Bahasa di Balik Berita, Menyelami Istilah-Istilah Jurnalistik

0
REDAKSI

Foto Ilustrasi - Meeting redaksi untuk proyeksi berita dan produksi berita.(Foto - Risanta).

Oleh: Muhammad Risanta

Suatu siang, telepon genggam saya beberapa kali bergetar.

Ada pesan WhatsApp dari kolega. Sebagian lagi datang dari mahasiswa. Bahkan, sesekali wartawan muda ikut menyapa dengan pertanyaan yang nyaris serupa.

Bagaimana menulis dengan baik? Bagaimana menghasilkan tulisan yang berbobot? Dan sesungguhnya, apa saja istilah-istilah dalam dunia jurnalistik itu?

Pertanyaan-pertanyaan semacam ini, bagi saya, selalu terasa menyenangkan.

Bukan semata karena dianggap tahu, melainkan karena di tengah zaman yang serba cepat ini, masih ada orang-orang yang mau berhenti sejenak untuk belajar memahami bagaimana sebuah berita lahir.

Bagaimana kata-kata bekerja. Bagaimana sebuah tulisan tidak hanya dibaca, tetapi juga dipercaya.

Saya sering meyakini, pengetahuan memang semestinya dibagikan.

Ilmu tak pernah mengenal sekat usia, profesi, atau generasi. Orang bijak pun berkata bahwa ilmu tak memilih siapa yang pantas belajar.

Sebab, pengetahuan yang baik akan selalu menemukan jalannya sendiri, apakah itu dipelajari, dipakai, lalu diwariskan kepada orang lain.

Maka, tulisan ini lahir bukan sebagai kamus jurnalistik yang kaku. Tulisan sederhana ini hanya sebuah percakapan ringan tentang bahasa yang hidup di balik dunia berita.

 

Penulis bersama sejumlah Jurnalis saat wawancara doorstop Ganjar Pranowo,tokoh politik nasional saat berkunjung ke Banjarbaru beberapa waktu lalu. (Foto – Risanta).

Sebab ternyata, dunia jurnalistik memiliki kosakata sendiri. Kata-kata yang terdengar asing bagi sebagian orang, tetapi begitu akrab di ruang redaksi.

Ada anggapan di ruang redaksi, kata-kata nyaris tidak pernah benar-benar tidur.

Mereka bergerak cepat, berpindah dari meja satu ke meja lain, mengejar waktu, kadang tergesa, kadang berhenti sejenak demi memastikan satu hal sederhana, lalu apakah ini benar?

Dari luar, profesi wartawan mungkin tampak sederhana. Orang melihat reporter membawa mikrofon, menulis berita, berbicara di depan kamera, lalu selesai.

Padahal, di balik berita yang tampak singkat itu, ada dunia kecil yang riuh. Ada diskusi panjang. Ada verifikasi. Ada perdebatan soal sudut pandang. Bahkan kadang ada kegelisahan kecil sebelum tombol publish ditekan.

Di dunia itulah, istilah-istilah jurnalistik hidup.

Ketika Liputan Dimulai, berarti  wartawan atau Jurnalis mencari Fakta dengan Kepala Dingin

Segala berita selalu bermula dari satu hal yang bernama peristiwa. Dan ketika sebuah peristiwa terjadi, wartawan bergerak.

Namun, bergerak saja tidak cukup. Seorang jurnalis juga harus tahu bagaimana menjaga keseimbangan informasi.

Yang terpenting kita harus mengenal istilah cover both sides.

Kalimat ini sederhana, tetapi sesungguhnya menjadi salah satu ruh jurnalistik. Ketika ada dua pihak berbeda pendapat, keduanya harus mendapat ruang bicara. Wartawan tak boleh tergoda menulis berdasarkan satu suara saja.

Karena berita yang baik bukan tentang siapa yang paling keras berbicara, melainkan siapa yang diberi kesempatan untuk didengar.

 

Foto Ilustrasi – Peserta Workshop Wartawan menyimak serius presentasi Kepala Unit Pengembangan Produk Syariah, Yunan Akbar dalam Workshop Wartawan Pasar Modal Indonesia (Foto-Risanta) .

Kadang, dalam proses mencari fakta, wartawan harus melakukan doorstop atau bahasa kerennya adalah wawancara cepat di sela langkah seseorang.

Barangkali Anda pernah melihat pejabat baru keluar dari mobil, lalu dikerubungi mikrofon dan pertanyaan bertubi-tubi. Itulah doorstop.

