Veronica, Lagu AI, dan Meja Ruang Dunia Maya Kita yang Lagi Ramai

0
RISANTA LAGU VERONICA

Oleh: Muhammad Risanta

Meja ruang dunia maya kita lagi ramai.Setelah Jangan Paksa Rindu Ivan Seventeen ada lagi yang memberikan hiburan bagi Indonesia dan dunia.

Belakangan ini, hampir di mana-mana orang membicarakan sebuah lagu berjudul “Veronica.” Lagu yang dipopulerkan oleh Verry Klau itu tiba-tiba hadir seperti angin segar. Karena beat ringan, dekat, tetapi entah mengapa susah keluar dari kepala.

Saya mendengarnya bukan hanya di media sosial. Ketika berjalan ke sebuah mal di Banjarmasin, lagu itu terdengar diputar di salah satu gerai.

Beberapa hari kemudian, di sebuah kafe, lagu yang sama kembali terdengar. Bahkan tanpa sadar, beberapa orang ikut bersenandung pelan.

Meskipun bukan pengamat seni dan musik, saya melihat sesuatu yang berbeda dari lagu ini.

Lirik dengan nuansa Indonesia Timur, khususnya Nusa Tenggara Timur (NTT), menghadirkan warna yang begitu khas. Ada kehangatan, ada kerinduan, ada kesederhanaan yang justru terasa jujur.

 

Foto Ilustrasi – Penampilan Sheila On & saat manggung di Amanah Borneo Park Banjarbaru. (Foto – Risanta).

Bahasa musikalnya terasa dekat, walau mungkin tidak semua orang memahami akar budayanya secara utuh, seperti saya sendiri.

Dan seperti banyak orang lainnya, saya mulai bertanya,

Mengapa lagu-lagu seperti ini sekarang bisa viral begitu cepat?

Jawabannya ternyata bukan semata soal musik yang enak didengar.

Ada satu kata yang belakangan semakin sering muncul di balik proses kreatif lagu-lagu viral, Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan.

Dulu, membuat lagu terdengar seperti pekerjaan yang rumit. Harus punya studio, alat musik mahal, penyanyi, arranger, hingga proses mixing dan mastering yang panjang.

Sekarang? Seseorang cukup duduk di depan laptop, menuliskan suasana hati, jenis musik, tema lagu, bahkan karakter suara yang diinginkan dan dalam hitungan menit, sebuah lagu bisa lahir.

Memang inilah kita, yang hidup di zaman ketika teknologi tidak lagi sekadar membantu manusia bekerja, tetapi mulai ikut berkolaborasi dalam proses kreatif.

AI di dunia musik bekerja dengan cara yang menarik. Kecerdasan buatan ini mempelajari jutaan pola lagu melodi, lirik, tempo, irama, emosi, hingga struktur musik yang selama ini berhasil menyentuh pendengar.

Boleh jadi dan sah-sah saja, sistem dapat menghasilkan karya baru yang terasa familiar, tetapi tetap terdengar segar.

Platform seperti Suno AI misalnya, memungkinkan seseorang menciptakan lagu hanya dengan mengetik beberapa kalimat perintah.

Misalnya, “Buat lagu pop melankolis bernuansa Indonesia Timur tentang cinta yang belum selesai.” Beberapa menit kemudian, lagu itu jadi.Keren kata teman saya Ratno Timur, mantan wartawan yang kini menjadi CPNS Kementerian Agama di sebuah daerah di Kalsel.

Dan ini lengkap dengan musik, lirik, bahkan vokal. Terdengar seperti sihir? Mungkin iya,hehehehe.

Tetapi lebih tepatnya, ini adalah hasil dari revolusi teknologi yang sedang berlangsung di depan mata kita.

Lalu pertanyaannya mengapa lagu AI mudah viral?

Meskipun saya bukan ahli IT dan seni musik, setidaknya ada gambaran alasan sederhananya.

Pertama, AI memahami pola kesukaan manusia.

Lagu-lagu viral biasanya punya satu kesamaan yakni mudah diingat. Melodinya sederhana, emosinya dekat, liriknya relatable, dan ada bagian tertentu yang cocok dipotong menjadi video pendek di TikTok atau Instagram Reels.Coba saja kita buka dua sosial media ini.

