib, Bersih, Sejuk, Indah, Ramah, dan Kenangan.
Tujuh kata ini mungkin terdengar klasik. Bahkan bagi sebagian anak muda, terasa seperti slogan lama yang tertinggal di papan baliho kawasan wisata. Namun jika direnungkan lebih dalam, seluruh inti pariwisata modern sebenarnya ada di sana.
Wisatawan pertama-tama membutuhkan rasa aman. Tidak ada destinasi secantik apa pun yang akan berkembang jika pengunjung merasa takut terhadap kriminalitas, pungutan liar, atau risiko keselamatan. Keamanan adalah pintu pertama kepercayaan.
Lalu hadir unsur tertib. Mulai dari parkir yang rapi, budaya antre, harga yang jelas, hingga tata kelola yang profesional. Wisata bukan sekadar tempat indah, tetapi juga pengalaman yang teratur dan nyaman.
Kemudian soal bersih, isu yang justru sering menjadi titik lemah banyak destinasi wisata Indonesia. Sampah plastik di pantai, toilet yang tidak terawat, atau lingkungan kumuh dapat meruntuhkan citra wisata hanya dalam hitungan menit.
Di era media sosial, satu unggahan buruk bisa lebih cepat menyebar daripada seribu promosi mahal.
Unsur sejuk dan indah juga tidak boleh dipahami secara sempit. Bukan hanya tentang pepohonan rindang atau panorama fotogenik, tetapi bagaimana lingkungan wisata memberikan kenyamanan psikologis. Tempat yang membuat orang ingin berlama-lama, menghirup udara, dan merasa damai.
Lalu ada unsur yang sering menjadi kekuatan terbesar Indonesia yakni ramah.Lebih indah lagi dan luas dalam perspektifnya adalah hospitality.
Keramahan masyarakat lokal sebenarnya adalah modal sosial luar biasa yang tidak dimiliki semua negara. Senyum warga desa wisata, sapaan sederhana pedagang lokal, atau kesediaan membantu wisatawan yang tersesat sering kali meninggalkan kesan lebih mendalam dibanding bangunan mewah.
Ending akhirnya yang kita tunggu, semua bermuara pada satu hal paling penting adalah kenangan.

Pariwisata sejatinya bukan menjual tempat, tetapi menjual pengalaman. Orang tidak sekadar datang untuk melihat gunung, pantai, atau budaya. Mereka datang untuk pulang membawa cerita.
Cerita itulah yang kemudian berubah menjadi promosi paling efektif. Karena kekuataannya juga ada di rekomendasi dari mulut ke mulut, unggahan media sosial, hingga keinginan untuk datang kembali.
Karena itu, Sapta Pesona sebenarnya tidak pernah usang.
Yang berubah hanyalah cara kita mengemasnya.
Jika dahulu kampanye dilakukan lewat spanduk bertuliskan “Aman, Tertib, Bersih, Sejuk, Indah, Ramah, Kenangan”, hari ini semestinya diterjemahkan dalam bahasa yang lebih dekat dengan generasi digital.
Misalnya, unsur bersih bisa dipadukan dengan gerakan wisata bebas sampah dan pengurangan jejak karbon. Unsur ramah bisa diterjemahkan menjadi budaya pelayanan prima berbasis komunitas.
Sedangkan unsur kenangan dapat diperkuat melalui pengalaman autentik, kuliner khas, hingga narasi lokal yang mudah dibagikan di media sosial.
Faktanya, pemerintah pun masih menjadikan Sapta Pesona sebagai pijakan utama. Dalam program desa wisata, penilaian kelompok sadar wisata (Pokdarwis) tetap mengacu pada prinsip-prinsip tersebut.
Bahkan nilai kebersihan, kesehatan, keselamatan, dan keberlanjutan lingkungan dalam sertifikasi CHSE (Cleanliness, Health, Safety, and Environment Sustainability) sesungguhnya merupakan perluasan dari semangat Sapta Pesona.
Berbagai pemerintah daerah juga masih memasukkannya dalam regulasi pembangunan kepariwisataan agar standar minimal kualitas destinasi tetap terjaga.
Masalahnya bukan pada relevansi konsepnya. Melainkan masalah itu terletak pada cara kita mengenalkannya.
Generasi muda hari ini tidak alergi terhadap nilai-nilai Sapta Pesona. Mereka justru menjalankannya, meski mungkin tanpa menyebut namanya.
Saat anak muda ikut membersihkan pantai, mempromosikan desa wisata lewat media sosial, menjadi relawan konservasi laut, atau menjaga sopan santun saat bertamu ke kampung adat, mereka sebenarnya sedang mempraktikkan Sapta Pesona.
Hanya saja, istilahnya terasa jauh. Terlalu birokratis. Terlalu formal. Kurang membumi dalam bahasa komunikasi masa kini.
Karena itu, mungkin yang perlu diperbarui bukan konsepnya, melainkan cara penyampaiannya.
Sapta Pesona jangan sampai terlupakan.
Sebab sehebat apa pun pembangunan pariwisata, sebanyak apa pun festival dibuat, secanggih apa pun promosi digital dilakukan, wisata yang tidak aman, tidak bersih, tidak tertib, dan tidak memberi kesan baik pada akhirnya hanya akan menjadi destinasi yang ramai sesaat lalu ditinggalkan.
Indonesia tidak kekurangan tempat indah.
Yang lebih penting adalah memastikan setiap tempat itu meninggalkan rasa nyaman, cerita baik, dan kenangan yang membuat orang ingin kembali.
Dan semua itu, sesungguhnya, telah diajarkan Sapta Pesona sejak lama.

