Sedekah Digital BSI dan Wajah Baru Kepedulian
Ketika QRIS Menjadi Jembatan Kebaikan
Editorial Redaksi Economic Travelling.com
Di tengah kompetisi industri perbankan yang semakin agresif, hampir semua lembaga keuangan berbicara soal transformasi digital.
Namun, sebagian besar masih berhenti pada narasi efisiensi transaksi lebih cepat, layanan lebih praktis, biaya lebih murah, dan pengalaman nasabah lebih nyaman.
Pertanyaannya: apakah digitalisasi hanya sebatas urusan bisnis?
PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) Regional Office (RO) IX Kalimantan mencoba memberi jawaban berbeda.
Lewat program sedekah serentak dan santunan anak yatim senilai Rp50 juta, BSI memperlihatkan bahwa transformasi digital juga dapat diarahkan menjadi instrumen kemanusiaan, bukan sekadar alat transaksi.
Yang membuat langkah ini menarik bukan hanya nilai bantuannya, melainkan cara menyalurkannya memanfaatkan QRIS sebagai kanal sedekah digital.
Boleh jadi BSI sedang memainkan narasi yang lebih modern tentang filantropi.

Bahwa berbagi tidak lagi harus rumit, tidak harus menunggu momentum tertentu, dan tidak harus dibatasi oleh ruang fisik. Dengan satu pemindaian QRIS, kepedulian bisa bergerak lebih cepat.
Dalam konteks ekonomi digital Indonesia, langkah tersebut sesungguhnya tidak berdiri sendiri. Data Bank Indonesia menunjukkan penggunaan QRIS tumbuh sangat agresif dalam beberapa tahun terakhir.
Pada April 2025, transaksi QRIS melonjak 154,86 persen secara tahunan (year-on-year), didorong meningkatnya jumlah pengguna dan merchant. Volume transaksi pembayaran digital nasional juga mencapai 3,79 miliar transaksi hanya dalam satu bulan.
Pertumbuhan ini penting dipahami bukan semata sebagai indikator ekonomi digital, melainkan perubahan perilaku masyarakat.
QRIS tidak lagi hanya menjadi alat pembayaran kopi, parkir, atau belanja harian. Ia mulai berkembang menjadi infrastruktur sosial termasuk untuk zakat, infak, wakaf, dan sedekah.
Sebagai bank syariah terbesar di Indonesia, BSI memahami bahwa tantangan terbesar filantropi modern bukan sekadar mengajak orang berbagi, tetapi bagaimana membuat proses berbagi menjadi mudah, cepat, transparan, dan terpercaya.
Model sedekah konvensional sering kali menghadapi persoalan klasik.
Mulai keterbatasan akses, pencatatan yang kurang rapi, ketidakpraktisan, hingga rendahnya keterlibatan generasi muda yang hidup dalam ekosistem serba digital. QRIS menjawab sebagian besar persoalan tersebut.
Dengan sistem digital, sedekah menjadi lebih inklusif. Nominal kecil tidak lagi menjadi hambatan.
Seseorang dapat berbagi kapan saja tanpa harus datang ke lokasi tertentu atau membawa uang tunai. Di sisi lain, sistem digital menciptakan rekam jejak transaksi yang lebih transparan. Dan hal penting untuk membangun kepercayaan publik terhadap pengelolaan dana sosial.
Bagi institusi seperti BSI, penggunaan QRIS untuk sedekah juga memiliki makna strategis.
Pertama, memperluas literasi keuangan syariah digital. Banyak masyarakat Indonesia masih memandang layanan syariah sebatas produk pembiayaan atau tabungan.
Padahal, ekonomi syariah juga bicara tentang distribusi manfaat sosial. Ketika QRIS dipakai untuk sedekah, masyarakat diperkenalkan pada wajah lain keuangan syariah, lebih modern, dekat, dan relevan dengan kebiasaan generasi digital.
Kedua, mendorong budaya berbagi yang lebih konsisten. Psikologi perilaku menunjukkan bahwa semakin mudah sebuah tindakan dilakukan, semakin tinggi kemungkinan orang melakukannya secara rutin.
Prinsip ini berlaku dalam sedekah digital. Hambatan psikologis dan teknis dipangkas. Berbagi menjadi kebiasaan, bukan momentum musiman.
Ketiga, meningkatkan akuntabilitas sosial. Dalam ekosistem digital, proses distribusi dana menjadi lebih terukur.
Transparansi bukan lagi slogan, melainkan kebutuhan. Publik semakin kritis terhadap bagaimana dana sosial dikelola dan disalurkan.
