Banjarmasin di Antara Rob dan Api

0
BANJARMASIN BANJIR DAN API

Oleh: Abdul Munir

Banjarmasin selalu memperkenalkan dirinya dengan cara yang puitis, kota seribu sungai, kota air, kota yang tumbuh di atas denyut pasang dan surut.

Dari udara, tubuh kota ini tampak seperti anyaman urat nadi yang saling bertaut Sungai Martapura, Sungai Barito, dan anak-anak sungai kecil yang membelah permukiman, pasar, hingga halaman rumah warga.

Di setiap penjuru berdiri masjid-masjid yang teduh, seolah memberi penanda bahwa kota ini dibangun bukan hanya oleh tanah dan air, melainkan juga oleh doa.

Namun, di balik wajah religius dan romantika sungainya, Banjarmasin sesungguhnya hidup dalam kecemasan yang nyaris tak pernah benar-benar pergi yakni rob dan api.

Kota ini seperti sedang bernegosiasi terus-menerus dengan dua musuh lama. Air datang tanpa permisi, api menyergap tanpa kompromi.

Banjir, bagi orang Banjar, bukan lagi sekadar berita cuaca. Namun telah menjelma menjadi pengalaman kolektif.

Dalam rentang sejarah yang panjang, masyarakat mengenal masa-masa ketika air naik melampaui kewajaran. Orang-orang tua masih menyimpan cerita tentang bah besar yang pernah menenggelamkan kampung-kampung pada masa silam.

Lalu, Januari 2021 menghadirkan ingatan itu kembali dalam skala yang lebih getir.

Ketika itu, hampir seluruh penjuru Kalimantan Selatan tenggelam. Air datang dari berbagai arahlimpahan Sungai Barito, meluapnya Sungai Martapura, hujan deras yang turun berhari-hari, dan kiriman air dari pegunungan Meratus.

Kota yang selama ini hidup berdampingan dengan sungai mendadak kehilangan kemampuan untuk berdamai dengan air.

Jalan-jalan utama lumpuh. Perkantoran berhenti bergerak. Pasar tradisional kehilangan denyut. Kendaraan terjebak berjam-jam di Jalan Ahmad Yani.

Rumah-rumah berubah menjadi pulau kecil yang dihubungkan oleh perahu. Orang-orang tidak lagi bertanya kapan hujan turun, tetapi kapan air akan surut.

Bagi sebagian warga, pengalaman itu terasa ganjil. Bagaimana mungkin Banjarmasin kota sungai yang sejak dahulu dibangun di atas air justru kalah oleh air?

Pertanyaan itu sebenarnya membawa kita pada persoalan yang lebih mendasar bukan semata-mata soal cuaca, melainkan soal cara manusia memperlakukan ruang hidupnya.

Dalam beberapa dekade terakhir, kota tumbuh terlalu cepat. Perumahan bermunculan di lahan rawa, sawah basah, dan kawasan resapan.

Tanah ditinggikan secara agresif; halaman rumah diuruk hingga lebih tinggi daripada badan jalan. Di atas kertas, pembangunan tampak seperti kemajuan. Namun alam memiliki logikanya sendiri air yang kehilangan ruang akan mencari jalannya.

Penulis pernah menjadi saksi ketika izin mendirikan bangunan ditandatangani. Rumah-rumah megah berdiri dengan cepat, tetapi beberapa tahun kemudian kawasan di sekitarnya justru menjadi langganan genangan.

Pemerintah membangun drainase, memperbesar selokan, dan mengeruk kanal. Namun ketika hujan deras turun bersamaan dengan pasang sungai, sistem itu seperti kehilangan daya.

Air tak lagi mengenal batas administrasi.

Barangkali kita sedang menyaksikan ironi pembangunan kota, manusia ingin menaklukkan alam, tetapi lupa bahwa kota yang sehat justru dibangun dengan memahami tabiat alam.

Dulu, Kalimantan adalah rumah bagi rimba yang nyaris tak tersentuh. Pohon-pohon ulin berdiri kokoh, menaungi bumi dengan akar-akar yang kuat menyerap air. Hutan menjadi spons raksasa yang menyimpan hujan sebelum perlahan mengalirkannya ke sungai.

Kini, bentang itu berubah.