AI mampu membaca pola itu. Kalau istilah sederhananya AI ini seperti “murid paling rajin” yang mempelajari jutaan lagu populer lalu menyusun formula yang akrab di telinga manusia.

Kedua, kecepatan produksi.

Kalau dulu musisi mungkin membutuhkan berminggu-minggu atau berbulan-bulan untuk menciptakan karya, sekarang seseorang bisa membuat banyak versi lagu dalam sehari.

Artinya, peluang menemukan lagu yang “kena” ke pasar juga semakin besar.Meskipun begitu kreativitas manusia sendiri menentukan juga.

Ketiga, emosi tetap menjadi pusatnya.

Meski dibuat dengan bantuan mesin, manusia tetap menyukai lagu yang terasa personal. Lagu seperti Veronica bekerja karena ia berbicara tentang sesuatu yang terasa dekat, rindu, cinta, kehilangan, dan suasana keseharian.

Teknologi boleh berubah, tetapi hati manusia tampaknya masih tetap sama. Kita tetap suka sesuatu yang membuat kita merasa “ini gue banget.”

Namun di balik semua kekaguman itu, ada pertanyaan yang juga perlu kita pikirkan bersama.

Apakah AI akan menggantikan musisi? Saya rasa, tidak sesederhana itu.

AI mungkin bisa membuat lagu. Tetapi belum tentu bisa menciptakan pengalaman hidup.

Ia bisa menyusun melodi yang indah, tetapi tidak benar-benar pernah patah hati. AI dapat membuat lirik kehilangan, tetapi tidak pernah mengalami kehilangan itu sendiri.

Menurut saya momen inilah manusia masih memiliki sesuatu yang tidak bisa sepenuhnya digantikan, terutama jiwa dan pengalaman hidup.

AI mungkin akan menjadi alat.Kita jadikan dia mitra kreatif, bahkan Asisten ide.

Tetapi rasa setidaknya sampai hari ini masih lahir dari manusia.

Meski begitu, kita juga tidak boleh menutup mata terhadap tantangan yang muncul.

Ada persoalan besar mengenai hak cipta.

Banyak sistem AI belajar dari jutaan lagu musisi yang sudah ada tanpa izin eksplisit. Pertanyaannya sederhana jika sebuah mesin belajar dari karya orang lain, siapa sebenarnya pemilik kreativitas itu?

Belum lagi kekhawatiran soal hilangnya ruang kerja bagi komposer, arranger, atau pekerja industri musik lainnya.

Tetapi sejarah selalu menunjukkan bahwa teknologi memang sering datang membawa kegelisahan sekaligus peluang.

Dulu kamera dianggap membunuh pelukis. Radio dianggap mengancam pertunjukan musik langsung. Internet disebut menghancurkan media cetak.

 

Foto Ilustrasi – Penampilan memukau Teny Ariana Singkek saat chek sound dan technical meeting Lomba Nyanyi Antar Wartawan Se-Kalsel, di Booze Karaoke, Banjarmasin, beberapa saat lalu.

Nyatanya?

Yang bertahan bukan yang paling kuat melawan perubahan, tetapi yang paling mampu beradaptasi.

Dan mungkin, inilah yang sedang terjadi sekarang di dunia musik. Lagu seperti Veronica menjadi tanda bahwa dunia sedang berubah.

Cara lagu dibuat berubah. Cara orang mendengar musik berubah. Cara karya viral berubah.

Tetapi satu hal tampaknya tidak berubah adalah manusia tetap membutuhkan cerita dan juga membutuhkan lagu yang menemani perjalanan pulang.Bahkan kita juga membutuhkan musik yang diam-diam berbicara kepada hati.

Jadi, jika hari ini meja ruang dunia maya kita sedang ramai membicarakan lagu Veronica, mungkin yang sedang kita saksikan bukan sekadar lagu viral.

Melainkan sebuah pertanda Bahwa masa depan musik sudah datang. Dan ia mengetuk pintu kita pelan-pelan.Hem, Veronica !

*Penulis adalah Jurnalis Senior CNN Indonesia & Akademisi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!