Tidak ada kursi nyaman. Tidak ada waktu panjang. Hanya hitungan menit, bahkan detik.

Maka wartawan harus pandai memilih pertanyaan singkat, tajam, tetapi tetap sopan.

Di sisi lain, ada istilah yang bagi wartawan hampir seperti sebuah janji moral yang keren dengan istilah off the record.

Ketika narasumber berkata, “Ini jangan ditulis, ya…”, maka di sepantasnya etika berbicara.

Informasi itu mungkin penting, mungkin menarik, tetapi seorang jurnalis profesional memahami batas antara tahu dan menyiarkan.

Ada pula istilah embargo ketika informasi sebenarnya sudah diterima media, tetapi belum boleh dipublikasikan sebelum waktu tertentu.

Dalam dunia yang serba cepat, menunggu kadang terasa sulit. Tetapi jurnalistik mengajarkan bahwa tidak semua yang kita tahu harus segera diumumkan.

Dan tentu saja, ada narasumber, yaitu orang-orang yang menjadi pintu masuk menuju fakta.

Seorang wartawan sejatinya bukan hanya piawai bertanya, tetapi juga pandai mendengar. Karena terkadang, jawaban paling penting justru muncul di sela percakapan yang tampak biasa.Inilah menurut para senior saya, yang membedakan kecakapan menjadi pembeda dengan orang biasa.

Ketika kata menjadi penentu, maka ada banyak rentetan atau alur yang mesti dilakukan sebagai sebuah proses menciptakan berita-berita berkualitas, berimbang dan sesuai fakta serta aktual.

Sesudah liputan selesai, pekerjaan belum berakhir. Teman-teman saya di dunia pers ini justru memulai sebuah perjuangan yang sederhana kita sebut dengan menulis.

Dalam jurnalistik, ada istilah lead atau teras berita.Saya jadi teringat sahabat senior sekaligus guru saya dalam menulis , Bang Almin Hatta (Jurnalis Senior Kalsel.) Bang Almin sering menyebutnya sebagai pintu depan sebuah rumah.

Perbincangan saya di sudut pintu redaksi, sambil rehat minum kopi bersama Bang Almin Hatta merupakan transformasi ilmu wartawan era 90-an dan 2000-an. Sungguh beruntung saya menimba ilmu di sudut-sudut ruangan sempit kantor pertama kali Koran Harian Radar Banjarmasin, di kawasan Kayu Tangi (seberang minimarket Tulip, yang sekarang bernama Glow).

Kata beliau jika pintunya menarik, orang akan masuk. Jika membosankan, pembaca mungkin pergi sebelum sempat memahami isi cerita.

Lead adalah kesan pertama. Maka wajar ia harus kuat, ringkas, tetapi tidak kehilangan rasa.

Lalu ada headline, wajah pertama sebuah berita.

Membuat judul terkadang lebih sulit daripada menulis isi berita itu sendiri. Sebab headline harus mampu merangkum keseluruhan cerita hanya dalam beberapa kata.

Tidak terlalu panjang. Tidak berlebihan. Tetapi cukup kuat untuk membuat orang berhenti sejenak dan membaca.

Di ruang redaksi juga ada istilah slug,semacam nama kecil untuk mengenali naskah berita.

Biasanya sederhana banjir-kalsel, pemilu-jakarta, atau harga-beras.

Tak kalah penting ialah dateline, penanda lokasi dan waktu sebuah berita lahir. Sederhana memang, tetapi ia membantu pembaca memahami konteks.

Kemudian ada byline, nama penulis berita.

Bagi sebagian wartawan, ini bukan soal popularitas. Melainkan tanggung jawab.

Karena ketika nama tercantum di bawah berita, sesungguhnya ada pesan diam, itulah saya berdiri di balik tulisan ini.

Begitu pula dengan caption, keterangan kecil di bawah foto.

Jangan pernah meremehkan caption.

Satu foto bisa ditafsirkan berbeda jika tanpa penjelasan yang tepat.

Dan di balik setiap gambar, ada pula credit title, penghormatan sederhana kepada fotografer yang mengabadikan momen.

Redaksi Adalah Tempat Waktu Seolah Berlari

Jika lapangan adalah tempat mencari cerita, maka redaksi adalah tempat cerita diproses.

Di ruang ini, waktu terasa berjalan lebih cepat. Ada satu istilah yang hampir selalu membuat wartawan waspada yang dikenal dengan sebutan deadline.

Tenggat waktu. Bagi orang luar, deadline mungkin sekadar batas jam. Tetapi bagi wartawan, ia seperti detak jam yang terus terdengar di kepala.

