Menanam Kesadaran Pajak Sejak Bangku Sekolah
Investasi Literasi Fiskal Generasi Muda
Kesadaran membayar pajak tidak lahir secara instan ketika seseorang mulai bekerja atau memiliki penghasilan.
Budaya kepatuhan fiskal justru dibangun sejak dini,melalui pemahaman, pengalaman, dan pendidikan yang memperkenalkan bagaimana negara bekerja serta siapa yang menopangnya.
Di tengah tantangan peningkatan literasi perpajakan nasional, pendekatan edukatif kepada generasi muda menjadi semakin relevan.
Setidaknya ini menjadi pijakan kuat Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Kalimantan Selatan dan Tengah menerima kunjungan siswa SMA An-Najah Putra dalam kegiatan Office Tour di Kanwil DJP Kalimantan Selatan dan Tengah, Kamis (21/05/2026).
Namun kegiatan tersebut tidak berhenti pada agenda pengenalan institusi semata. Di balik kunjungan itu, terdapat upaya membangun pemahaman bahwa pajak memiliki hubungan langsung dengan kualitas kehidupan masyarakat.
Mulai dari pendidikan, layanan kesehatan, pembangunan infrastruktur, hingga berbagai fasilitas publik yang digunakan sehari-hari.
Para siswa hadir didampingi Wakil Kepala Bidang Kesiswaan SMA An-Najah Putra, Muhammad Jamil, yang mewakili kepala sekolah.

Menurutnya, pengalaman belajar langsung di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak memberi perspektif baru bagi siswa tentang pentingnya kontribusi warga negara terhadap pembangunan.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada Kanwil DJP Kalselteng, khususnya Bidang P2Humas, atas kesempatan yang diberikan kepada siswa kami. Kegiatan ini menjadi pengalaman yang sangat berharga karena siswa dapat memperoleh pemahaman langsung mengenai peran pajak, fungsi Direktorat Jenderal Pajak, serta pentingnya kontribusi pajak dalam pembangunan negara,” ujar Jamil.
Lebih jauh, ia menilai pembelajaran di luar ruang kelas seperti ini penting untuk membangun wawasan kebangsaan sekaligus tanggung jawab sosial generasi muda di masa depan.
Sementara itu, Kepala Bidang Penyuluhan, Pelayanan, dan Hubungan Masyarakat Kanwil DJP Kalselteng, Moch. Luqman Hakim, menegaskan bahwa edukasi perpajakan sejak usia sekolah merupakan bagian penting dari upaya membangun masyarakat yang semakin sadar akan fungsi pajak sebagai tulang punggung pembiayaan negara.
Menurutnya, memperkenalkan perpajakan sejak dini tidak hanya bertujuan mengenalkan tugas Direktorat Jenderal Pajak, tetapi juga menumbuhkan kesadaran bahwa setiap pembangunan memiliki sumber pembiayaan yang berasal dari kontribusi masyarakat.
Dalam sesi pembelajaran, para siswa mendapatkan materi dari tim penyuluh Kanwil DJP Kalselteng Edi Darmawan, Asti Farisca Rahma, dan Bayyu Santoso—yang membahas pengenalan Direktorat Jenderal Pajak, konsep dasar perpajakan, jenis-jenis pajak, reformasi perpajakan, hingga sistem administrasi modern Coretax.
Pemaparan tersebut tidak semata bersifat teoritis. Para siswa diajak memahami bagaimana pajak bekerja dalam kehidupan sehari-hari, termasuk bagaimana kontribusi fiskal masyarakat menjadi fondasi pembangunan nasional.
Di tengah dinamika ekonomi dan kebutuhan pembiayaan negara yang terus berkembang, literasi perpajakan semakin dipandang sebagai bagian dari pendidikan kewarganegaraan modern.
Kesadaran membayar pajak tidak lagi hanya dipahami sebagai kewajiban administratif, melainkan bentuk partisipasi nyata warga negara dalam menjaga keberlanjutan pembangunan.
Bagi dunia pendidikan, sinergi dengan lembaga negara seperti Direktorat Jenderal Pajak juga membuka ruang pembelajaran kontekstual, bahwa apa yang dipelajari siswa di sekolah memiliki keterhubungan langsung dengan realitas kehidupan berbangsa.
Karena itu membangun generasi sadar pajak bukanlah pekerjaan jangka pendek.Tetapi ini merupakan investasi sosial jangka panjang
Menanamkan pemahaman bahwa pembangunan negara tidak berdiri sendiri, melainkan tumbuh dari kontribusi bersama, termasuk dari kesadaran fiskal yang mulai dipupuk sejak bangku sekolah.(Olpah Sari).