Di sebagian wilayah, hutan hilang oleh eksploitasi kayu sejak era akhir Orde Lama hingga Orde Baru. Di tempat lain, tanah berlubang menjadi danau bekas tambang batu bara.

Hamparan sawit tumbuh menggantikan vegetasi alami. Alam yang dahulu lentur menyerap hujan berubah menjadi bentang keras yang memantulkan air ke hilir.

Masyarakat tentu punya alasan untuk resah. Sebab perubahan lingkungan selalu menemukan jalannya menuju ruang hidup paling sederhana rumah warga.

Dalam empat puluh tahun terakhir, jumlah penduduk Kalimantan Selatan meningkat hampir dua kali lipat. Dari sekitar dua juta jiwa pada era 1980-an menjadi lebih dari empat juta jiwa memasuki 2020-an.

Urbanisasi dan mobilitas ekonomi mendorong pertumbuhan kota secara masif. Kompleks-kompleks perumahan menjamur, kadang tanpa cukup mempertimbangkan daya dukung lingkungan.

Konsep kependudukan sesungguhnya tidak hanya berbicara tentang fertilitas, mortalitas, atau migrasi.

Tetapi kalau mau jujur, ini juga menyangkut hubungan manusia dengan ruang hidupnya tentang apakah lingkungan masih mampu menopang kebutuhan generasi yang terus bertambah.

Karena itu persoalan banjir sesungguhnya menjadi diskusi tentang etika pembangunan.

Namun Banjarmasin tidak hanya berhadapan dengan air. Kota ini juga hidup berdampingan dengan api.

Sirene pemadam kebakaran hampir menjadi soundtrack keseharian kota. Di tengah malam, suara meraung itu melintas cepat membelah jalan-jalan sempit. D

alam sekejap, warga berlarian keluar rumah, sebagian membawa ember, sebagian lagi sekadar berdiri dengan wajah cemas menatap langit yang memerah.

Kebakaran di Banjarmasin bukan peristiwa baru. Catatan kolonial Hindia Belanda bahkan merekam bagaimana masyarakat Banjar pernah menyerbu dan membakar penjara kota dalam letupan kemarahan sosial. Sejak dahulu, api seperti memiliki sejarah panjang dengan kota ini.

Kini, permukiman padat, konstruksi bangunan yang berhimpitan, serta instalasi listrik yang rentan membuat kebakaran mudah menjalar. Dalam hitungan menit, puluhan rumah bisa rata dengan tanah.

Maka Banjarmasin sesungguhnya hidup di antara dua ketakutan tenggelam oleh air atau dilalap api.

Lantas, apa yang bisa dilakukan?

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat pernah menegaskan bahwa pengendalian daerah aliran sungai harus dilakukan melalui tiga pendekatan utama mulai daru pengelolaan DAS, penataan kawasan rawan banjir, dan sistem peringatan dini. T

etapi sesungguhnya, solusi terbesar bukan hanya infrastruktur, melainkan kesadaran kolektif.

Kota tidak cukup dibangun dengan beton dan proyek fisik. Kota dibangun dengan kebijaksanaan.

Banjarmasin memerlukan tata ruang yang lebih berani melindungi rawa, sungai, dan kawasan resapan. Pemerintah perlu tegas terhadap pembangunan yang mengabaikan keseimbangan ekologis.

Masyarakat pun harus belajar bahwa meninggikan rumah tidak otomatis menyelesaikan persoalan jika lingkungan sekitar justru dikorbankan.

Sebab banjir, ending akhirnya, bukan hanya soal air yang datang terlalu banyak. Ia adalah cerita tentang ruang yang kita rampas dari alam.

Dan api bukan semata-mata bara yang membesar. Karena sering kali menjadi pengingat tentang gemetarnya tata hidup kita di tengah kota yang terus tumbuh tanpa jeda.

Banjarmasin tetaplah kota yang indah dengan sungai yang mengalir pelan, masjid yang memantulkan cahaya senja, dan pasar terapung yang menyimpan romantika lama. Tetapi untuk tetap bertahan sebagai kota air, Banjarmasin harus belajar kembali membaca bahasa alamnya sendiri.

Karena kota yang lupa pada sungainya, sesungguhnya akan belajar dengan cara yang paling mahal, melalui rob dan api.

*Penulis adalah Budayawan dan Akademisi.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!