Menjelang tenggat, newsroom berubah menjadi ruang yang sibuk, telepon berbunyi, editor memberi revisi, reporter mengejar konfirmasi terakhir.

Semua itu terjadi di newsroom, dapur tempat berita dimasak sebelum sampai ke tangan pembaca.

Di balik berita yang tampak rapi, biasanya ada satu sosok penting, itulah yang biasa dipanggil redaktur. Pekerjaan bagaikan penjahit diam-diam.

Memotong kalimat yang terlalu panjang. Merapikan logika. Menjaga agar tulisan tetap tajam, tetapi tidak kehilangan rasa.

Kadang wartawan mengeluh karena tulisannya diedit habis-habisan.

Namun seiring waktu, kita belajar satu hal, tulisan yang baik hampir selalu lahir dari proses penyuntingan yang baik.

Tak Semua Berita Harus Kaku. Banyak orang mengira semua tulisan jurnalistik harus kering dan formal. Padahal tidak.

Ada straight news, berita cepat yang langsung menjawab unsur penting, dimulai daro siapa, apa, kapan, di mana, mengapa, dan bagaimana.

Tetapi ada pula feature, sebuah jenis tulisan yang lebih lentur, lebih manusiawi, bahkan kadang terasa puitis. Feature mengajak pembaca berjalan perlahan. Tidak tergesa. Ada beberapa contoh seperti dalam berita-berita di Economic Travelling.Com

Terkadang banyak sebutan dalam menggambarkan atay mengilustrasikan istilah tulisan dalam jurnalistik.Jika straight news adalah petir yang cepat menyambar, maka feature adalah hujan sore yang turun pelan-pelan.

Di media massa juga ada editorial, suara resmi redaksi terhadap isu tertentu.

Sementara kolom dan opini lebih personal ruang bagi seseorang menyampaikan gagasan dan cara pandangnya sendiri.Biasanya dari akademisi, pengamat hingga kolumnis.

Kemudian kita mengenal ada yang namanya advertorial, perpaduan antara promosi dan gaya jurnalistik.

Dan tentu saja, istilah eksklusif, ketika satu media berhasil mendapatkan cerita yang belum dimiliki media lain.

Bukan soal kebanggaan semata, tetapi soal kerja keras menemukan fakta lebih dahulu.

Di Era Digital, Semua Bergerak Lebih Cepat

Hari ini, jurnalistik bergerak di tengah arus digital yang nyaris tak pernah berhenti.

Wartawan dituntut menemukan angle sudut pandang yang membuat cerita terasa segar, meski peristiwanya sama.

Karena fakta boleh sama, tetapi cara melihatnya bisa berbeda.

Ada pula citizen journalism atau jurnalisme warga, ketika masyarakat ikut merekam, mengirim, bahkan menyebarkan informasi.

Namun, di tengah kemudahan itu, lahirlah tantangan baru bernama clickbait. Judul yang sengaja dibuat terlalu heboh demi menarik klik.

Padahal, kepercayaan pembaca jauh lebih mahal daripada angka kunjungan. Kita juga mengenal hard news dan soft news.

Hard news adalah berita keras—politik, ekonomi, hukum, bencana yang harus segera diketahui publik.

Sementara soft news lebih ringan,  wisata, budaya, kuliner, gaya hidup, atau kisah-kisah inspiratif.

Namun, apa pun jenisnya, satu hal tetap sama, berita harus berpijak pada fakta.

Jurnalisme Adalah Tentang Menjaga Akal Sehat

Dan benar anggapan jurnalistik bukan hanya tentang menulis cepat atau tampil di depan kamera.

Ia adalah pekerjaan sunyi menjaga akal sehat publik.

Istilah-istilah jurnalistik mungkin terdengar teknis. Tetapi di balik kata seperti lead, deadline, atau cover both sides, tersimpan filosofi yang jauh lebih besar, tanggung jawab.

Karena berita yang baik tidak lahir dari prasangka.

Ia lahir dari kesabaran mendengar, ketelitian memeriksa, dan keberanian mencari kebenaran.

Dan di tengah dunia yang semakin gaduh oleh informasi, mungkin kita perlu terus mengingat satu hal sederhana,

Bahwa jurnalisme yang baik bukanlah yang paling ramai terdengar, melainkan yang paling jujur menjaga makna.Karena itu juga berterima kasih dengan karya-karya jurnalistik mereka.

Penulis adalah Jurnalis Senior CNN Indonesia & Akademisi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!