Jogja yang Diam-Diam Mengajarkan Cara Menikmati Waktu
Catatan Perjalanan Menikmati Sepekan di Kota Istimewa
Oleh : Agung Febriyanto
Sudah lama saya ingin menulis tentang perjalanan ini.
Bukan karena Yogyakarta adalah kota wisata yang terkenal. Bukan pula karena tempat-tempatnya sedang ramai dibicarakan orang.
Tetapi karena ada sesuatu yang terasa berbeda selama sepekan berada di kota ini. Sesuatu yang sulit dijelaskan, namun perlahan menetap menjadi rasa.
Mungkin itu yang disebut rindu.
Perjalanan kali ini terasa begitu istimewa bagi saya. Setelah bertahun-tahun disibukkan pekerjaan, akhirnya saya dan istri bisa benar-benar menikmati waktu liburan berdua.
Tidak terburu-buru. Tidak mengejar target perjalanan. Tidak sibuk memikirkan pekerjaan yang biasanya terus menunggu di kepala.
Kami hanya ingin berjalan pelan. Menikmati waktu.
Dan Yogyakarta rupanya tahu persis bagaimana cara menyambut orang-orang yang datang dengan hati lelah.

Pagi pertama di Jogja, saya memilih memulai perjalanan dari tempat yang selama ini hanya sering saya lihat di televisi dan media sosial,Tugu Yogyakarta.
Jam masih menunjukkan sekitar pukul enam pagi ketika kami tiba. Udara terasa sejuk. Langit perlahan berubah warna dari biru gelap menuju keemasan. Kota belum benar-benar ramai.
Di sekitar tugu, beberapa wisatawan tampak sibuk mengambil gambar. Ada pula warga lokal yang sekadar duduk santai menikmati pagi. Becak kayuh sesekali melintas perlahan, seperti ikut menjaga ritme kota agar tetap berjalan tenang.
Saya berdiri cukup lama di sana. Entah kenapa, melihat Tugu Jogja secara langsung menghadirkan perasaan yang berbeda.
Ia tidak terlalu megah. Tidak pula berlebihan. Namun justru kesederhanaannya seperti menyimpan cerita panjang tentang sebuah kota yang tetap menjaga identitasnya di tengah zaman yang terus berubah.
Pagi itu terasa syahdu. Kami hanya berjalan pelan, sesekali tersenyum, sesekali berhenti untuk berfoto. Mungkin beginilah rasanya menikmati perjalanan tanpa tergesa.
Dari Tugu, langkah kami berlanjut menuju tempat yang seolah menjadi denyut nadi Yogyakarta Malioboro.
Kalau boleh jujur, saya sempat berpikir Malioboro mungkin hanya jalan biasa yang dilebih-lebihkan orang. Namun begitu kaki mulai menapaki pedestrian panjangnya, saya langsung mengerti mengapa tempat ini selalu dirindukan wisatawan.
Malioboro ternyata bukan sekadar jalan. Ia seperti panggung besar tempat berbagai cerita bertemu.
Suara langkah kaki bercampur petikan gitar pengamen jalanan. Aroma kopi dan makanan khas sesekali datang diterbangkan angin. Deretan toko oleh-oleh, batik, dan kerajinan khas berjajar seolah memanggil siapa saja untuk singgah.
Saya dan istri berjalan santai tanpa tujuan khusus.
Kadang berhenti melihat batik di Pasar Beringharjo. Kadang tertawa kecil saat pedagang menawarkan dagangannya dengan logat khas Jawa yang terdengar begitu ramah.
Tidak ada yang terburu-buru di sini. Orang-orang tampak menikmati waktu dengan caranya masing-masing. Dan anehnya, suasana itu menular.

