Menata Standar Pemandu Gunung Ijen

0
JAWA TIMUR

Sertifikasi sebagai Investasi Mutu Pariwisata Banyuwangi

Di tengah meningkatnya tren wisata alam dan petualangan, profesionalisme pemandu wisata kini bukan lagi sekadar pelengkap industri pariwisata, melainkan kebutuhan mendesak yang menentukan kualitas sebuah destinasi.

Kawasan Kawah Ijen yang dikenal sebagai magnet wisata kelas dunia dengan fenomena blue fire dan panorama pegunungan eksotis, menghadapi tantangan baru, yang memastikan setiap wisatawan memperoleh rasa aman, nyaman, dan pengalaman berkualitas selama menjelajahi destinasi.

Bagi Banyuwangi, menjaga reputasi wisata kelas dunia tak cukup hanya mengandalkan keindahan alam.

Standar pelayanan, keamanan, hingga kualitas sumber daya manusia (SDM) pariwisata menjadi elemen krusial dalam membangun kepercayaan wisatawan domestik maupun mancanegara.

Karena itu, sebanyak 50 pemandu wisata hiking dari Banyuwangi dan sekitarnya mengikuti Bimbingan Teknis dan Uji Kompetensi/Sertifikasi Skema Pemandu Wisata Hiking hasil kolaborasi Kementerian Pariwisata Republik Indonesia bersama LSP PARESTA di Tourist Information Center (TIC) Taman Wisata Alam Kawah Ijen, Rabu (20/5/2026).

Program tersebut dipandang bukan sekadar agenda administratif, melainkan investasi jangka panjang terhadap kualitas SDM pariwisata, sebagai faktor utama yang menentukan daya saing destinasi wisata berbasis alam dan petualangan.

Perwakilan Kementerian Pariwisata, Hans Gwen, menegaskan bahwa sertifikasi kompetensi merupakan bentuk pengakuan nyata terhadap kemampuan profesional seorang pemandu wisata.

Dalam perspektif pemerintah pusat, peningkatan kompetensi SDM menjadi fondasi penting menjaga keberlanjutan industri pariwisata nasional, terutama pada destinasi unggulan berbasis ekowisata seperti Kawah Ijen.

“Keahlian harus dapat dibuktikan. Melalui program kolaborasi sertifikasi kompetensi kerja bidang kepariwisataan tahun 2026 ini, kami berharap peserta atau asesi dapat direkomendasikan kompeten dan mampu memberikan layanan terbaik bagi wisatawan,” ujarnya.

Pandangan senada disampaikan Kepala Bidang Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi, Dewa Made Alit Budi Siswanto.

Menurutnya, pertumbuhan destinasi wisata di sekitar kawasan Ijen harus diimbangi dengan kesiapan tenaga pendamping wisata yang memiliki kompetensi terukur dan tersertifikasi.

“Banyak destinasi wisata berkembang di sekitar Gunung Ijen. Tentu pemandu wisatanya harus memiliki kompetensi yang terukur agar kualitas pelayanan wisata semakin baik dan profesional,” katanya.

Sementara itu, Direktur LSP PARESTA, Eko Mujiono, menjelaskan bahwa profesi pemandu wisata tidak hanya membutuhkan kemampuan teknis di lapangan, tetapi juga penguasaan aspek hospitality, komunikasi, keselamatan, hingga pemahaman karakter wisatawan.

“Assessment hari ini bertujuan melihat sekaligus membuktikan kemampuan peserta di hadapan asesor. Seorang pemandu wisata minimal harus memahami hospitality, memahami karakter wisatawan, aspek keamanan, hingga kualitas pelayanan,” jelasnya.

Eko Mujiono yang juga Ketua ASPPI DPD Jawa Timur menambahkan, sertifikasi menjadi instrumen penting dalam menciptakan standar kompetensi SDM pariwisata yang terukur dan diakui secara nasional.

Di sisi lain, Ketua APGI DP Provinsi Jawa Timur, Yoka, menilai program sertifikasi ini merupakan momentum penting untuk membangun standar baru pemandu wisata lokal di kawasan Ijen.

Menurutnya, kehadiran pemandu tersertifikasi akan memperkuat rasa aman wisatawan sekaligus meningkatkan kredibilitas Banyuwangi sebagai destinasi wisata petualangan unggulan.

“Kami sangat berharap penyelenggaraan Bimbingan Teknis dan Sertifikasi Pemandu Wisata Hiking di Gunung Ijen ini menjadi langkah nyata dalam meningkatkan profesionalisme rekan-rekan pemandu lokal. Dengan mengantongi sertifikasi resmi, kami ingin menumbuhkan rasa aman dan kepercayaan penuh dari publik serta wisatawan,” ujar Yoka.

Lebih jauh, Yoka menegaskan bahwa transformasi profesi pemandu wisata harus dipahami sebagai peningkatan standar pelayanan, bukan sekadar formalitas administratif.

“Pemandu lokal Ijen kini tidak hanya sekadar penunjuk jalan, tetapi seorang pemandu profesional yang siap menjamin keselamatan, kenyamanan, dan pengalaman wisata yang berstandar tinggi,” tegasnya.

Dalam perspektif ekonomi pariwisata, keberadaan pemandu wisata bersertifikat memiliki dampak jangka panjang terhadap penguatan citra destinasi.

Pemandu profesional diyakini mampu meningkatkan kepuasan wisatawan, memperpanjang length of stay, hingga mendorong belanja wisata yang berkontribusi terhadap perputaran ekonomi masyarakat lokal.

Bagi Banyuwangi, yang selama ini dikenal sebagai salah satu daerah dengan pertumbuhan sektor pariwisata paling progresif di Indonesia, investasi pada kualitas SDM menjadi strategi penting menjaga keberlanjutan industri wisata.

Sejatinya juga Kawah Ijen tidak hanya membutuhkan keindahan alam untuk memikat wisatawan dunia.

Destinasi ini juga membutuhkan standar pelayanan yang profesional, manusiawi, dan berkelas. Sertifikasi pemandu wisata menjadi bagian penting dalam upaya menata standar tersebut,agar pengalaman wisata di Ijen bukan hanya indah dikenang, tetapi juga aman, berkualitas, dan terpercaya.(Tim Redaksi).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!