Traveller Abby Tak Berhenti Mengajar di Alam

0
ABBY DI HUTAN 2

Abby saat memberikan arahan dan spirit kepada peserta pelatihan di alam terbuka. (Foto - Risanta).

Oleh: Muhammad Risanta

Bagi sebagian orang, perjalanan adalah tentang destinasi. Tentang menandai kota-kota yang pernah disinggahi, memburu lanskap indah, atau sekadar memenuhi hasrat petualangan.

Namun bagi Abby, perjalanan justru menjadi ruang belajar panjang tentang kehidupan dan lebih dari itu, ruang untuk berbagi manfaat kepada orang lain.

Perempuan kelahiran Jakarta ini mungkin dikenal sebagai seorang traveller yang kenyang pengalaman. Jejak langkahnya telah membawanya melintasi banyak daerah di Indonesia hingga berbagai belahan dunia.

Gunung, hutan, lembah, kawasan konservasi, hingga destinasi wisata minat khusus telah menjadi bagian dari hidupnya. Namun semakin jauh ia berjalan, semakin kuat pula keyakinannya bahwa pengalaman tidak boleh berhenti menjadi milik pribadi.

Ada satu hal yang selalu membuatnya terus bergerak yakni keinginan untuk menghadirkan manfaat.

“Perjalanan itu bukan hanya tentang melihat tempat baru, tetapi apa yang bisa kita tinggalkan untuk kebaikan,” begitu kira-kira filosofi hidup yang diam-diam ia jalani.

 

Belakangan, Abby memilih mendedikasikan dirinya untuk membangun negeri melalui jalur yang mungkin tak banyak orang pilih petualangan dan pendidikan alam.

Di tengah hiruk-pikuk industri wisata yang sering hanya bicara angka kunjungan, ia justru memikirkan kualitas manusia di baliknya.

Melalui Yayasan Elang Khatulistiwa Indonesia, Abby menuangkan berbagai ide dan gagasan dalam program-program nyata.

Yayasan itu menjadi ruang pengabdian, tempat mimpi-mimpinya tentang wisata berbasis alam yang profesional perlahan dibangun.

Fokusnya jelas meningkatkan kompetensi para pelaku wisata minat khusus.

Dalam berbagai diskusi dan bertemu langsung dengannya di sejumlah kegiatan, perempuan bersahaja ini ingin para pemandu wisata alam, porter, kelompok sadar wisata (Pokdarwis), hingga pengelola destinasi wisata berbasis alam memiliki kemampuan yang lebih baik, lebih aman, dan lebih profesional.

Baginya, kekayaan alam Indonesia tidak cukup hanya dipromosikan, tetapi juga harus dijaga melalui sumber daya manusia yang benar-benar siap.

Karena itu, Abby bersama rekan-rekannya tak pernah lelah mendorong pentingnya sertifikasi atau lisensi kompetensi bagi para pelaku wisata alam.

Menurutnya, sertifikasi bukan sekadar formalitas atau lembar pengakuan administratif.

Lebih dari itu, sertifikasi adalah bentuk tanggung jawab terhadap keselamatan wisatawan sekaligus penghormatan terhadap profesi itu sendiri.

Ia mencontohkan pentingnya sertifikasi Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP), seperti untuk Pemandu Wisata Alam Gua, alam terbuka, pegunungan, yang menjadi bukti bahwa seseorang memiliki kompetensi sesuai standar nasional.

 

Founder Elang Khatulistiwa Indonesia, Abby saat berkunjung ke kantor BNSP.(Foto – Dok Pribadi).

Sertifikasi, kata Abby, sangat penting untuk menjamin keamanan, profesionalisme, dan kualitas pelayanan.

Selain meningkatkan kepercayaan wisatawan, sertifikasi juga menjadi jaminan keselamatan di area-area dengan tingkat risiko tinggi, serta memastikan seluruh aktivitas berjalan sesuai regulasi hukum yang berlaku.

Di medan wisata minat khusus mulai dari gua, arung jeram, pendakian gunung, hingga ekspedisi alam liar kesalahan kecil bisa berujung fatal.

“Karena itu, kualitas seorang pemandu tidak boleh sekadar berdasarkan pengalaman lapangan, tetapi juga kemampuan terstandar,” katanya saat bertemu di Cikole Lembang, Jawa Barat.

Namun perjuangan Abby tentu tidak selalu mulus.

Bergerak secara mandiri, dengan sumber daya terbatas, bahkan sering mengandalkan finansial pribadi, menjadi tantangan yang tak ringan.

Banyak program dijalankan dengan semangat gotong royong dan kesamaan visi, bukan karena sokongan besar.

 

Abby dalam sebuah ekspedisi ke berbagai daerah di Indonesia (Foto – Dok Pribadi).

Ada masa ketika langkah terasa berat. Ada saat ketika idealisme diuji oleh kenyataan di lapangan. Tetapi kecintaannya terhadap negeri dan obsesinya untuk menghadirkan tenaga kerja wisata yang handal membuatnya memilih bertahan.

“Kita harus mandiri, tak ada pilihan untuk memberikan yang terbaik. Beruntung kami didukung teman-teman yang sama visi membawa perubahan terbaik untuk wisata minat khusus, terutama praktisi aktifnya. Ini butuh effort dan doa semuanya,” tutur Abby.

Kalimat itu sederhana, tetapi menggambarkan bagaimana perjuangan sering kali tidak dibangun oleh kemewahan fasilitas, melainkan oleh keyakinan yang tak mau padam.

Bagi Abby, mengajar tak harus selalu berada di ruang kelas. Alam adalah sekolah terbaik.

Gunung mengajarkan ketangguhan. Hutan mengajarkan kesabaran. Perjalanan mengajarkan empati. Dan manusia belajar paling baik ketika ia mengalami sendiri.

Karena itulah, hingga hari ini, Traveller Abby seolah tak pernah benar-benar berhenti mengajar di alam.Bahkan bulan depan ia diminta berbagi kisah dan pengalaman dengan sejumlah pencinta alam dan penggiat pariwisata di Timor Leste, dengan kapasitas sebagai Konsultan Pariwisata.

Memang Abby selalu berjalan, belajar, lalu kembali berbagi agar semakin banyak orang mampu menjaga alam dengan cara yang lebih bijak, profesional, dan penuh tanggung jawab.

Sebab baginya, petualangan terbaik bukan tentang seberapa jauh seseorang pergi, tetapi seberapa besar manfaat yang bisa ditinggalkan setelah perjalanan itu usai.

Penulis adalah Jurnalis Senior – Akademisi – Penggiat Pariwisata Nasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!