Siang menjelang sore, kami mampir menikmati seporsi gudeg hangat yang sudah lama saya penasaran ingin coba. Rasanya manis, gurih, dan entah kenapa terasa cocok dengan suasana Jogja yang juga lembut.
Kata sahabat saya, Muhammad Risanta, Jurnalis Senior yang juga seorang Tour Guide nasional, Jogja memang punya cara sederhana membuat orang merasa nyaman.
Hari-hari berikutnya kami isi dengan menjelajahi sisi lain Kota Istimewa.
Keraton Yogyakarta menjadi salah satu tempat yang meninggalkan kesan mendalam. Begitu melangkah masuk, suasana terasa berubah. Ada ketenangan yang sulit dijelaskan.
Di sana waktu seperti berjalan lebih pelan. Bangunan-bangunan tua berdiri anggun, menyimpan sejarah panjang tentang kebudayaan Jawa yang tetap hidup hingga hari ini.
Saya membayangkan bagaimana dahulu para raja berjalan di lorong-lorong itu, bagaimana tradisi dijaga dengan penuh penghormatan.
Tidak jauh dari sana, kami juga menyempatkan diri melihat Museum Kereta Keraton.
Kereta-kereta tua dengan ukiran indah tersimpan rapi, masing-masing seperti membawa cerita masa lalu. Saya cukup lama memperhatikan detail-detail kecilnya. Rasanya seperti sedang membaca lembaran sejarah tanpa harus membuka buku.
Namun, perjalanan paling membekas justru datang di penghujung liburan. Hari itu kami memutuskan menuju selatan Jogja. Ke arah laut.
Ke tempat yang selama ini sering muncul di beranda media sosial.
Perjalanan menuju Pantai Parangtritis terasa menyenangkan. Jalan panjang membelah hamparan sawah dan perkampungan kecil. Sesekali terlihat perbukitan menghijau menemani perjalanan.
Ketika tiba, suara ombak langsung terdengar begitu kuat.
Parangtritis menyambut kami dengan angin laut yang kencang dan debur ombak khas Laut Selatan yang terasa gagah.
Saya dan istri berjalan perlahan menyusuri bibir pantai.
Pasir hitam terasa hangat di kaki. Langit sore mulai berubah warna. Sesekali kami hanya diam memandangi laut.
Aneh memang. Kadang kebahagiaan justru datang dari momen sesederhana itu. Tidak banyak bicara. Tidak sibuk membuka ponsel. Hanya menikmati semesta bersama orang yang kita sayangi.

Menjelang sore, perjalanan dilanjutkan menuju tempat yang belakangan ramai disebut-sebut orang yakni Obelix Sea View di Gunungkidul.
Perjalanan menuju lokasi cukup panjang, melewati jalanan menanjak, hamparan sawah, bukit-bukit hijau, dan udara yang perlahan terasa semakin dingin.
Namun semua rasa lelah langsung menghilang begitu kami sampai.
Saya sempat terdiam. Pemandangannya benar-benar indah.
Dari atas tebing, lautan luas membentang seperti tak berujung. Angin bertiup pelan, membawa aroma asin laut yang bercampur kesejukan senja.
Matahari perlahan turun. Langit berubah jingga. Dan suasana mendadak terasa begitu romantis.
Kami memilih duduk agak lama di salah satu sudut sambil menikmati makanan hangat. Di sekitar, orang-orang sibuk mengabadikan momen. Ada pasangan muda yang tertawa kecil. Ada keluarga yang menikmati makan malam. Ada suara live music yang samar terdengar ditemani semilir angin laut.
Namun bagi saya, momen terbaik justru ketika semuanya terasa hening.
Ketika saya menoleh ke istri, lalu sadar bahwa perjalanan sederhana ini ternyata sudah terlalu lama kami tunda. Barangkali hidup memang terlalu sering sibuk mengejar sesuatu.
Sampai lupa bahwa kebahagiaan sebenarnya kadang sesederhana pergi bersama orang tercinta, menikmati matahari tenggelam, tanpa perlu terburu-buru pulang.
Sepekan di Yogyakarta terasa berjalan terlalu cepat.
Ada banyak tempat yang kami kunjungi. Ada banyak foto yang tersimpan di galeri ponsel. Namun yang paling membekas justru bukan gambarnya.
Melainkan perasaannya. Perasaan tenang saat pagi di Tugu Jogja. Hangatnya berjalan di Malioboro. Teduhnya suasana Keraton. Debur ombak Parangtritis.
Dan langit senja di Obelix Sea View yang seperti menutup perjalanan kami dengan cara paling manis.
Kini ketika perjalanan sudah selesai dan saya kembali ke rutinitas, satu hal yang paling sering muncul justru rasa ingin kembali.
Karena Jogja memang seperti itu. Ia tidak pernah benar-benar selesai dikunjungi.
Jogja selalu meninggalkan ruang kecil di hati, lalu diam-diam membuat kita berkata pelan.“Suatu hari nanti, saya pasti kembali.”
*Penulis adalah Traveler dan Karyawan Swasta.
